Adji Watono: Kisah Sukses Tukang Foto Menjadi Boss Advertising

Rabu, 8 Jun 2016

DSC_6738

MELAKONI usaha selama 35 tahun tentu bukan perjalanan sebentar bagi Aloysius Adji Watono dalam mengembangkan Dwi Sapta, usaha advertising agency-nya. Memulai dari nol hingga usahanya berkembang pesat tentu butuh perjuangan yang tak mengenal lelah. Dari hanya seorang tukang foto hingga menjadi CEO belasan perusahaan yang masih ada kaitannya dengan periklanan. Ia pun dijuluki ‘Boss Advertising’.

Saat ini, advertising agency milik pria kelahiran Kudus, Jawa Tengah, 17 Mei 1950 ini sudah menangani ratusan produk lokal Indonesia dan tentu saja produk-produk internasional. Agency yang dikelolanya itu pun sanggup mengungguli berbagai biro iklan lokal dan multinasional sehingga berada di jajaran TOP 3 biro periklanan di Indonesia.

Tentu apa yang diraihnya bukan warisan dari orangtua yang jamak terjadi dalam dunia bisnis di Indonesia. Orangtuanya hanya mewariskan semangat dan keteguhan, serta nilai-nilai kebaikan lainnya dalam menjalani hidup. Kerja keras, pantang menyerah, berpikir positif, profesional, terus belajar untuk improvement yang kontinyu, dan punya tanggung jawab yang jelas.

Kehidupan asrama dan bersekolah di kota Ambarawa dan Surakarta sejak belum tamat Sekolah Dasar hingga tamat Sekolah Lanjutan Atas, telah membuat Adji Watono menjadi orang yang mandiri sejak kecil. Terlebih ia hidup terpisah dari orang tua sejak kecil, yang membuatnya memahami dan menyelami benar apa arti hidup susah, dan bagaimana berjuang untuk hidup. Adji menjadi orang yang tak mudah menyerah dalam meraih mimpi-mimpi besarnya.

Setelah menekuni dunia fotografi sepulang dari Jerman pada 1981 Adji mendirikan studio foto di Rawamangun, Jakarta Timur. Dari studio inilah perjalanan panjang Dwi Sapta dimulai. Setelah hampir 10 tahun melayani klien melalui studio foto dan produksi sablon, maka pada 1989 Dwi Sapta berani menerima tantangan lebih besar untuk menjadi biro iklan full service.

Bukan hanya kemampuan media dan kreatif yang dikembangkan oleh Dwi Sapta, namun juga dilengkapi dengan berdirinya rumah produksi film untuk menggarap film-film iklan. Pada 1995, didirikanlah Netracom Film Production sebagai Production House. Kebutuhan akan kualitas, kecepatan, dan efisiensi disisi produksi film, memaksa Dwi Sapta berinvestasi pada perusahaan paska produksi. Neo Post Production pun didirikan tahun 2004 untuk menciptakan keunggulan teknologi dan profesionalisme paska produksi dengan standard internasional.

Maka tak heran, dalam beberapa tahun terakhir, Dwi Sapta pun tampil sebagai biro iklan yang kerap menerima berbagai penghargaan baik dari media maupun creative award. Hanya beberapa biro iklan lokal yang sanggup bertahan dan berkembang menghadapi serbuan biro iklan asing dan peta kompetisi persaingan agency yang sangat berat.

Sebut saja penghargaan dan award Agency of the Year tahun 2009, 2011, dan 2015. Di samping itu, penghargaan the best creative agency untuk Dwi Sapta IMC, best media specialist untuk DSP Media, best brand activation agency untuk Bee Activator, semuanya diraih pada 2015. Penghargaan top three agency diterima dari RCTI, SCTV, Indosiar, dan AN TV, sementara top two diterima dari TV One. Dwi Sapta juga termasuk dalam top five agency di Trans TV, Trans7, dan MNC TV

Kesuksesan inilah yang membuat Agung Adiprasetyo (CEO KOMPAS GRAMEDIA 2006-2015) tertarik membuat biografi mengenai sosok Adji Watono. Hadirlah buku biografi berjudul ‘Kisah Sukses TUKANG FOTO menjadi BOSS ADVERTISING: Pengalaman 35 tahun Membangun Dwi Sapta’. Buku setebal 306 halaman ini juga berisi kisah pribadi, pengalaman, dan falsafah hidup yang mewarnai perjuangan pria tangguh ini.

DSC_6744

Bukan tanpa sebab mengapa Agung begitu tertarik mengulik lebih jauh sosok CEO dan Founder Dwi Sapta Group yang dituangkan dalam satu buku. Karena, berdasarkan pengalaman Adji Watono membesarkan Dwi Sapta Group selama 35 tahun, banyak membongkar resep-resep dan strategi Dwi Sapta untuk membangun merek klien yang ditanganinya.

“Saya bersedia menulis biografi Adji Watono yang menggambarkan upayanya selama 35 tahun membangun Dwi Sapta. Saya selalu suka mengagumi orang-orang yang tabah, ulet, dan kreatif membangun sesuatu dari nol hingga sukses, juga terlebih lagi karena harapan bahwa mudah-mudahan kiat dan pandangan Adji Watono bisa menjadi inspirasi dan bahan belajar yang baik buat siapa pun yang ingin menjadi wirausahawan sukses,” jelas Agung Adiprasetyo.

Berbeda dengan tiga buku Adji Watono sebelumnya — Advertising that Sells, Advertising that Makes Money, dan IMC that Sells, buku biografi yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama ini lebih banyak menceritakan hal pribadi yang terasa melankolis. Agung Adiprasetyo mengakui roh dan filosofi Dwi Sapta terbangun karena kultur dan warna organisasi dibentuk oleh pandangan dan sikap founder atau pimpinan tertingginya.

Boleh dibilang, filosofi dan pandangan dasar inilah yang selalu bisa menjadi inspirasi dan bahan belajar mengapa satu perusahaan bertumbuh, dan mengapa perusahaan tersebut sanggup melewati ujian badai serta angin ribut.

“Walaupun ada banyak cerita dari petarung-petarung hebat yang berhasil melewati masa-masa sulitnya, tetap saja cerita perjuangan Dwi Sapta dari kertas polos hingga masuk dalam daftar biro iklan Indonesia terkemuka, yang bukan hanya sanggup bersaing dengan jagoan lokal, layak disimak,” terang Agung.

Biografi Adji Watono ‘Kisah Sukses TUKANG FOTO menjadi BOSS Advertising: Perjuangan 35 tahun Membangun Dwi Sapta’ itu pun diluncurkan bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-35 Dwi Sapta pada 27 Mei 2016, di Hotel Dharmawangsa Jakarta. Dihadiri sekitar 1000 undangan yang sebagia besar para klien dan partner bisnis Dwi Sapta Group. Dipandu oleh MC kondang Gading Martin dan Yuanita, acara dimeriahkan dengan penampilan dari artis-artis ibukota seperti Julia Perez, Ayu Ting-Ting, dan penyanyi pria ternama Glenn Fredly.

Good luck Mr. Adji Watono! (tety)