Revitalisasi Nilai, Sumber Utama Kemajuan Negara

Minggu, 3 Apr 2016

IMG-20160403-WA0000

JAKARTA (Pos Sore) — Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) kembali melaksanakan Diskusi Panel Serial ke-10 dengan tema ‘Referensi Global’. Tema ini diangkat karena meski masuknya budaya asing ke satu negara adalah wajar, namun jangan sampai hanyut mengikuti budaya asing yang masuk, sehingga budaya nasional memudar.

Studi kasus di Indonesia menunjukkan hal demikian. Pengaruh budaya asing menjadikan negara hanyut mengikuti budaya asing yang masuk, khususnya terhadap budaya Amerika. Jika dalam taraf awal pengaruh tersebut dimulai dari film-film Holywood, maka kini pengaruh tersebut sudah merasuk dalam bidang politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, militer, dan sistem hukum Indonesia.

Bahkan pada era reformasi ini, ide-ide liberalisme masuk dalam pasal-pasal amandemen UUD 1945. ‘Pasal-pasal Amerika’ ini ternyata bertentangan dengan dasar dan idiologi negara yang dimiliki bangsa ini.

“Karena itu, kita perlu memberikan perhatian khusus terhadap kebudayaan, agar kita tidak hanyut mengikuti budaya asing yang masuk,” tegas Pembina YSNB Pontjo Sutowo, di Jakarta, Sabtu (2/4).

Dr. Irid Farida Rachman Agoes, M.A., Ph.D, dosen Universitas Indonesia, yang menjadi narasumber dalam diskusi itu, mengatakan, sebenarnya pendirian negara Amerika Serikat memiliki sejarah yang hampir sama dengan Indonesia. Yaitu sama-sama memerdekakan diri dari pihak penjajah.

Bedanya, Amerika mengembangkan budaya individualism dan Indonesia budaya kolektifitas. Indeks individualism budaya Amerika adalah 91, sedangkan indeks individualism budaya Indonesia hanya memiliki skor 14.

Namun demikian, budaya individualism dan budaya kolektifitas ini bukan penentu maju tidaknya suatu negara. Negara dengan budaya kolektifitas juga dapat maju seperti misalnya budaya Singapura yang juga memiliki budaya kolektifitas karena indeks individualismnya memiliki skor 20.

“Kemajuan pada dasarnya dapat dicapai dengan mampunya sebuah negara memaksimalkan nilai positif budaya yang ada dan meminimalisasi nilai negatif budaya yang ada”, kata Irid, adik kandung Prof. Dr. Arief Rachman, pakar pendidikan Indonesia.

Sementara itu, pemerhati budaya, A. Dahana, yang juga menjadi narasumber dalam diskusi itu memaparkan kemampuan Cina yang tidak hanyut terhadap budaya asing. Ini karena Cina mampu menerapkan konsep kepribadian nasional sebagai dasar dan teknologi Barat sebagai alat praktis.

“Dapat dikatakan jika kemajuan Cina pada saat ini diperoleh karena Cina menerapkan politik dendam sejarah atas satu abad penghinaan nasional, sebagai motivasi kebangkitan Negara,” urai dosen Universitas Indonesia itu.

Tanah Abang-20160402-02228

Staf Pengajar pada Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Indonesia Dr. Eva Latifah memberikan contoh bangsa Korea yang memiliki sifat homogen. Sebagai bangsa yang homogen, maka budaya bangsa Korea menjadi mudah dipertahankan, dari serbuan budaya asing.

“Dan sebagaimana Indonesia, Korea juga memiliki budaya kolektif. Karena memiliki budaya yang homogen, Korea awalnya menjadi bangsa yang sulit berubah. Sehingga perubahan yang terjadi baru tercapai selepas tahun 1970. Perubahan ini terjadi setelah Korea mampu merevitalisasi nilai-nilai Korea, di antaranya revolusi dalam bidang pendidikan,” paparnya.

Karena itu, dapat dikatakan jika dengan keberhasilannya merevitalisasi nilai-nilai Korea, Korea berhasil membuat bangsa Korea berubah. Tidak saja membendung masuknya budaya asing yang juga terjadi di Korea, namun menggunakannya untuk menyebarkan budaya Korea ke seluruh dunia.

“Revitasilasi nilai-nilai ala Korea ini kiranya dapat dicontoh negara Indonesia, agar dapat segera mengalami kemajuan,” tambahnya. (tety)