Jika Tidak Ditangani, Anak Alergi Protein Susu Sapi Alami Gagal Tumbuh

Minggu, 27 Mar 2016

susu

JAKARTA (Pos Sore) — Nutrisi awal kehidupan, yaitu nutrisi yang diterima anak sejak dalam kandungan sampai sekitar usia dua tahun, memiliki peran sangat besar pada kualitas tumbuh kembang anak dan tingkat kesehatan pada usia dewasa.

“Namun ada asupan nutrisi tertentu pada awal kehidupan, yang sebenarnya mengandung gizi yang dibutuhkan untuk mendukung tumbuh-kembang yang optimal, tapi tidak bisa ditoleransi oleh anak-anak dengan risiko alergi,” ungkap DR. Dr. Rini Sekartini, SpA(K) Konsultan Tumbuh Kembang Anak RSCM Jakarta.

Ia menegaskan hal itu dalam diskusi Nutritalk bertema ‘Early Life Nutrition: Dasar-dasar dan Pedoman Praktis Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak dengan Alergi Protein Susu Sapi’, yang diadakan Sarihusada, di Jakarta, Kamis (24/3).

Ia menjelaskan, anak-anak dengan risiko alergi protein susu sapi akan memberikan reaksi abnormal terhadap asupan nutrisi yang mengandung protein susu sapi karena interaksi antara satu atau lebih protein susu dengan satu atau lebih mekanisme kekebalan tubuh.

Pada awal kehidupan, asupan nutrisi yang mengandung protein susu sapi dapat berupa MPASI, makanan seimbang, maupun ASI dari ibu yang mengkonsumsi nutrisi yang mengandung protein susu sapi.

Karenanya, dibutuhkan intervensi nutrisi yang tepat bagi anak-anak dengan risiko tidak toleran terhadap protein susu sapi, sehingga anak terhindar dari alergen pemicu, tapi tetap memperoleh nutrisi yang dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang yang optimal.

Susu sapi menjadi salah satu sumber protein yang cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Dengan protein susu, pertumbuhan dan perkembangan anak akan jauh lebih optimal.

“Melalui susu sapi, kebutuhan protein bisa terpenuhi dengan baik. Sebab jika mengandalkan protein nabati, kita harus mengkonsumsi dalam jumlah yang jauh lebih banyak dan berlipat-lipat,” jelasnya

Sayangnya, tidak semua anak bisa mengonsumsi susu sapi akibat alergi terhadap protein susu sapi. Akibatnya selain air susu ibu (ASI) anak dengan alergi susu sapi hanya bisa mengandalkan bantuan protein bersumber nabati.

“Anak dengan alergi protein susu sapi akan menampakkan gejala seperti kulit merah, muntah, diare dan lainnya saat mengonsumsi susu sapi dan produk turunannya. Padahal susu sapi terdapat pada makanan pendamping ASI dan makanan bayi lainnya,” paparnya.

Pada kasus anak dengan alergi protein susu sapi, Dr Rini mengingatkan agar orangtua lebih waspada. Karena alergi susu sapi jika tidak dicarikan solusi, anak akan kekurangan gizi dan pada akhirnya mengalami apa yang disebut gagal tumbuh. Artinya tubuh akan tumbuh tidak normal seperti lebih pendek atau lebih kecil serta tingkat kecerdasan juga tidak berkembang dengan baik.

“Karenanya, dibutuhkan intervensi nutrisi yang tepat. Salah satunya adalah pemberian nutrisi dengan protein terhidrolisasi parsial” tandasnya.

Protein terhidrolisasi parsial adalah hasil teknologi yang memotong panjang rantai protein menjadi lebih pendek dan memperkecil ukuran massa molekul protein sehingga protein akan lebih mudah dicerna dan diterima anak.

Teknologi ini memungkinkan anak yang tidak toleran terhadap protein susu sapi dapat tetap memperoleh nutrisi dengan asupan protein yang dibutuhkan untuk mendukung tercapainya pertumbuhan yang optimal.

Dengan rantai yang lebih pendek dan ukuran massa molekul yang lebih kecil tidak berarti kandungan nutrisi protein terhidrolisasi parsial berkurang. Sebaliknya rantai yang lebih pendek dan ukuran massa molekul yang lebih kecil memudahkan nutrisi yang dikandung mudah dicerna dan diserap. (tety)