SEMANGAT KARTINI HARUS MEMICU KEMAJUAN

Senin, 18 Apr 2016
Raden Ajeng Kartini

Oleh Prof. Dr. Haryono Suyono

BEBERAPA hari lagi kita akan memperingati Hari Lahir Ibu kita Kartini, 21 April 2016. Biasanya kita memberi komentar pada hari lahir Ibu Kita Kartini itu sebagai momentum untuk memicu semangat kaum perempuan untuk maju menjadi lebih sejajar dengan kaum lelaki. Kesempatan itu tetap kita pergunakan agar kaum perempuan mendapat dorongan yang kuat untuk belajar dengan lebih gigih, bekerja lebih keras dan akhirnya mencapai prestasi yang lebih terhormat sejajar dengan lebih membanggakan bersama warga terhormat lainnya. Kita mendorong agar kaum perempuan bisa berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi untuk nusa dan bangsa.

Kepeloporan Ki Hadjar Dewantoro, Ki Ahmad Dahlan dan para pelopor pendidikan dan pengajaran di masa lalu telah dengan tegas diarahkan pada pendidikan massal bagi semua anak didik yang hasilnya sungguh luar biasa. Anak laki-laki dan perempuan dengan semangat yang tinggi pergi sekolah dan tidak jarang mereka menjadi tokoh-tokoh perjuangan di masa lalu dengan tingkat intelektual yang sangat tinggi. Karya-karya nyatanya sungguh luar biasa dan tidak jarang disertai dengan dasar falsafah yang digali dengan kasih sayang dari lubuk yang dalam budaya bangsa sehingga muncul sebagai ilmu yang dilandasi tata nilai yang tinggi dan jarang bisa ditandingi oleh karya-karya baru yang tidak lagi sarat dengan galian tata nilai yang tinggi itu. Suatu peninggalan anak bangsa yang sungguh luar biasa.

Seperti bunga Kemuning yang sedang mekar, biarpun ujudnya tidak seberapa, tetapi harumnya menyebar sangat luas dan lama. Harumnya kemuning itu mungkin tidak disertai dengan keindahan warna bunganya yang sifatnya masih tradisional diselimuti daunnya yang sangat rindang, hampir semua bunganya tersembunyi, tetapi harumnya meluas jauh melampaui keindahan bunga yang masih tetap tersembunyi dalam rindangnya dedaunan yang meliputi keindahanan alamiah yang tersembunyi itu. Berbeda dengan penampilan kita dimasa kini yang gemerlapan tetapi kadang harumnya tidak lagi orisionil karena sudah dipadu dengan wewangian kosmetik yang dibuat oleh pabrikan yang menyengatkan bau asing yang “terpaksa” kita puji karena dibeli dengan harga yang mahal.

Semangat anak-anak pada masa itulah antara lain yang memaksa para orang tua mengirim anak-anak laki-laki dan perempuan mereka ke sekolah. Mereka melihat bahwa anak-anak ternyata memiliki semangat sekolah yang tinggi dan tidak mau tinggal diam di rumah. Anak perempuan berbondong juga ke sekolah seperti saudaranya anak laki-laki. Akibatnya, orang tua yang mau menahan anak laki-laki ikut bekerja membantu orang tua di sawah dengan berat hati melepas anak laki-lakinya ke sekolah. Mereka takut bahwa di masa depan anak laki-lakinya tidak lagi bisa mengambil tanggung jawab keluarga karena tidak sekolah. Semangat anak-anak perempuan itulah salah satu pendorong para orang tua, umumnya para bapak di masa lalu “mengorbankan” keinginannya menahan anak laki-laki menjadi pembantu terpercaya di sawah membantu mengerjakan dan menanam tanaman di sawahnya.

Pengorbanan kaum bapak di masa lalu itulah yang kemudian menghasilkan budaya baru bahwa anak laki-laki harus sekolah dan menjadi kepala rumah tangga melebihi harapannya untuk anak perempuan. Namun demikian, semangat anak perempuan ternyata tidak mengendor biarpun anak laki-laki mendapat “keuntungan” harapan yang lebih tinggi dibanding anak perempuan. Perpacuan dan lomba antar anak laki-laki dan perempuan itu berlangsung terus sehingga di setiap jenjang pendidikan, baik pada tingkat dasar maupun pada tingkat menengah, atas dan perguruan tinggi selalu saja terjadi lomba antar anak lelaki dan anak perempuan dalam mencapai prestasi pada setiap jenjang pendidikan yang mereka tempuh bersama. Dari pengamatan sekilas pada umumnya anak perempuan menempati ranking yang tinggi dibanding dengan anak lelaki, tetapi selalu saja anak lelaki dianggap menempati ranking yang tinggi.

Anggapan seperti itu bagus karena tingkat pencapaian kaum perempuan mendorong dan memaksa kaum lelaki untuk maju dan mengambil tanggung jawab bagi keluarga yang kelak dibangunnya. Kaum lelaki diharapkan tetap maju di depan sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab terhadap masa depan seluruh keluarganya. Kaum lelaki diharapkan tetap mengambil kendali terhadap arah dan pembinaan keluarganya. Namun, dengan kualitas yang makin tinggi kaum perempuan berdiri dengan tegar dan penuh tanggung jawab mengantar keluarganya dengan penuh kasih sayang sepanjang masa.

Untuk sebagian kaum perempuan yang berpikiran maju, keadaan ini tidak membawa akibat yang merugikan. Kaum perempuan kelompok ini, biarpun keduanya harus berdiri di belakang layar tidak menganggap janggal atau harus memberikan protes keras dan memberontak. Mereka maju dan tidak sedikit berani berdiri di depan sebagai pemimpin keluarga atau bahkan ikut aktif menjadi pemimpin bangsa. Mereka bekerja maju sebagai pemimpin di kantor dan perusahaan dan dengan tegar memimpin keluarganya sebagai komandan lapangan. Bahkan tidak jarang mereka sanggup mengorbankan diri menjadi pemimpin keluarga secara paripurna.

Tapi bagi sebagian kaum perempuan, lebih-lebih kaum perempuan dari keluarga prasejahtera, atau keluarga kurang mampu, penempatan kaum laki-laki sebagai “kepala keluarga” itu diterima sebagai suatu hukum yang mengharuskan mereka kaum perempuan tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi karena akhirnya harus tinggal di dapur atau di rumah mengurus anak dan seluruh pelayanan keluarganya. Mereka tidak perlu cerdas atau mampu menjadi kepala keluarga yang mengatur “politik”, “manajemen” dan “kemajuan” seluruh anggota keluarganya.

Akibatnya banyak kaum perempuan di tingkat pedesaan berhenti belajar pada saat mereka baru menamatkan pendidikan dasarnya saja. Hidup mereka berakhir dengan tingkat pendidikan yang rendah dan karena itu hidupnya hanya dipersiapkan guna menunggu sampai di lamar menjadi istri dengan dasar pendidikan yang rendah. Mereka mengakhiri hidupnya dengan cita-cita yang rendah atau “menerima” hidup apa adanya. Jumlah kaum perempuan seperti ini banyak sekali sehingga apabila tidak mendapatkan lamaran dari pria dengan tingkat masa depan yang cemerlang, mereka akan menerima pekerjaan sebagai tenaga kerja pada tingkat pembantu di luar negeri atau pekerja domestik yang terbatas.

Oleh karena itu, keberhasilan kaum perempuan dewasa ini, masih menyisakan banyak sekali beban pada tingkat pedesaan yang sebagian diwariskan oleh anggapan bahwa kaum perempuan perannya ada pada bagian domestik. Sisa-sisa yang masih banyak itu perlu segera diselesaikan dengan baik karena kaum perempuan sesungguhnya di masa lalu dan di masa sekarang telah berhasil menjadi pemicu kemajuan seluruh kaum dan seluruh keluarga. Selamat memperingati Hari Kartini 2016 dan tetap ceria. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Sosiolog mantan Menko Kesra dan Taskin).