22.9 C
New York
29/05/2020
Aktual

Menkop Jadikan KUKM Tulang Punggung Ekonomi Indonesia

JAKARTA (Pos Sore) — Pada saat terjadi krisis 1998, perbankan banyak mengalami kebangkrutan, tetapi Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUKM) justru mampu menyelamatkan perekonomian Indonesia. Karena itu, sektor ini akan terus menjadi perhatian pemerintah agar ke depan menjadi tulang punggungnya perekonomian Indonesia.

“Saat itu perbankan banyak yang colaps karena kredit macetnya sampai 30 persen, pertumbuhan waktu itu tidak ada minus 13 persen. Nah untung ada koperasi dan ukm yang menyelamatkan perekonomian indonesia,” kata Puspayoga di sela-sela peninjauan pameran dalam rangka HUT kota Denpasar ke-228 di Bali, Sabtu (27/2).

Puspayoga mengatakan KUKM itu bagaimana pun harus diberi ‘sentuhan’ agar mereka bisa lebih produktif. Salah satunya, dengan memberikan bunga kredit usaha rakyat (KUR) yang lebih ringan. Komitmen itu, kata Menkop sudah ditujukkan dengan menurunkan bunga KUR dari 22 persen menjadi 9 persen dan bahkan bisa menjadi 7 persen pada tahun depan.

Pemerintah melihat KUR yang semula ditetapkan 22 persen untuk UKM dan 12 persen untuk pelaku usaha besar, meski di satu sisi meningkat pertumbuhan ekonomi, namun, di sisi lain ternyata angka kemiskinan tidak berkurang. Maka, menurut Puspayoga orientasi kebijakan ini harus dirubah dengan menitikberatkan pada prioritas UKM.

“Kalau kita bicara sederhana hitungan ekonomi kalau pinjam uang bayar Rp 22 ribu sekarang bayarnya Rp 9 ribu, berarti Rp 13 ribu untung sudah itu. Di samping untung dari usahanya,” ucap Menkop.

Dengan menggiatkan ekonomi kerakyatan, lanjut Puspayoga, masyarakat pasti berproduksi lagi. Kalau sudah berproduksi, otomatis omsetnya meningkat. Begitu pula kalau omset meningkat, maka tenaga kerjanya pasti juga akan meningkat.

“Ini adalah upaya riil dari pemerintah bagaimana menurunkan kemiskinan, karena semua negara tujuannya mensejahterakan masyarakatnya. Kalau kemiskinan tidak turun gak ada itu yang namanya kesejahtaraan masyarakat,” tegasnya.

Seharusnya pertumbuhan ekonomi yang meningkat diikuti pula dengan menurunnya angka kemiskinan supaya kesenjangan sosial (gini rasio) yang saat ini 0,41 persen tidak semakin melebar. Sehingga pertumbuhan naik yang harus kita kejar pemerataan kesejahtaraan, ada pengurangan kemiskinan. (tety)

Related posts

Hadapi MEA 2015, LIA Berkontribusi Tingkatkan Dayasaing Bangsa

Tety Polmasari

Protecting Your Site From Online Robbers – Component 3

Tety Polmasari

Sampaikan Duka, Jazuli Kutuk Serangan Bom Srilanka

Akhir Tanjung

Leave a Comment