1.3 C
New York
27/01/2021
Aktual

RDE Wujud dari Pelaksanaan RUEN

JAKARTA (Pos Sore) — Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) sudah dibahas oleh Dewan energi Nasional (DEN) melalui sidang yang dipimpin langsung oleh Presiden Jokowi pada 22 Juni 2016. Beberapa poin penting dalam RUEN di antaranya perlu dibuatkan roadmap (peta jalan) dalam pengembangan opsi nuklir sebagai pemenuhan kebutuhan energi nasional.

Nuklir sebagai pilihan terakhir oleh RUEN diterjemahkan dengan membangun reaktor daya riset dan laboratorium reaktor selain itu juga perlu meningkatkan kerja sama dengan pihak luar negeri.

“Untuk melaksanakan keputusan dalam RUEN tersebut, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) akan membangun Reaktor Daya Eksperimen (RDE) dengan kapasitas listrik sekitar 3,5 MWe di Kawasan Puspiptek, Serpong Tangerang,” kata CEO Project Management Office (PMO), Taswanda Taryo dalam diskusi yang bertajuk menyikapi putusan pemerintah tentang kebijakan energi nasional, kemarin, di Jakarta.

Menurut Taswanda, pembangunan RDE yang membutuhkan dana sekitar 2 triliun ditargetkan 40 persen dibiayai oleh dalam negeri dan sisanya 60 persen dari luar negeri melalui kerja sama government to government dan diharapkan selesai pada tahun 2021. RDE diharapkan dapat menjadi contoh dalam membangun RDE berikutnya dengan daya yang lebih besar di daerah lain.

“Ini adalah sebagai satu master kalau nanti kita ingin membangun reaktor sejenis, mungkin dengan daya yang lebih besar terutama di Indonesia bagian timur. Selain itu pembangunan RDE juga sebagai pembelajaran bagi human resource yang ada di indonensia baik di bidang nuklir maupun non nuklir seperti teknik sipilnya,” katanya.

Hal senada juga dikatakan oleh anggota Komisi Energi, Dewan Riset Nasional, Arnold Y. Soetrisnanto bahwa pemanfaatan nuklir sebagai sumber energi listrik sudah harus dimulai untuk membantu pemenuhan kebutuhan energi nasional.

Menyikapi Kebijakan Energi Nasional, Arnold mengatakan kalau nuklir dijadikan pilihan terakhir adalah sesuatu yang tidak ilmiah. “pilihan terakhir tidak bisa diukur, sesuatu yang ilmiah harus bisa diukur, kapan, dimana, bagaimana, apa, dan siapa yang melakukan semua harus dapat diukur,” katanya.

Apalagi melihat target tahun 2025 bahwa pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) mencapai 23 persen, sedangkan target sebelumnya hanya 5 persen dan nuklir hanya sebagai pilihan terakhir. Dengan menjadikan nuklir sebagai pilihan terakhir, ini merupakan diskriminasi energi. Mustahil target 23 persen dapat tercapai tanpa nuklir. (tety)

Related posts

Bakrie & Brothers Siap Bangun Proyek Pipa Transmisi Gas Bumi Cirebon Semarang

Tety Polmasari

CIMB Niaga Kembali Gelar The Color Run, Ajang Lari Santai Sambil Beramal

Tety Polmasari

Produk UKM Indonesia akan Diimpor ke Bahrain

Tety Polmasari

Leave a Comment