Mantan Direktur CIA Nilai Trump Jadi Capres Paling Ceroboh

Selasa, 9 Agu 2016

JAKARTA (Possore) — Pro kontra terus mengiringi jalan Donald Trump untuk mengisi kursi presiden Amerika Serikat.

Kali ini, sebanyak 50 petinggi Partai Republik yang berpengalaman di bidang keamanan diantaranya mantan direktur CIA Michael Hayden mengatakan bahwa Donald Trump “akan menjadi presiden yang paling ceroboh sepanjang sejarah Amerika.”

Pernyataan yang dirilis bersama dalam sebuah surat terbuka mensinyalir bahwa Trump akan membuat keamanan nasional Amerika Serikat terancam.

“Dari perspektif kebijakan luar negeri, Donald Trump tidak memenuhi syarat untuk menjadi presiden dan komandan militer. Nyatanya, kami yakin ia akan menjadi presiden yang berbahaya,” jelas surat tersebut, Selasa (9/8).

“Dari perspektif kebijakan luar negeri, Donald Trump tidak memenuhi syarat untuk menjadi presiden dan komandan militer. Nyatanya, kami yakin ia akan menjadi presiden yang berbahaya

Di antara penandatangan surat itu adalah Michael Hayden, mantan direktur CIA dan Badan Keamanan Nasional, John Negroponte, yang merupakan direktur pertama intelijen nasional, Robert Zoellick, mantan wakil menteri luar negeri serta Tom Ridge dan Michael Chertoff, keduanya mantan menteri keamanan dalam negeri, juga Donald B. Ayer, mantan wakil jaksa agung AS.

Di awal surat yang dilansir New York Times, mereka menyatakan bahwa semua yang menandatangani surat pernah menjabat posisi senior di bidang keamanan nasional dan kebijakan luar negeri di pemerintahan partai Republik, dari era Richard Nixon hingga George W. Bush.

“Tidak ada dari kami yang akan memilih Donald Trump,” tulis mereka seperti dikutip CNN Indonesia.

Trump juga disebut berkali-kali mendemonstrasikan bahwa “Dia tak memahami penuh kepentingan vital nasional Amerika. Di saat yang sama, ia terus memuji lawan kita dan mengancam sekutu dan teman kita.”

Trump disebut memiliki masalah temperamen untuk bisa menjadi presiden.

“Dalam pengalaman kami, seorang presiden harus mau mendengar penasihatnya dan kepala departemen, mendorong pertimbangan dari pandangan yang bertentangan, dan harus mengakui kesalahan dan belajar dari sana.”

Surat ini dinilai tak hanya menyoroti soal ketidakmampuan Trump, namun lebih jauh perpecahan di dalam tubuh Partai Republik yang terus menguat sejak pencalonan Trump.

Dilaporkan New York Times, awalnya banyak nama yang tercantum dalam surat menolak nama mereka disebut dalam sebuah surat terbuka serupa yang muncul pada Maret lalu.

Namun mereka mengubah pikiran mereka setelah Trump meminta Rusia untuk meretas email Hillary Clinton, rivalnya dari Partai Demokrat.

Pada Senin malam (8/8), menanggapi surat tersebut, Trump mengatakan bahwa mereka yang menandatangani surat itu adalah “para elite Washington gagal yang pantas disalahkan karena membuat dunia menjadi tempat yang berbahaya.”

“Orang-orang dalam ini—bersama dengan Hillary Clinton—adalah yang memutuskan keputusan bencana untuk menginvasi Irak, mem biarkan orang Amerika tewas di Benghazi, dan mereka adalah yang membiarkan bangkitnya ISIS.” (fenty)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015