Kemendes Siap Kembangkan OVOP Kemenkop UKM

Rabu, 24 Agu 2016

JAKARTA (Pos Sore) – Kementerian Koperasi dan UKM melakukan kerjasama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes) dalam mengembangkan program satu desa satu produk (one village one product/OVOP) untuk mempermudah aktivitas perdagangan online (e-commerce) produk desa.

“Kemenkop sudah lama mengembangkan program OVOP baik dari sisi produksi maupun pemasarannya, misalnya komoditi gula semut di Kulonprogo Jogjakarta, maupun Virgin Coconut Oil (VCO) di Purworejo, berbagai olahan krupuk di Tasikmalaya dan sebagainya,” kata Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran, Kemenkop dan UKM, I Wayan Dipta, di Jakarta, Rabu (24/8).

Terkait OVOP, Kemenkop sudah melakukan kerjasama dengan Korean Trade Investment Promotian Agency (KOTRA) yang bertujuan mengembangkan kerjasama dan mendukung gerakan One Village One Product (OVOP). KOTRA didukung oleh perusahaan-perusahaan besar Korea yang berinvestasi di Indonesia seperti Cheil Jedang, Samsung Electronics, Hana Bank, PT Eagle, dan Lottemart.

Peran perusahaan-perusahaan tersebut adalah memfasilitasi koperasi binaannya untuk meningkatkan kualitas produk seperti gula semut, mulai dari memfasilitasi pengadaan teknologi untuk memperbaiki proses produksi, peningkatan kualitas kemasan hingga pemasaran baik di dalam negeri antara lain melalui jaringan pemasaran Lottemart, dan melalui media internet maupun melalui pemasaran ekspor.

“Selain itu, Kemenkop juga sudah bekerjasama dengan Telkom untuk membuat Kampung Digital, guna mengembangkan pemasaran produk OVOP, yang baru saja diresmikan di desa Celuk, Kab Gianyar Bali yang terkenal dengan kerajinan perak,” tambah Wayan Dipta.

Dengan memanfaatkan teknologi maka OVOP tak akan ketinggalan zaman. Peran teknologi tidak bisa dipungkiri sebagai sarana yang paling efektif untuk mempromosikan hasil produk yang tidak hanya menyasar pasar dalam negeri tetapi juga ke manca negara.

I Wayan Dipta mengatakan, dalam pengembangan OVOP diperlukan kerjasama anar instansi sehingga melahirkan sinergi. ”Sekarang bukan eranya lagi ego sektoral dalam pembangunan, sebaliknya sangat dibutuhkan kerjasama dan kolaborasi dalam mengembangkan perekonomian daerah terutama terkait OVOP.”

Sementara itu, Mendes Eko Putro Sandojo, meyakini program itu akan memperluas jaringan pasar perdesaan. Dengan begitu, setiap desa dituntut untuk memproduksi satu produk unggulan untuk dijual ke pasar e-commerce.

“Program desa online bisa kita kaitkan dengan e-Commerce, tapi kalau tidak ada produk unggulan dalam satu kecamatan atau minimal untuk desa, nanti akan susah. Saya ingin ke depan desa akan membantu kota, bukan kota membantu desa,” ujarnya.

Saat ini, terdapat 74.754 desa di Indonesia yang menyimpan potensi ekonomi jika diberdayakan dengan maksimal. Peningkatan taraf hidup desa menjadi hal penting untuk mendorong kemajuan perdesaan.

Dia berharap dengan tertampungnya alokasi dana desa dari pemerintah daerah ke badan usaha milik desa (BUMDes) dapat mendatangkan pendapatan bagi desa. Selanjutnya, perusahaan swasta dan perusahaan negara diharapkan dapat berinvestasi di desa terutama dalam bentuk pasca panen.

“Kami upayakan agar industri bisa masuk ke desa, atau desa bisa bikin pelatihan yang bisa bekerja di luar desa, sehingga bisa membawa incomemasuk desa,” katanya. (tety)