ANRI dan SAAC Gelar Pameran Arsip Sosial Budaya Indonesia – Tiongkok

Senin, 5 Des 2016

JAKARTA (Pos Sore) – Hubungan antara Indonesia dan Tiongkok telah dimulai sejak periode Pra-Kolonial. Hingga hari ini, kedua negara masih melakukan kerja sama di berbagai bidang termasuk bidang kebudayaan.

Melalui kerja sama kearsipan antara Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Arsip Nasional Republik Rakyat China (SAAC), kedua lembaga kearsipan menyelenggarakan pameran arsip bersama di Museum Nasional, Jakarta pada 2 – 6 Desember 2016.

Program ini bagian dari Kesepahaman Bersama antara kedua institusi tentang kerja sama kearsipan. Tema utama pameran ini adalah ‘Hubungan Sosial dan Budaya antara Indonesia dan Tiongkok’ yang menggambarkan kondisi imigran Tiongkok di Indonesia dari berbagai aspek.

SAAC menampilkan koleksi Dokumen Pengiriman Uang dan Surat Qiaopi yang dikirim oleh imigran Tiongkok di luar negeri khususnya di Indonesia.

Di sisi lain, ANRI menyajikan berbagai arsip menarik tentang kehidupan sosial dan budaya etnis Tiongkok di akhir abad 19 dan awal abad 20. Kolaborasi ini menciptakan pengetahuan tentang Diaspora etnis Tiongkok di Indonesia dari sudut pandang kedua negara.

“Pameran arsip hubungan sosial dan budaya Indonesia dan Cina ini memberikan pendidikan dan pengetahuan serta gambaran secara lebih luas kepada para pengunjung dan masyarakat mengenai terjalinnya persahabatan kedua negara tersebut sejak ratusan tahun yang lalu,” jelas Kepala ANRI, Mustari Irawan, di Jakarta.

Menurut catatan sejarah, lanjutnya, hubungan awal antara Indonesia dengan Cina dimulai dari adanya ikatan perdagangan yang terjalin sebelum masa pemerintahan Dinasti Han Timur yang berkuasa antara tahun 23 – 220.

Selama berabad-abad kemudian Cina terlibat dalam perdagangan maupun hubungan secara keagamaan. Kerajaan Sriwijaya yang berdiri pada abad ke-7 adalah tempat favorit para biksu Cina untuk mempelajari karya klasik Budhha serta tempat transit dalam perjalanan panjang mereka menuju dan dari India.

Hubungan antara Indonesia dan Cina mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Dinasti Ming sekitar tahun 1420. Selama periode tersebut banyak pengaruh kebudayaan Cina yang berasimilasi dan berakulturasi dengan kebudayaan dari Indonesia.

Aktivitas yang dilakukan orang-orang Cina yang datang ke Nusantara pada waktu itu, telah memberi gambaran yang jelas mengenai hubungan yang terjadi, baik dari segi sosial maupun budaya.

“Dari hubungan yang terjadi, maka terjalinlah kebudayaan yang kuat di antara kedua belah pihak yang sampai sekarang ini masih kita rasakan dampaknya.” ujarnya.

Pada sisi lainnya, Cina digambarkan sebagai kekuatan yang baik hati, yang selama berabad-abad telah membawa fasilitas dan pengayaan budaya, yang berkisar dari sejumlah kosa kata dalam bahasa Indonesia dan desain motif batik hingga bentuk khusus dari ekspresi kesusasteraan.

Pihaknya berharap, melalui pameran ini, dapat memberikan wawasan pengetahuan bagi para pengunjung pameran dan masyarakat pada umumnya mengenai bagiamana awal mula sejarah perkembangan hubungan Indonesia – Tiongkok khususnya di awal penyebarannya ke Indonesia. (tety)