Capai Target Ciptakan 20 Ribu Wirausaha Baru

Kemenperin,HIPPI Komit Tingkatkan Kualitas SDM Melalui Diklat Magang

Rabu, 7 Des 2016
Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI), Suryani Motik

JAKARTA (Pos Sore)– Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, mengungkapkan, pihaknya berkomitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan pendidikan vokasi yang ditujukan tidak hanya bagi sekolah menengah dan kejuruan, namun juga dalam upaya menumbuhkan 20 ribu wirausaha baru di Indonesia.

“Salah satu masalah yang dihadapi Indonesia adalah rendahnya tingkat pendidikan pekerja yang masih terbatas. Untuk itu ada beberapa program yang kami laksanakan, antara lain kami akan mendorong keahlian melalui peranan para silver expert, sehingga selain memberikan bantuan keahlian, juga akan dibantu dengan pelatihan bidang pendidikan.”

Menurut Airlangga, Kemenperin juga akan mendatangkan para ahli dan senior yang dilakukan melalui kerjasama dengan lembaga industri dan perdagangan internasional.

Hal itu diungkapkan usai menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman antara Ditjen IKM Kemenperin dengan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) di Kemenperin, Selasa (6/12).

“Salah satu masalah yang dihadapi Indonesia adalah rendahnya tingkat pendidikan pekerja yang masih terbatas. Untuk itu ada beberapa program yang kami laksanakan, antara lain kami akan mendorong keahlian melalui peranan para silver expert, sehingga selain memberikan bantuan keahlian, juga akan dibantu dengan pelatihan bidang pendidikan.”

Pertama meningkatkan kualitas sekolah kejuruan yang sebelumnya lebih banyak praktek mengenai keahlian, diubah menjadi lebih banyak konten materi berbasis industri, dengan bobot materi sampai 60%. Selain akan menciptakan tenaga kerja yang lebih terampil, juga akan bertujuan meningkatkan produktivitas jam kerja. Masalah produktivitas menjadi prioritas kedua, mengingat selama ini produktivitas tenaga kerja Indonesia masih kalah bersaing dibandingkan dengan tenaga kerja dari Bangladesh, misalnya.

Selama ini kami akan memberikan pelatihan kepada sejumlah IKM, termasuk juga kepada community college, dan program magang dalam bentuk pelatihan singkat (short course). Khusus terkait dengan pengusaha pribumi anggota HIPPI, kami menganggap mereka sudah memiliki sejumlah pengalaman, sehingga kami tinggal melengkapi mereka dengan kursus kilat dengan memberi nilai tambah dalam bentuk pengembangan desain, tooling product, akses pemasaran, dan kami dorong mereka agar masuk dalam  e-smart IKM.

Penandatanganan nota kesepahaman ini berlaku selama tiga tahun, dan dilakukan dalam upaya pengembangan IKM yang lebih berdaya saing, melalui sejumlah program yang telah disepakati.

Sementara itu, Ketua HIPPI, Suryani Motik, menyatakan, penggunaan produk dalam negeri yang lebih besar akan mendorong terciptanya multiplier effect yang lebih besar. Selain itu akan memberi kesempatan kepada pengusaha dalam negeri untuk mengembangkan produk yang lebih bernilai tambah di dalam negeri.

Dalam hal ini HIPPI melihat adanya kemampuan atau potensi SDM yang dapat ditingkatkan. Pelatihan yang diberikan sesuai kebutuhan mereka dalam hal kemasan produk, pemasaran, dan juga standar serta keamanan produk pangan sehingga mereka dapat meningkatkan kelas pengusahanya.

Program bisa diberikan dalam bentuk bantuan perlengkapan peralatan, sekaligus nantinya mereka juga dapat melihat bagaimana selera atau keinginan pasar dimaksud, untuk membuka akses pemasaran.

Dari sisi HIPPI menurut Suryani, melihat pengusaha itu dalam berbagai sektor, seperti yang bergerak di sektor pertanian atau agribisnis dan juga bidang lainnya seperti sektor pangan yang bisa juga dilihat efektivitasnya.

Atau juga pengusaha sepatu dan alas kaki yang masih membutuhkan bantuan ketersediaaan bahan baku. Dalam kesempatan sama, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto juga menyaksikan peluncuran sepatu merek ‘Ekuator’ yang sebelum ini sudah mendapat pelatihan teknis dari Badan Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) Sidoarjo – Jawa Timur, dan proses produksinya dilakukan di salah satu pabrik sepatu di Bandung, Jawa Barat.

Sebagai tambahan, Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih dalam kesempatan tersebut menyatakan, dalam hal pengembangan dan pembangunan wirausaha industri khususnya yang berskala kecil dan menengah, dilakukan melalui program kewirausahaan IKM melalui seleksi wirausaha yang dinilai cukup berhasil, untuk kemudian diberi fasilitasi peningkatan mutu dan standardisasi.

Dari sisi produk, agar kualitas produk dalam negeri lebih terjamin standar dan mutunya, Kemenperin melakukan pembinaan terhadap IKM dalam bentuk fasilitasi yang meliputi bimbingan penerapan dan sertifikasi produk, optimalisasi mesin/peralatan, pemberian izin usaha, pengembangan produk, perlindungan hasil karya industri dengan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan bantuan informasi pasar, promosi serta pemasaran.

Dalam rangka meningkatkan program penggunaan produk dalam negeri dan menghadapi kompetisi di pasar ASEAN, kata dia,diperlukan peningkatan kualitas industri baik dari sisi sumber daya manusia (SDM), maupun kualitas produk. Kementerian Perindustrian mendorong pembangunan SDM baik melalui pendidikan vokasi industri berbasis kompetensi, pelatihan industri berbasis kompetensi, dan sertifikasi industri.(fitri)