16.5 C
New York
19/09/2020
Aktual

Anak Alergi Protein Susu Sapi Diperlukan Intervensi Nutrisi

nutritalk jkt13

JAKARTA (Pos Sore) — Anak-anak dengan kedua orang tua memiliki riwayat alergi memiliki risiko alergi sebesar 40%-60%. Risiko ini lebih besar lagi pada anak-anak dengan kedua orang tua yang memiliki riwayat alergi dan manifestasi sama, yaitu sebesar 60%-80%.

Prof. DR. Dr. Budi Setiabudiawan, SpA(K), MKes – Konsultan Alergi Imunologi Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran menjelaskan, anak dengan salah satu orang tua memiliki riwayat alergi berisiko mengalami alergi sebesar 20%-30%.

Jika saudara memiliki riwayat alergi, anak berisiko mengalami alergi sebesar 25%-30%. Bahkan anak dengan orang tua yang tidak memiliki riwayat alergi pun berisiko mengalami alergi sebesar 5%-15%.

“Sebesar apapun risiko alergi yang dimiliki anak, penanganan sedini mungkin perlu ditempuh, sehingga anak terhindar dari dampak jangka panjang alergi dan tumbuh kembang tidak terhambat,” tegasnya dalam diskusi Nutritalk bertema ‘Early Life Nutrition: Dasar-dasar dan Pedoman Praktis Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak dengan Alergi Protein Susu Sapi’, yang diadakan Sarihusada, di Jakarta, Kamis (24/3).

Ia menambahkan, khusus untuk anak-anak dengan risiko tinggi alergi karena riwayat orang tua, diperlukan pengawasan yang lebih intens untuk memastikan tumbuh-kembang anak yang optimal. Pengawasan tersebut termasuk memantau dan mengenali gejala klinis alergi, mengenali alergen pemicu, serta melakukan intervensi nutrisi berupa memantau asupan nutrisi dan mengganti asupan nutrisi dengan nutrisi yang lebih mudah dicerna dan well tolerated.

Menurutnya, intervensi nutrisi yang dapat dilakukan terhadap anak-anak dengan risiko tidak toleran terhadap protein susu sapi, salah satunya adalah pemberian nutrisi dengan protein terhidrolisasi parsial. Ini adalah hasil dari teknologi yang memotong panjang rantai protein menjadi lebih pendek dan memperkecil ukuran massa molekul protein sehingga protein akan lebih mudah dicerna dan diterima oleh anak.

“Teknologi ini memungkinkan anak yang tidak toleran terhadap protein susu sapi, dapat tetap memperoleh nutrisi dengan asupan protein yang dibutuhkan untuk mendukung tercapainya pertumbuhan yang optimal,” jelasnya.

Dengan rantai yang lebih pendek dan ukuran massa molekul yang lebih kecil, tidak berarti kandungan nutrisi protein terhidrolisis parsial berkurang. Sebaliknya rantai yang lebih pendek dan ukuran massa molekul yang lebih kecil memudahkan nutrisi yang dikandung dicerna dan diserap.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sendiri merekomendasikan pemberian nutrisi dengan protein terhidrolisis parsial sebagai salah satu langkah praktis dalam upaya intervensi nutrisi bagi anak dengan faktor risiko tidak toleran protein susu sapi. IDAI beralasan protein tersebut lebih mudah dicerna dan diterima oleh anak.

Namun apabila anak telah untolerant terhadap protein susu sapi, maka nutrisi dengan protein terhidrolis parsial sudah tidak efektif digunakan. Salah satu alternatif pemberian nutrisi yang efektif bagi anak-anak yang mengalami alergi protein susu sapi adalah formula dengan isolat protein kedelai.

“Sejumlah penelitian telah membuktikan bahwa pola pertumbuhan, kesehatan tulang dan fungsi metabolisme, fungsi reproduksi, endokrin, imunitas, dan sistem saraf dari anak-anak pengkonsumsi formula dengan isolat protein kedelai tidak berbeda secara signifikan dengan anak-anak yang mengkonsumsi susu sapi,” ujar Prof. DR. Dr. Budi Setiabudiawan, SpA(K), MKes.

Prof. DR. Dr. Budi Setiabudiawan, SpA(K), MKes menambahkan, tidak saja menjadi opsi yang terjangkau, formula dengan isolat protein kedelai dapat djadikan pilihan yang aman bagi anak dengan alergi protein susu sapi, karena dapat ditoleransi dengan baik.

“Selain itu, di Indonesia formula kedelai merupakan asupan yang disukai karena rasanya yang enak,” tambahnya.

Pada Nutritalk kali ini juga diperkenalkan Kartu Deteksi Dini UKK Alergi Imunologi yang diterbitkan oleh Ikata Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Arif Mujahiddin, Head of Corporate Affairs Sarihusada, menerangkan, kartu yang memuat nilai risiko keluarga pada ayah, ibu, dan saudara kandung ini dapat membantu orang tua untuk menghitung risiko alergi pada anak, sehingga penanganan alergi dapat dilakukan sedini mungkin dan sekomperehensif mungkin.

“Kami membantu memperkenalkan tool dan menyelenggarakan diskusi nutrisi ini sebagai bagian dari komitmen kami memberikan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai alergi dan langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan,” tambahnya. (tety)

Related posts

1000 Seniman Lukis Meriahkan HUT ke-244 Kab Gianyar

Tety Polmasari

Pilkada Serentak 2017, Menag: Kerukunan Beragam Harus Dijaga

Tety Polmasari

Komunitas Rantau Sibolga Tapanuli Sepakat Bangun PLTA Aek Sirahar

Tety Polmasari

Leave a Comment