26 C
New York
06/07/2020
Aktual

Dekopin: Koperasi adalah Organisasi Bisnis

JAKARTA (Pos Sore) — Pembangunan koperasi Indonesia mengalami banyak kegagalan. Berbagai indikator menunjukan kondisi yang belum menggembirakan, seperti kontribusi pada PDB baru 2%, jumlah rata rata anggota per koperasi hanya 178 orang, dan kontribusi modal anggota lebih kecil dibanding modal luar.

“Kondisi ini menunjukan koperasi belum menjadi pelaku pembangunan secara nasional,” kata Agung Sudjatmoko, Ketua Harian Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) dalam focus group discution (FGD) bertajuk ‘Sistem Bisnis Koperasi’ yang diselenggarakan Dekopin bersama MPR.

Menurut Agung, penyebab itu semua adalah kesalahan negara yang tidak memberikan perlakuan dan keberpihakan yang sama antarpelaku usaha. Padahal, koperasi mempunyai semangat dan nilai kebersamaan dan kekeluargaan yang bisa menjamin pemerataan.

“Ke depan koperasi harus melakukan perubahan dari sebagai organisasi sosial menjadi organisasi bisnis yang tetap menjaga pelaksanaan nilai dan prinsip koperasinya. Tanpa perubahan koperasi akan semakin tertinggal jauh dari pelaku ekonomi lain,” ujar Agung.

Tantangan internal dan eksternal koperasi, lanjut Agung, memang besar. Tapi peluangnya juga besar. Jaminan keberhasilan bisnis koperasi, kata dia, ada jika ada perubahan mindset insan koperasi bahwa koperasi sebagai organisasi bisnis yg harus profesional dan mandiri.

Dalam kesempatan yang sama, Prof Dawam Raharjo lebih menyoroti dengan tajam tentang koperasi harus membangun bisnis riil untuk kesejahteran. Koperasi harus merebut peluang yang ada. Jika tidak dapat, harus dibangun keyakinan dan kepercayaan dari anggota dengan karya nyata dalam bidang bisnis yang mampu menjadi solusi permasalahan ekonomi anggotanya.

“Contohnya, harus dibangun koperasi konsumen BBM mampu menjadi pelaku distribusi BBM. Jangan hanya diberikan pada nonkoperasi yang kapitalistik dan jika koperasi yang diberikan kesempatan, maka akan memberikan keuntungan pada rakyat banyak dan usaha ini akan dikendalikan oleh banyak orang sehingga tidak akan ada penyimpangan dalam distribusi BBM,” ujar Prof Dawam.

Ia pun memberikan berbagai konsep yang dapat dilakukan untuk membangun bisnis koperasi yang besar dan kuat. Koperasi sawit rakyat, misalnya, yang mengusahakan pabrik pengolahan sawit, atau koperasi prosumen yang anggotanya produsen sekaligus konsumen, ataua juga koperasi jasa di mana semua koperasi tersebut jika membutuhkan modal maka dibangun koperasi.

“Dibangun bank koperasi yang beroperasi hanya sampai di tingkat provinsi atau sekunder. Hal ini untuk menjamin bahwa perputaran uang hanya di daerah tidak di tarik di pusat yang tidak menjamin pemerataan,” tandasnya.

Dari FGD tersebut, Dekopin dibei mandat untuk melakukan perubahan pendekatan pembangunan koperasi bukan hanya ekonomi saja tetapi juga menjadikan koperasi sebagai gerakan ideologi ekonomi gotong royong.

Selain itu, bisnis koperasi harus dibangun berdasarkan studi kelayakan yang baik, model bisnis yang menguntungkan dengan business plan yang terencana dan financial enginering yang seiring dengan perkembangan bisnis modern. (tety)

Related posts

LSM Muslim Gelar Turnamen Sepakbola untuk Anjal

Tety Polmasari

Instructions For Employing Virtual Personal Network

Tety Polmasari

Five Easy Tips about how to Work With Tricky People In A Project Operations Environment

Tety Polmasari

Leave a Comment