Menkop Dorong Koperasi Masuk Pasar Global dengan KURBE

Selasa, 3 Mei 2016

JAKARTA (Pos Sore) — Kementerian Koperasi dan UKM mendorong koperasi sektor riil agar berkiprah di pasar global dengan memanfaatkan KUR BE (Berorientasi Ekspor). Salah satu produk unggulan koperasi yang masuk pasar ekspor ke Melbourne, Australia yakni, Kopi Raja, kopi olahan produksi Koperasi Mukmin Mandiri, Sidoarjo, Jawa Timur.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) AA Puspayoga mengatakan pemerintah telah meluncurkan paket fasilitas pembiayaan ekspor yang lengkap dan terpadu untuk modal kerja dan investasi bagi koperasi dan UMKM.

“KUR BE ini diprioritaskan untuk para supplier yang menjadi penunjang industri yang melibatkan tenaga kerja yang cukup banyak sesuai dengan segala usaganya,” katanya dalam pelepasan ekspor perdana Kopi Raja, produksi Koperasi Mukmin Mandiri, Sidoarjo, Surabaya (3/5).

Skema pembiayaan KUR BE yakni program pembiayaan dengan suku bunga 9% pertahun, plafon pembiayaan kisaran Rp5 miliar-Rp25 miliar, dan tenor 5 tahun untuk investasi ekspor dan 3 tahun untuk modal kerja ekspor.

Menurut Puspayoga, kemampuan produksi sektor riil seperti Koperasi Mukmin Mandiri mengekspor kopi olahan ke Melbourne, Australia patut diapresiasi karena persyaratan yang harus dipenuhi eksportir sangat ketat. Misalnya, memenuhi ketentuan administrasi ekspor impor, jaminan volume produksi, dan keamanan konsumen.

“Kalau ekspor kopi shaset instan itu sudah biasa, tapi untuk ekspor kopi olahan produksi UKM ke luar negeri, apalagi ke pasar Australia itu tidak mudah,” katanya.

Deputi Produksi dan Pemasaran I Wayan Dipta mengatakan pemerintah mendorong supaya seluruh koperasi produksi melakukan ekspor ke pasar potensil di luar negeri. “Ekspor perdana kopi olahan dari Sidoarjo ini, bukti kebangkitan kegiatan koperasi produksi,” katanya.

Volume ekspor perdana kopi olahan dari petani kopi anggota Koperasi Mukmin Mandiri sebanyak 1 ton dengan pasar Australia. Ekspor kopi Sidoarjo tersebut semakin menambah deretan produksi kopi olahan dari Indonesia yang menembus pasar global. Kopi olahan yang sudah masuk pasar ekspor antara lain, Kopi Bali, Kopi Gayo, dan Kopi Toraja.

Menurut Wayan Dipta, produk olahan perkebunan dari koperasi dan UKM di Indonesia sangat potensil memasuki pangsa pasar global, bahkan ekspor produk lainnya seperti kerajinan tangan (handicraft) dan furniture sudah merambah beberapa negara kawasan Asia.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Pemprov Jawa Timur I Made Sukharta mengatakan ekspor kopi perdana bisa terealisasi atas kerjasama dan sinergi dari pemerintah pusat dan daerah. “Untuk masuk pasar ekspor terutama ke negara di luar Asia sangat sulit karena harus memenuhi berbagai persyaratan,” katanya.

Menurut dia, sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi koperasi selaku produsen untuk melakukan ekspor antara lain, standar kualitas produk, pembiayaan, dan market.

“Dari segi kualitas ternyata hari ini kualitas produksi kami bisa di negara lain, negara yang menerima produk ini bukan Asia tapi Australia,” ujarnya.

Ketua Koperasi Mukmin Mandiri Muhammad Zaki menargetkan volume ekspor Kopi Raja akan meningkat secara bertahap sebanyak 2 ton dalam setahun. “Ekspor kopi perdana ini akan dipasarkan secara ritel menyasar konsumen warga negara Indonesia yang berada di Australia,” katanya.

Menurut dia, sasaran ekspor berikutnya akan merambah pasar di Timur Tengah, seperti Dubai. Saat ini, katanya, produksi Kopi Raja sudah dipasarkan di Jawa Timur sebanyak 40 ton per bulan. (tety)