Menko PMK: Revitalisasi Pendidikan Vokasi Tingkatkan Kualitas SDM Indonesia

Selasa, 29 Nov 2016

JAKARTA (Pos Sore) — Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani mengungkapkan, saat ini kualitas sumberdaya manusia Indonesia masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan SMP ke bawah yang mencapai sekitar 65%. Sisanya yang 25% berpendidikan menengah, dan kurang dari 10% berpendidikan tinggi.

Menurutnya, untuk mencapai kualitas agenda pembangunan perlu juga diikuti dengan percepatan penyiapan sumberdaya manusia berkualitas yang memiliki kompetensi. Itu sebabnya, pemerintah melakukan revitalisasi pendidikan vokasi dengan menyiapkan pendidikan kejuruan dan vokasi.

Revitalisasi pendidikan vokasi ini meliputi penajaman kurikulum berbasis kebutuhan pasar, penataan bidang atau program studi, penyusunan modul, pemenuhan tenaga pengajar produktif, peningkatan sarana-prasarana, pembentukan pabrik pengajaran, akreditasi-sertifikasi, serta perbaikan sistem pemagangan dan kemitraan dengan industri.

“Melalui revitalisasi pendidikan vokasi, ditargetkan agar seluruh lulusan dari program revitalisasi tersebut memiliki sertifikat kompetensi yang memudahkan mereka masuk ke dalam dunia kerja,” ujarnya, di Kementerian Perindustrian, Selasa (29/11).

Puan mengatakan hal tersebut usai menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama lima menteri terkait revitalisasi pendidikan vokasi. Kelima menteri terkait yaitu Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri, dan Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini M. Soemarno. Hadir pula Menko Perekonomian, Darmin Nasution.

Dalam kesempatan itu juga dilaksanakan penandatanganan Perjanjian Kerja sama anta SMK dengan perusahaan industri. Sebagai pilot project pada tahap awal telah ditunjuk tiga perusahaan industri dan 20 SMK, yaitu PT. Petrokimia Gresik, dengan 7 SMK di wilayah Jawa Timur, PT. Astra Honda Motor dengan 9 SMK dari Tangerang , Banten, dan Sulawesi Selatan, serta PT. Polytama propindo dengan 4 SMK dari Indramayu dan Cirebon.

Menurut Puan, dengan adanya revitalisasi pendidikan vokasi juga akan membuat industri dapat meningkatkan daya saingnya dengan mendapatkan tenaga kerja yang kompeten. Selain itu, melalui pendidikan vokasi diharapkan mampu melahirkan para pengusaha pemula.

“Revitalisasi Pendidikan Vokasi ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan dalam rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Indonesia,” tambahnya.

Menko PMK pun menekankan, dalam menghadapi era bebas, diperlukan penyiapan tenaga kerja Indonesia yang berkualitas untuk menjadi tenaga utama dalam pembangunan nasional, juga untuk menghadapi persaingan di era globalisasi ini.

“Penandatanganan MoU ini agar segera ditindak lanjuti dengan tahapan yang jelas, terukur, dan dapat dievaluasi. Revitalisasi pendidikan vokasi harus dapat mempersiapkan tenaga produktif Indonesia untuk mengisi pembangunan nasional dan memperkuat daya saing tenaga kerja Indonesia,” tegasnya. (tety)