Film ‘Wonderful Life’: Ajak Orangtua ‘Menyelami’ Anak Berkebutuhan Khusus

Selasa, 11 Okt 2016

cast-crew-wonderful-life-pada-press-conference-senin-10-oktober-2016

TAK BANYAK orang tua yang mampu merawat anak berkebutuhan khusus. Tak banyak pula yang mampu melewati masa-masa kebersamaan dengan sang anak yang diwarnai sejumlah konflik dan tekanan. Ada yang berakhir bahagia, ada yang berakhir suram. Memang, dibutuhkan ketelatenan, kesabaran dan kasih sayang dalam mengasuhnya.

Inilah yang dibuktikan Amalia Prabowo dalam merawat putranya, Aqil, yang menyandang disleksia. Disleksia adalah gangguan kemampuan menulis dan membaca.

Agar banyak orangtua menyadari anak istimewa yang dimilikinya bisa tumbuh dan berkembang seperti anak-anak ‘normal’ lainnya, Amalia pun menuliskannya dalam buku novel berjudul ‘Wonderful Life’ yang kemudian diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Novel kisah nyata ini pun dituangkan dalam film layar lebar berjudul sama oleh Visinema Pictures. Sutradara Angga Dwimas Sasongko, yang juga produser film ‘Wonderful Life’, mengatakan film itu bukan bercerita tentang penyakit.

“Disleksia ini bukan penyakit. Kami enggak ingin bikin film tentang penyakit. Kami ingin film ini punya warna,” kata Angga, di Jakarta, Senin (10/10).

Disleksia sendiri adalah gangguan dalam perkembangan kemampuan membaca dan menulis pada anak.
Sutradara ‘Wonderful Life’, Agus Makkie, mengatakan film disajikan secara ceria dan menyenangkan.

Dalam film itu, tokoh utamanya, Aqil, yang diperankan Sinyo, dibawa sang ibu, Amalia, untuk menjalani serangkaian terapi, sutradara dan sang penulis sepakat untuk menawarkan terapi alam. Hal ini membuat film itu tidak suram.

“Jalan-jalan itu jadi obat. Aqil diperankan Sinyo, kenapa dia menggambar, dia ingin menyeimbangkan, jadi bisa solusinya dia. Selain melihat alam, ada dimensi lain di mata dia. Itu yang bikin dia jadi lain,” jelas Agus lagi.

Atiqah menambahkan, ‘Wonderful Life’ tidak menekankan bahwa hanya penyakit Aqil yang menyebabkan Amalia tak bahagia. Ada faktor-faktor lain, kata Atiqah, yang membuat Amalia merasa tertekan.

“Di film ini nanti akan terbuka juga ke penonton, yang sakit itu bukan Aqil, tapi kita, dan bapak saya yang didoktrin. Saya yang mengejar ego saya. Relationship itu yang membuat saya enggak bahagia dan anak saya enggak bahagia,” kata Atiqah menceritakan tentang karakter Amalia.

Aktor Rio Dewanto, yang juga ikut memproduseri film tersebut. Rio mengaku tertarik menjadi produser film tersebut lantaran ada cerita yang mengangkat kisah seni rupa, dalam hal ini lukisan.

“Saya yang paling terakhir masuk sebagai produser. Saya punya ketertarikan di seni rupa, selalu mengapresiasi seni lukis,” katanya.

Film ‘Wonderful Life’ berkisah tentang Amalia Prabowo (Atiqah Hasiholan) menangani anaknya, Aqil (Sinyo), yang menyandang disleksia. Aqil tidak pandai dalam pelajaran akademik. Ia menyenangi kegiatan menggambar dan mewarnai.

Selain dimainkan oleh Atiqah dan Sinyo, film tersebut melibatkan artis peran lainnya, seperti Lydia Kandou, Alex Abbad, Putri Ayudya, dan Didik Nini Thowok.

Sang penulis skenario Jenny Jusuf menawarkan film ini untuk keluarga Indonesia. Film berkisah pengalaman pribadi Amalia Prabowo, seorang wanita karir yang mandiri dan tegas.

Amalia tumbuh dengan pemikiran dirinya bukan apa-apa tanpa nilai akademis. Jadilah, segalanya harus sempurna. Begitu juga anak sulungnya, Aqil yang harus berprestasi.

Dunia Amalia berubah ketika Aqil didiagnosa mengidap siseleksia. Diseleksia menjadikan Aqil dicap anak yang bodoh dan gagal secara akademis. Segala cara ditempuh Amalia untuk ‘menyembuhkan’ Aqil. Sampai kemudian dirinya sadar setiap anak terlahir sempurna, begitu juga Aqil yang menonjol dalam seni rupa.

“Hidup saya dan Aqil memang berat dan sulit, tapi kami nggak ingin dianggap suram, dan Atiqah berhasil membuat film ini menyenangkan,” ujar Amalia

Keluarga Indonesia disarankan menyaksikan film yang mengisahkan perjuangan seorang ibu dalam mengasuh anaknya yang berkebutuhan khusus. Film ini akan diputar serentak di jaringan gedung bioskop Indonesia mulai 13 Oktober 2016. (tety)