La Nina Muncul, Tahun Ini Musim Kemarau Bersifat Basah

Jumat, 3 Jun 2016

Sawah Besar-20160603-02495

JAKARTA (Pos Sore) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan hasil evaluasi awal musim kemarau 2016 hingga Mei menunjukkan baru sekitar 31,6% daerah yang sudah memasuki musim kemarau. Monitoring dinamika atmosfer hingga awal Juni ini menunjukkan El Nino sudah meluruh menjadi netral.

“Saat ini kondisi angin monsun timuran mulai menguat, menunjukkan kita berada pada musim peralihan dari musim hujan ke musim kemarau,” jelas Kepala BMKG Dr. Andi Eka Sakya, M.Eng di Jakarta, Jumat (3/6).

Andi menambahkan, berdasarkan statistik kejadian dalam 50 tahun terakhir, sekitar 75% El Nino kuat dapat diikuti oleh munculnya La Nina. Dengan demikian, diperkirakan El Nino 2015/2016 sangat berpeluang diikuti oleh La Nina.

“BMKG memprediksi peluang La Nina mulai muncul pada periode Juli, Agustus, September dengan intensitas lemah sampai sedang,” ujarnya.

Namun, bersamaan dengan munculnya La Nina, terdapat pula fenomena lain yang perlu diperhatikan yaitu Dipole Mode Negatif atau kondisi suhu muka laut di bagian barat Sumatera lebih hangat dari suhu muka laut di pantai timur Afrika. Kondisi ini menyebabkan tambahan pasokan uap air yang dapat membuat bertambahnya curah hujan untuk wilayah Indonesia bagian Barat.

“Indeks Dipole Mode ini diprediksi menguat pada Juli hingga September yang dapat memicu bertambahnya potensi curah hujan di wilayah barat Sumatera dan Jawa,” paparnya.

BMKG mengingatkan, munculnya La Nina yang dibarengi dengan Dipole Mode Negatif dapat berdampak pada meningkatkan potensi curah hujan pada periode musim kemarau 2016 dan periode musim hujan tahun 2016/2017.

Hal itu memungkinkan beberapa daerah mengalami periode musim kemarau dengan sifat hujan atas normal atau kemarau basah dan periode musim hujan dengan curah hujan tinggi yang dapat berpotensi menimbulkan banjir.

“Dampak positif terjadinya kemarau basah terhadap sektor pertanian adalah meningkatnya luas lahan tanam dan produksi padi. Namun, perlu diwaspadai munculnya serangan hama penyakit tanaman pada kondisi tanah yang lembab,” ujarnya.

Sementara itu, dampak negatif dari kemarau basah di antaranya menurunnya hasil produksi beberapa komuditas perkebunan seperti tembakau, tebu, dan teh serta tanaman hortikultura lainnya.

Pada kondisi La Nina, hangatnya Suhu Muka Laut dapat berdampak positif bagi meningkatnya tangkapan ikan tuna, sementara kurang begitu menguntungkan bagi para petambak garam. (tety)