Negara menghemat Rp4,3 Triliun

2.648 Perusahaan Tingkatkan Kompetensi 170 Ribu Peserta Magang

Minggu, 23 Okt 2016

JAKARTA (Pos Sore) – Kompetensi telah menjadi syarat mutlak dalam persaingan di semua tingkatan dan jenis pekerjaan, baik nasional maupun internasional bahkan pada era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) saat ini, peningkatan kompetensi menjadi penting sebelum memasuki dunia kerja.

Peran serta pihak swastapun menjadi salah satu hal utama Untuk memenuhi peningkatan kompetensi tersebut. Tercatat 2.648 perusahaan di lima provinsi sudah menyatakan kesiapan dan bersedia terlibat langsung dalam meningkatkan 170 ribu kompetensi calon tenaga kerja sebelum diterjunkan dalam duna kerja di perusahaan masing-masing.

Ini adalah bentuk kontribusi positif kalangan swasta itu sebagai wujud kepeduliannya membangun sumber daya manusia memasuki dunia kerja.

asep

“Melibatkan pihak perusahaan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kompetensi pencari kerja dan sekaligus juga menangani masalah pengangguran melalui skema pemagangan,” kata Direktur Bina Pemagangan Kemnaker Asep Gunawan.

170 ribu orang peserta maang tersebut berlatih jerja di lima sektor dengan rinian 32 jenis jabatan yang akan dilatih kepada pencari kerja.

Asep menyebutkan, 2.648 perusahaan itu berdomisili di Provinsi DKI Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim dan Banten. Mereka melaksanakan skema pemagangan pada sektor manufaktur, retail, kelautan dan perikanan, perbankan dan pariwisata.

Selain melengkapi sarana dan prasarana pemagangan, pihak perusahaan itu jugamemberikan kontribusi berupa insentif berupa uang saku, transport dan uang makan kepada peserta magang.

terjadi penghematan uang negara sebesar Rp4,3 Triliun melalui program percepatan peningkatan kompetensi melalui skema pemagangan dan sertifikasi dalam kurun waktu pelaksanaan 3 – 12 bulan,

Insentif yang diberikan kepada peserta magang berkisar Rp2 – 3 juta/ orang per bulan sehingga terjadi penghematan uang negara sebesar Rp4,3 Triliun melalui program percepatan peningkatan kompetensi melalui skema pemagangan dan sertifikasi dalam kurun waktu pelaksanaan 3 – 12 bulan, tergantung jenis jabatan.

Asep menegaskan, dengan pola pemagangan ini setiap peserta akan mampu berafiliasi dengan kebutuhan yang diinginkan perusahaan. Sehingga para peserta magang setelah lulus dari program pemagangan akan langsung memiliki sertifikasi kompetensi dan dipastikan terserap ke dunia kerja.

Bahkan, tambahnya, peserta yang lulus dan memiliki sertifikasi kompetensi tersebut akan mampu bersaing dengan pekerja dari luar negeri sehingga perusahaan tidak perlu lagi mendatangkan tenaga kerja asing untuk mengisi jabatan yang diinginkan perusahaan.

“Pemerintah sangat serius menangani dan membangun serta meningkatkan kompetensi masyarakat pencari kerja, utamanya bagi kalangan peganggur tamatan SMA atau SMP,” ujarnya.

Secara umum kondisi angkatan kerja Indonesia pada 2016 sebesar 122,38 juta. Dari jumlah itu 6,18 persen (7,56 juta) merupakan peganggur dengan pendidikan menengah ke bawah. Jumlah peganggur itu disebabkan adanya ketidaksesuain antara kompetensi dengan kualifikasi yang dipersyaratkan pasar kerja.

“Untuk mengakomodir para peganggur ini, maka cara yang cepat dan tepat adalah melaksanakan percepatan peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui pelatihan pemagangan dan sertifikasi dengan bekerja secara langsung dibawah bimbingan instruktur. Ini merupakan langkah link and match antara dunia pelatihan dan dunia kerja,” kata Asep Gunawan. (hasyim)