24.2 C
New York
04/06/2020
Aktual

Komplikasi Diabates: Gagal Ginjal, Stroke, Kebutaan

JAKARTA (Pos Sore) — Profesor dr Sidartawan Soegondo, dokter spesialis diabetes, mengungkapkan, diabetes tipe 2 tidak menunjukkan gejala. Itu sebabnya, penderita penyakit itu tidak menyadari jika terkena diabetes.

“Penyakit ini termasuk progresif. Komplikasinya bisa dicegah dengan mengatus lifestyle,” ujarnya dalam kampanye ‘Ayo Indonesia Lawan Diabetes’ yang diadakan Kementerian Kesehatan dan PT Kalbe Farma, Tbk, di Plaza Barat Senayan, Jakarta, Minggu (20/11).

Ia menjelaskan, komplikasi diabetes bisa dibagi menjadi dua, yakni komplikasi pembuluh darah besar dan komplikasi pembuluh darah kecil.

Komplikasi diabetes pembuluh darah besar bisa bepengaruh pada otak, jantung, dan kaki. Sedangkan komplikasi pada pembuluh darah kecil, berdampak pada mata, ginjal, dan saraf.

Itu sebabnya, banyak penderita diabetes ikut terkena gagal ginjal, serangan jantung, stroke, bahkan kebutaan. Bahkan, diabetes yang berdampak pada ginjal bisa mengharuskan orang menjalani cuci darah.

“Perlu diketahui, penyakit yang cenderung progresif ini bisa menyerang siapa saja. Tidak pandang umur, tidak pandang suku, siapa saja bisa kena,” tandasnya.

Menurutnya, pengaturan pola hidup sehat dapat meminimalkan komplikasi dari diabetes. Yaitu dengan melakukan aktivitas fisik, setidaknya meluangkan waktu 30 menit setiap hari.

Selain itu, mengurangi konsumsi makanan tinggi gula, garam dan lemak jenuh, terutama pada kelompok anak dan remaja terbilang tinggi, serta rutin memeriksa gula normal hemoglobin a1diabetisi.

“Hba1c memberikan gambaran gula darah selama satu bulan. Kalau sudah diabetes harus cegah komplikasi dengan dipantau hba1c. Kita harus kendalikan gula darah,” kata Prof Sidartawan.

Ia mengingatkan diabetes ini bisa dialami siapa saja, termasuk anak-anak, ekonomi kelas bawah maupun atas. Kondisi gaya hidup bisa menentukan apakah seseorang berpotensi mengidap diabetes atau tidak.

Prof. Dr. Agung Pranoto, dr., M.Kes., Sp.PD., K-EMD., FINASIM Ketua PB Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) menilai sangat penting untuk mempromosikan test penyaring Diabetes pada kelompok risiko tinggi, untuk mencegah terjadinya komplikasi berat.

“Deteksi dini komplikasi retinopati akan memungkinkan pengobatan dini yang akurat dan mencegah hilangnya penglihatan mata dan penurunan karier dan kualitas hidup pasien,” katanya.

Agung juga menyarankan agar anak yang memiliki keturunan diabetes mulai rutin untuk memeriksakan gula darah secara berkala. Selain sebagai bentuk pencegahan, pemeriksaan gula darah secara berkala juga dapat membantu deksi dini penyakit diabetes mellitus pada anak.

Beberapa tanda prediabetes pada anak juga bisa diwaspadai orang tua melalui hiperpigmentasi. Hiperpigmentasi yang menyebabkan kulit menghitam ini bisa terjadi di bagian leher atau ketiak anak.

Agung mengatakan hiperpigmentasi juga bisa muncul pada anak yang belum memasuki fase prediabetes tapi sudah memiliki kadar insulin yang tinggi dalam tubuhnya.

Penanganan yang dini dengan obat dan juga perubahan pola hidup dapat menyembuhkan hiperpigmentasi pada anak sekaligus menghambat terjadinya prediabetes maupun diabetes mellitus Tipe 2 pada anak. (tety)

Related posts

Menengok Orang Sakit

Tety Polmasari

Asosiasi Koperasi Industri Mocaf Indonesia Dibentuk untuk Optimalkan Pemasaran

Tety Polmasari

Memilih Umroh Biar Cepat Memeluk Ka’bah

Tety Polmasari

Leave a Comment