Semakin Banyak UKM ‘Naik Kelas’ Berkat Bantuan LPDB Kementerian Koperasi dan UKM

Minggu, 1 Mei 2016

dirut

    Direktur Utama LPDB-KUMKM, Kemas Danial

MADE Ngurah Bagiana, seorang putra kelahiran Bali, yang merintis usaha waralaba Edam Burger dari nol kini bisa menikmati hasil jerih payahnya. Saya masih ingat ia mendapatkan plafond pinjaman dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah (LPDB-KUMKM) Kementerian Koperasi dan UKM sebesar Rp900 juta pada 2011 saat peringatan Hari Koperasi Nasional Tahun 2011, di Gedung Istora Senayan Jakarta, Selasa (12/7).

Pada acara yang bertema ‘Koperasi Kuat Rakyat Sejahtera’, Menteri Negara Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan menyerahkan pinjaman kepada pemilik usaha Edam Burger, Made Ngurah Bagiana di hadapan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, jajaran Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, para Duta Besar serta tamu undangan lainnya pada peringatan Hari Koperasi ke-64.

Hingga kini, usahanya terus berkembang. Berbagai sarana menjual burger telah ia miliki. Counter tetap, dorong, becak dan sepeda motor. Usahanya kian berkembang menjadi bentuk kemitraan yang temyata menuai sukses besar. Sekarang usahanya telah memiliki 13 home industry, 25 distributor, 3500 mitra counter, gerobak dan pedagang kaki lima (PKL) keliling, cafe dan resto yang tersebar di seluruh Indonesia.

Pinjaman/pembiayaan dari LPDB-KUMKM tersebut dipergunakan oleh pengusaha Edam Burger tersebut untuk menghadirkan 360 gerobak baru sebagai upaya pengembangan usaha dalam bentuk Franchisor sekaligus penyerapan tenaga kerja di Indonesia.

Burger lokal asli buatan anak bangsa yang dikelolanya sejak 1990 itu memang sesuai dengan cita rasa lidah orang Indonesia di olah dari bahan-bahan pilihan dengan bumbu yang khas sehingga membuat mulut orang yang mencicipinya ingin tambah lagi tambah lagi tambah teruuuss…

Itu salah satu contoh, bagaimana usaha yang mendapatkan bantuan dana bergulir itu merasakan manfaatnya yang hingga kini tetap eksis, bahkan mampu membuka lapangan pekerjaan buat yang lain. Bantuan dana bergulir ini membawa usaha Edam Burger ‘naik kelas’. Contoh yang membanggakan, meski bantuan itu didapatnya 5 tahun silam.

“Seperti filosofi saya pada awalnya, saya menjalani hidup ini seperti air. Tak ada rencana muluk ke depan. Yang penting saya melakukan yang terbaik dari waktu ke waktu. Dan ternyata strategi saya membuahkan hasil,” Made Ngurah Bagiana – Pendiri Burger Edam yang dikutip dalam laman resminya.

Jika Made mendapatkan bantuan dana bergulir pada 2011, beda lagi dengan Herman Halim yang mendapatkan bantuan serupa dengan nilai Rp3 miliar pada 2014. Berkat bantuan yang didapatkannya ini, wajah Herman Halim selalu sumringah. Senyumnya terus tersungging. Hasil budidaya ikan kerapu yang dikelola Direktur Utama CV Samudera Sejati ini rupanya memberikan keuntungan yang luar biasa bagi dirinya dan rekannya. Ia mengembangkan bisnis ini di kawasan Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Hasil budidaya ikan kerapu ini sudah merambah pasar Hong Kong. Ikan kerapu yang diekspor ke negara itu antara lain kerapu cantik, kerapu cantrang, kerapu bebek, dan kerapu sunu. Setiap kali musim panen, kapal asal negara tersebut sudah bersadar di kawasan Mandeh untuk mengangkut hasil panen. Ikan-ikan yang memiliki nilai harga jual tinggi itu bisa mengantongi penghasilan rata-rata dari setiap panen mencapai Rp3 miliar, sedangkan keuntungan bersih setelah dipotong biaya operasional berkisar Rp300 juta.

Herman mengawali bisnis ini pada 2011 dengan modal awal sebesar Rp 3 miliar. Ia melihat bisnis ikan kerapu sangat menjanjikan kentungan besar. Di tahun pertama usaha yang digelutinya mengalami banyak kerugian karena manajemen pembibitan belum sepenuhnya dikuasai. Ikan kerapu memang tetap diekspor tapi tak banyak, hanya sekitar 6 ton sampai 7 ton.

Setelah melakukan perbaikan manajemen, lama-lama Herman mampu memutar kembali modalnya hingga sanggup menyewa pulau sendiri yang dijadikan sebagai tempat budidaya, serta mempekerjakan 50 karyawan.

Saat mengalami masa sulit pada 2014, ia mendapatkan tambahan modal dari lembaga itu sebesar Rp3 miliar. Karenanya, ia sangat berterima kasih kepada LPDB, karena berkat bantuan lembaga ini usahanya kembali bergairah. Selama 5 tahun ia harus mengembalikan dengan cicilan Rp50 juta per bulan dengan bunga kredit sebesar 6 persen per tahun. Bunga ini dinilainya masih sangat rendah jika dibandingkan dengan bunga kredit bank.

“Nanti kalau sudah lunas, kami mau mengajukan lagi, mudah-mudahan tidak ada halangan,” kata Herman semangat.

Bantuan Dana Bergulir kepada Koperasi
Bagaimana dengan koperasi? Pada Mei ini, LPDB KUMKM menyalurkan kredit kepada dua koperasi di Bali. Koperasi Pedagang Pasar Kamboja mendapat kredit Rp9 miliar dan Koperasi Pasar Kumbasari memperoleh kredit sebesar Rp15 miliar. Dana bergulir tersebut akan disalurkan kepada 1.258 pedagang korban kebakaran Pasar Badung beberapa waktu lalu. Karena mereka korban bencana kebakaran, maka LPDB menggunakan special rate, yaitu 0,125 persen perbulan atau sekitar 3 persen pertahun.

IMG-20160501-WA0008

“Pedagang pasar di pasar tradisional di seluruh Indonesia harus menjadi prioritas bagi LPDB dalam penyaluran dana bergulir. Semakin banyak LPDB menyalurkan kredit ke koperasi, maka ekonomi kerakyatan bisa lebih berkembang. Karena, ekonomi kerakyatan itu identik dengan pasar tradisional,” kata Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga pada peresmian relokasi pedagang Pasar Badung korban kebakaran ke eks Tiara Grosir, Kota Denpasar, Minggu (1/5).

Menurutnya, bunga kredit dari LPDB sebesar 0,1% bagi koperasi pedagang Pasar Badung, sangat murah. Menkop meminta koperasi menyalurkan kreditnya kepada pedagang khususnya yang terkena musibah, jangan lebih dari 0,45%. “Dan ini yang pertama di Indonesia, koperasi di Bali bisa memberikan bunga kredit yang sangat ringan,” kata Puspayoga.‎

Dalam kesempatan yang sama, Dirut LPDB-KUMKM Kemas Danial menjelaskan, dua koperasi yang beroperasi di Pasar Badung tersebut, selama ini dianggap memiliki kinerja baik. ‎Sementara untuk pedagangnya, ada yang mendapat kredit antara Rp5 juta hingga Rp10 juta. Bahkan, ada beberapa pedagang yang bisa mendapat kredit sebesar Rp100 juta hingga Rp300 juta.

“Kredit dari LPDB itu untuk modal kerja bagi pedagang yang terkena musibah. Siapa-siapa yang mendapatkannya, tergantung dari verifikasi pengurus koperasi pasar. Jangan sampai yang bukan terkena musibah kebakaran juga mendapat kredit LPDB,” ujarnya.

Sedangkan untuk pedagang korban Pasar Ubud, Kemas mengakui pihaknya tengah menunggu pengajuan bantuan dana bergulir dari koperasi pasar disana. “Koperasi pasar di sana sedang me-list pedagang yang benar-benar terkena musibah kebakaran. Skim seperti di Pasar Badung juga akan diterapkan untuk pedagang di Pasar Ubud,” jelas Kemas.

Kemas menambahkan, sepanjang Tahun Anggaran 2016, LPDB KUMKM sudah menyalurkan dana bergulir di Provinsi Bali sebesar Rp49 miliar dengan 13 mitra. Sementara secara total hingga 22 April 2016, LPBD sudah menyalurkan sebesar Rp391,19 miliar untuk 46.172 UMKM dan 184 mitra.

Ya, begitulah lika liku pelaku UKM dan koperaso bergelut dalam bisnisnya. Jika berkaca pada krisis ekonomi yang pernah menimpa bangsa ini, maka dapat diyakini UKM-lah yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Ketika sektor lain bertumbangan, justeru sektor UKM tetap berdiri kokoh, yang bisa jadi karena pondasinya yang kuat. Sektor UKM-lah yang mampu menghidupkan ekonomi kerakyatan, yang menggeliatkan kemandirian secara personal.

Maka tidaklah salah jika Kementerian Koperasi dan UKM menaruh perhatian lebih pada sektor UKM. Sejumlah program digulirkan untuk semakin memperkuat pondasi ekonomi kerakyatan ini. Sehingga seandainya terjadi krisis ekonomi (lagi), perekonomian Indonesia tetap akan kuat karena UMKM yang dimiliki bangsa ini juga kuat.

Program Unggulan
Salah satu program penguatan UKM yang dilakukan Kementerian Koperasi UKM yaitu dengan memberikan bantuan dana bergulir. Tujuannya, untuk memberdayakan dan menumbuhkan lebih banyak pengusaha sektor riil. Diharapkan dengan bantuan dana yang digulirkan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Kemenkop UKM ini semakin banyak UKM naik kelas.

Dan, bantuan dana bergulir ini menjadi salah satu program unggulan kementerian yang dipimpin AAGN Puspayoga. Disebut bergulir karena kredit diberikan secara bergilir kepada koperasi dan UKM. Terutama kepada koperasi dan pelaku UKM yang oleh bank dinilai belum layak mendapatkan kredit usaha. Padahal agar dapat berkembang, pengusaha kecil tetap membutuhkan kredit untuk menambah modal kerjanya.

“Sekitar 30% sampai 60% pelaku UKM yang jumlahnya mencapai 58 juta belum bankable. Kami hadir membantu permodalan masyarakat untuk usaha-usaha produktif,” jelas Direktur Utama LPDB-KUMKM, Kemas Danial.

Sejak tahun 2008, LPDB telah menyalurkan dana bergulir sebesar Rp6,3 triliun kepada lebih dari 4.000 mitra yang tersebar di Indonesia. Bunga yang ditawarkan cukup kompetitif, hanya 5% pertahun (sliding) untuk sektor riil, dan 8% pertahun untuk sektor simpan-pinjam.

Syarat untuk mendapatkan kredit bergulir ini sangat sederhana. Pertama, usaha yang dikelola dan dijalankan harus berumur minimal 2 tahun. Kedua, koperasi dan UKM tersebut harus berbadan hukum atau memiliki legalitas. Ketiga, merupakan usaha produktif dengan neraca usaha yang jelas dan menghasilkan laba. Jangka waktu pinjamannya pun cukup panjang, yaitu lima sampai delapan tahun.

“Ini merupakan stimulus pemerintah, agar lebih banyak lagi koperasi dan pelaku UKM yang bisa mengakses dana ini. Tidak ada yang lebih murah lagi dari LPDB,” tandas Kemas.

Karenanya, lembaga itu mengajak pelaku koperasi dan UKM secara aktif mengajukan permohonan pinjaman dana bergulir. Terlebih LPDB bertugas melaksanakan pengelolaan dana bergulir dalam bentuk pinjaman/pembiayaan dengan bunga rendah kepada Koperasi dan usaha mikro kecil menengah (KUMKM).

Mengapa ini dipilih sebagai program unggulan? Karena, kata Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga, UKM yang ‎mendapat pembiayaan dari LPDB KUMKM ini diharapkan bisa segera ‘naik kelas’. Untuk bisa naik kelas, UKM harus kreatif. Naik kelas? Iya, UKM kelas mikro naik kelas ke level kecil, lalu naik kelas ke level menengah, terus naik kelas lagi. Syukur kalau bisa naik kelas lagi ke level lebih tinggi lagi.

“Bagaimana agar bisa naik kelas, ya kreatifitas harus terpenuhi, karena dapat meningkatkan produktifitas. Barulah masuk ke tahap profit. Setelah profit, UKM harus tetap meningkatkan kreatifitas, yang baru ujungnya bakal pula meningkatkan produktifitas dan profit,” kata menkop.

Menurut menkop, UKM sesungguhnya bisa segera naik kelas mengingat suku bunga kredit LPDB saat ini sudah diturunkan secara signifikan. Pada 2016, LPDB telah menyiapkan dana sebesar Rp1,55 triliun untuk disalurkan kepada koperasi dan UKM di seluruh Indonesia. Secara nasional penyerapan dana bergulir hingga 2016 ini sudah mencapai Rp 7,3 triliun kepada 213.801 UMKM melalui 3.446 mitra Koperasi dan Non Koperasi.

Yang harus diingat, dana yang digulirkan LPDB ini bukanlah dana hibah ataupun dana cuma-cuma, melainkan dana yang bersifat kredit yang diberikan secara bergilir kepada koperasi dan UKM. Dana ini adalah bentuk stimulus pemerintah kepada masyarakat. Agar masyarakat mampu mengembangkan usaha melalui modal yang diberikan oleh LPDB-KUMKM ini.

Semoga dengan program ini semakin banyak UKM-UKM yang ‘naik kelas’yang dapat meningkatkan kesejahteraan melalui ekonomi kerakyatan. Semoga. (tety)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015