BMKG Prakirakan Awal Musim Kemarau Terjadi pada Mei dan Juni 2016

JAKARTA (Pos Sore) — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan awal musim kemarau 2016 di sebagian besar wilayah Indonesia atau 283 Zona Musim (65,8%) terjadi pada Mei dan Juni 2016. Paling akhir ada 1 ZOM yang mengalami musim kemarau pada Oktober 2016.

“Berdasarkan Monitoring dinamika atmosfer BMKG menunjukkan El Nino kuat sudah terjadi sejak Agustus 2015, saat ini berada pada status Elnino Moderate dan diprediksi akan meluruh secara perlahan-lahan menjadi netral pada April – Mei 2016,” kata Kepala BMKG, Dr. Andi Eka Sakya, M. Eng, saat jumpa pers Prakiraan Musim Kemarau, di Kantor BMKG, Senin (14/3).

Turut mendampingi Deputi Bidang Meteorologi, Dr. Yunus Suabgyo Swarinoto, M. Si, Deputi Bidang Klimatologi, Mulyono Rahadi Prabowo, M. Sc, serta Kepala Pusat Iklim Agroklimat, dan Iklim Martim Dra. Nurhayati, M. Sc.

“Sering masyarakat lupa kalau kemarau itu bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Kemarau itu ada hujanya, tetapi di dalam ukuran tertentu jauh lebih rendah dari ambang batas yang kita tentukan sebagai musim hujan dan musim kemarau,” tambahnya.

Sementara La Nina diprediksi terjadi pada akhir tahun antara Oktober-Desember 2016. Pada periode tersebut bertepatan dengan periode awal musim hujan sehingga perlu diwaspadai peluang terjadinya curah hujan tinggi pada saat La Nina berlangsung.

Fenomena yang satu ini bagi Indonesia akan membuat curah hujan lebih tinggi dibandingkan normalnya sehingga bisa membawa dampak buruk sekaligus baik. Sebanyak 75 persen El Nino kuat biasanya diikuti dengan La Nina berintensitas moderat atau kuat.

Menurutnya, El Nino saat ini sudah semakin meluruh sehingga publik tidak perlu lagi mengkhawatirkan dampak El Nino. Hal yang harus diwaspadai saat ini adalah La Nina karena terkait dengan curah hujan berlebih.

El Nino adalah fenomena menghangatnya suhu muka laut di Samudra Pasifik area khatulistiwa yang memicu penurunan curah hujan di wilayah Indonesia, terutama di selatan khatulistiwa. Kondisi tersebut membuat kemarau panjang dan musim hujan terganggu. Sedangkan La Nina adalah fenomena mendinginnya suhu muka laut di Samudra Pasifik area khatulistiwa, yang mendorong bertambahnya suplai uap air bagi Indonesia.

La Nina diprediksi muncul bulan Oktober-Desember 2016 dengan peluang 50 persen. Itu bertepatan dengan awal musim hujan di sejumlah daerah. Kemungkinan adanya La Nina dapat meningkatkan jumlah curah hujan pada akhir musim kemarau 2016 sehingga kemungkinan menimbulkan apa yang disebut sebagai musim kemarau basah. Wilayah-wilayah yang berpeluang mengalami kemarau basah yaitu yang berada di selatan khatulistiwa, terutama wilayah Indonesia bagian tenggara.

“Karena La Nina, potensi banjir tentu lebih besar. Seberapa besar ya mengikuti indeks La Nina nanti,” ujar Andi. (tety)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this product!