Sarihusada Luncurkan Gerakan 7 Hari Minum Susu

Senin, 6 Jun 2016

JAKARTA (Pos Sore) – Sarihusada meluncurkan Gerakan 7 Hari Minum Susu. Ditandai dengan diluncurkannya SGM Nutriday, susu yang diformulasikan khusus untuk keluarga dan sesuai untuk anak-anak usia 9 – 18 tahun. Peluncuran yang diselaraskan dengan peringatan Hari Susu Nusantara 1 Juni ini juga guna mendukung konsumsi susu di lndonesia.

“Ini dilakukan untuk mendukung keluarga menerapkan gizi seimbang dan menyediakan zat gizi yang lengkap dan sesuai dengan kebutuhan setiap anggota keluarga,” kata Head of Corporate Affairs Sarihusada, Arif Mujahidin, di Jakarta, Minggu (5/6).

Kampanye Gerakan 7 Hari Minum Susu merupakan rangkaaian kegiatan yang terdiri dari edukasi ke perumahan tentang pentingnya peran orang tua dalam membentuk kebiasaan baik atau pola makan yang sehat bagi anak.

Selain itu, edukasi ke sekolah-sekolah bagi anak usia 9 sampai 12 tahun tentang pentingnya minum susu bagi kesehatan. Adapula akitivasi di dalam toko memperkenalkan SGM Nutriday sobagai produk baru susu untuk keluarga.

Yang terakhir ada program berbagai tujuh kebaikan atau penyaluran donasi susu untuk mendukung asupan gizi keluarga yang kurang mampu. Sarihusada bekerja sama dengan Foodbank of Indonesia (FOI) menyalurkan SGM Nutriday kepada 700 keluarga di Surabaya dan 700 keluarga di Jakarta yang berasal dari kelas sosial D, memiliki anak usia 9 sampai 12 tahun. Mereka mayoritas mengalami malnutrisi.

“Sebagai perusahaan yang memiliki komitmen mendukung perbaikan gizi di Indonesia, kami secara berkesinambungan memberikan edukasi mengenai gizi kepada masyarakat dan menyediakan produk gizi terjangkau. Peluncuran SGM Nutriday dan Gerakan 7 Hari Minum Susu, berupa edukasi gizi dan donasi gizi keluarga, merupakan salah satu wujud dari komitmen tersebut,” jelasnya.

Menurut dokter Spesialis Gizi Klinik Dr dr Inge Permadhi, MS, SpGK(K), saat ini, Indonesia masih menghadapi masalah gizi ganda, yaitu kekurangan dan kelebihan gizi pada semua kelompok umur. Riskesdas 2013 mengungkapkan 5% balita mengalami kurang gizi dan 37% nya mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan.

Pada usia sekolah, 31% atau sepertiga anak tergolong pendek (stunting), sebagai indikasi kekurangan gizi menahun, dan pada usia produktif 50% ibu hamil mengalami anemia gizi dan Kurang Energi Kronis (KEK) dengan dampak penurunan daya tahan tubuh, rendahnya produktivitas, dan gangguan tumbuh kembang janin.

“Penerapan gizi seimbang oleh keluarga memegang peran penting dalam mengatasi kekurangan maupun kelebihan gizi tersebut. Adanya Kadarzi atau Keluarga Sadar Gizi, yaitu keluarga yang berperilaku gizi yang baik yang juga menerapkan pola konsumsi beraneka ragam makanan sesuai gizi seimbang, dapat menjadi motor bagi upaya perbaikan gizi di Indonesia,” katanya dalam kesempatan yang sama. (tety)