Budaya Kompetisi Sebabkan Indonesia Belum Kuat dan Mandiri

Minggu, 21 Agu 2016

JAKARTA (Pos Sore) — Menurut Ki Hajar Dewantara (1940), merdeka itu tidak hanya lepas dari kendali penjajah namun juga kuat, kuasa, dan mandiri serta mampu meraih yang diharapkan. ‘Mardika iku jarwanya nora mung lepasing pangreh, nging uga kuwat kuwasa amandiri priyangga’, begitu katanya.

Sayangnya hingga saat ini Indonesia masih hanya dalam taraf lepas dari kendali penjajah dan belum dalam taraf kuat, kuasa, dan mandiri serta mampu meraih yang diharapkan.

Kondisi ini menyebabkan bangsa Indonesia tertinggal dibanding negara-negara Asia dan Afrika, padahal Indonesia adalah pelopor kemerdekaan bangsa terjajah di dunia.

“Perlu ada evaluasi agar kondisi tersebut dapat di jembatani agar taraf kuat, kuasa, dan mandiri serta mampu meraih apa diharapkan, dapat di raih,” kata Prof. Dr. Bambang Hidayat Guru Besar ITB, dalam Diskusi Panel Serial ke-12 bertema ‘Membangun Budaya dan Nilai Keindonesiaan demi Masa Depan Bangsa’, yang diadakan Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) pimpinan Pontjo Sutowo.

Menurut Bambang Hidayat, usia Indonesia sebagai bangsa tidak muda lagi, karena telah berumur 71 tahun. Sehingga sudah semestinya, Indonesia mampu bersaing dengan bangsa lain di dunia. Dan untuk mampu bersaing dengan negara lain, tidak bisa tidak maka pendidikan mandiri harus terus ditingkatkan. Pendidikan mandiri yang disandarkan pada uluran tangan donator kadang mengabaikan etika dan kebenaran.

Sementara itu, Prof. Dr. Firmanzah Rektor Paramadina, mengatakan, ketidakberhasilan Indonesia meraih taraf kuat, kuasa, dan mandiri serta mampu meraih yang diharapkan karena negara hanya mengembangkan budaya kompetisi. Padahal negara lain di dunia bahkan juga perusahaan multinasional kini tidak lagi mengembangkan budaya kompetisi. Namun budaya kolaboratif atau kebersamaan.

“Saya melihat di antara nilai-nilai budaya positif yang harus dikembangkan di Indonesia menggantikan budaya kompetisi yaitu budaya kolaboratif,” tandasnya.

Ia mengungkapkan, selama ini hambatan terbesar bangsa kita adalah adanya ego-sektoral yang seringkali menjadi penghambat kerjasama, koordinasi dan komunikasi lintas sektoral. Padahal, di tengah persoalan bangsa dan negara yang semakin kompleks dan dinamis, nyaris tidak ada persoalan yang bisa diselesaikan oleh hanya satu unit organisasi saja.

“Dibutuhkan kerjasama dan koordinasi lintas lembaga agar penyelesaian masalah menjadi komprehensif dan tidak tambal sulam. Melalui semangat dan budaya kolaboratif tentunya akan banyak hal yang bisa dicarikan solusi bersama’, kata Firmanzah.

Firmanzah juga mengkritik media yang memediakan dalam headlinenya tema ‘Merayakan keberagaman’. “Keberagaman merupakan hal alamiah, sebenarnya yang harus dirayakan adalah kebersamaannya”, kata Firmanzah kembali.

Doktor Ilham Habibie yang juga menjadi narasumber diskusi itu berpendapat jika negara Indonesia yang kuat, kuasa, dan mandiri serta mampu meraih apa diharapkan, merupakan satu keniscayaan. Negara stabil yang mempunyai ekonomi berdasar pengetahuan dan inovasi yang mampu menyejahterakan seluruh rakyat se-adil mungkin hanya dapat diraih jika negara mengembangkan inovasi, teknologi dan kewirausahaan.

“Purwarupa dan industrialisasi sebagai aspek utama inovasi bahkan SDM. Dan teknologi hanya dapat diraih dengan mengedepankan budaya, sebab mereka berkaitan dengan manusia,” katanya. (tety)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015