13 C
New York
19/04/2021
Aktual

Bangga sebagai Bangsa Merdeka dan Berdaulat Kunci Hadapi Tantangan Masa Depan

JAKARTA (Pos Sore) — Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) kembali melaksanakan Diskusi Panel Serial (DPS) ke-11 bertema ‘Tantangan Masa Depan’. Hadir sebagai pembicara adalah Laksda TNI Asc Prof. Dr. A. Yani Antariksa Se, SH, MM dan Prof. Dr. Bambang Wibawarta.

Pembina Yayasan Suluh Nuswantara Bakti Pontjo Sutowo menjelaskan, tema tersebut penting diangkat karena ada gejala menurunnya rasa kebanggan sebabagi bangsa Indonesia yang melanda sebagian besar penduduk negeri ini.

“Banyak contoh yang membuktikan fenomena runtuhnya peradaban masyarakat karena sebab dari dalam negara itu sendiri. Peradaban juga bisa runtuh oleh karena faktor alamiah dan perbuatan manusia itu sendiri,” tegasnya, di Jakarta, Sabtu (30/4).

Karenanya, dia mengingatkan agar kita jangan pernah berpuas diri, tetaplah waspada, dan tetaplah siaga menghadapi ancaman dan peluang. Dengan secara krisis bersedia memperhatiakan kekuatan dan kelemahan diri sendiri.

“Salah satu cara yang harus dilakukan segera oleh bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan dari dalam maupun dari luar adalah membangkitkan kembali kebanggaan sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Hanya dengan itu, kita akan survive. Jangan berpuas diri dan tetap siaga,” kata Pontjo Sutowo.

Sementara itu, A. Yani Antariksa, mengungkapkan, berdasar data Labkurtannas-Lemhannas RI (2015) Sosial Budaya menduduki Indeks Ketahanan Nasional paling rendah. Urutan Indeks Ketahanan Nasional dari yang tertinggi dan terendah adalah Demografis (1), Hankam (2), SKA (3), Ekonomi (4), Geografis (5), Politik (6), Ideologi (7), Sosbud (8).

Rendahnya Sosial Budaya di Indonesia tersebut, menyebabkan kurangnya kepatuhan pranata sosial/hukum, kurang keteladanan pemimpin, penegakan hukum belum maksimal, dan generasi muda kurang tertarik sejarah dan ideologi.

“Karena itu, pada saat ini diperlukan pembangunan nasionalisme baru, memantapkan wawasan kebangsaan, penguatan pelayanan sosial, merawat keragaman masyarakat dan kebudayaan serta penguatan kualitas dan kompetensi pemuda, agar ia dapat menjadi driver dalam membangun kemandirian bangsa dan sebagai antisipasi terhadap pengaruh globalisasi,” kata A. Yani Antariksa.

Sementara itu, dosen fakultas ilmu budaya UI Bambang Wibawarta, Human Capital Index Indonesia di Asean turun menjadi 69 pada 2015 dari sebelumnya ranking 53 pada 2013. Demikian pula Global Competitiveness Index Ranking Indonesia turun pada 2015-2016 menjadi 37 dari sebelumnya ranking 34 pada 2014-2015.

Kenyataan tersebut menyebabkan bangsa Indonesia kehilangan dayasaing dan akan lebih sulit menghadapi globalisasi. Untuk itu, diperlukan strategi kebudayaan untuk dapat dijadikan benteng dalam menghadapi segala tantangan bangsa yang ada.

“Strategi kebudayaan bisa berarti ganda. Pertama, strategi pengembangan dan pelestarian kebudayaan. Kedua, strategi sebagai pendekatan untuk menyelesaikan masalah sosial, ekonomi, dan politik, untuk menghadapi proxy war dan neocortical war yaitu cara perang tanpa penggunaan kekerasan,” kata Bambang Wibawarta. (tety)

Related posts

25 Indications That it is A chance to Change design of Your Website

Tety Polmasari

Kemenkop UKM Bersama Perumda Pasar Jaya Bersinergi Jadikan UMKM Sebagai Trendsetter

Tety Polmasari

Ketua DPR Optimis Satukan Dualisme Kepemimpinan DPR

Tety Polmasari

Leave a Comment