Kowani 88 Tahun, Luncurkan Buku ‘Sebelas Windu Kowani Mengukir Bakti’

Selasa, 20 Des 2016

img_20161220_213640

JAKARTA (Pos Sore) – Bulan Desember ini Kongres Wanita Indonesia (Kowani) berusia 88 tahun atau 11 windu. Sebagai ungkapan rasa syukur, organisasi federasi perempuan tertua dan terbesar di Indonesia itu pun meluncurkan buku berjudul ‘Sebelas Windu Kowani Mengukir Bakti’.

Ketua Umum Kowani, Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd. mengatakan buku ini memiliki arti penting bagi Kowani. Menurutnya, buku ini salah satu cita-cita dan perwujudan cinta kepada sejarah, para pahlawan, para founding mother dan kiprah serta sekaligus memuat harapan-harapan yang hendak dituju Kowani ke depan.

Menurutnya, melalui buku ‘Sebelas Windu Kowani Mengukir Bakti’, juga bisa menjadikan kita kembali ‘me-riview’ sekilas tentang lintasan sejarah dan lintasan peristiwa yang menjadi benang merah tentang eksistensi dan sekaligus sejarah keemasan Kowani.

“Melalui buku ini pula kita kembali mengenang para pahlawan wanita dan tokoh-tokoh wanita yang menginspirasi Kowani khususnya dan perempuan pada umumnya” kata Giwo, di gedung Kowani, Jakarta, Selasa (20/12).

Giwo Rubianto, menambahkan, peluncuran buku ini didedikasikan untuk para perempuan Indonesia. Dengan tujuan agar mereka mau tahu dan memaknai perjuangan perempuan Indonesia.

“Akan lebih baik jika perempuan mengetahui histori perjuangan perempuan di Indonesia. Dengan mengetahui sejarahnya, tentunya akan lebih mengetahui bagaimana dulu, perempuan Indonesia berjuang untuk negara ini,” ujarnya.

img_20161220_122737

Bagi Giwo, buku ini juga sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dalam periode kepemimpinan DP Kowani periode 2014-2019 sekaligus sebagai ‘prasasti’ yang multiplier effect.

“Selain mengasah kita untuk belajar menuangkan dalam satu tulisan yang rapi, tertib, dan bermakna,” ujarnya.

Giwo menuturkan, buku ini diluncurkan menjelang Hari Ibu, sebagai peringatan perjuangan perempuan Indonesia saat Kongres Perempuan Indonesia, yang diadakan pada 22 Desember 1928. Dan hasil dari kongres tersebut menghasilkan konsep Ibu Bangsa.

Karenanya, penerbitan buku tersebut dinilainya menjadi monumen penting untuk mengabadikan sejarah panjang Kowani karena tanpa catatan tertulis, sejarah bisa mudah terlupakan.

Buku setebal 500 halaman ini terdiri dari 11 bab. Mengulas gambaran yang lebih utuh tentang sejarah organisasi yang beranggotakan 86 organisasi perempuan. Buku ini menjadi bukti Kowani adalah wadah bagi kaum perempuan untuk berhimpun dan mewujudkan perannya sebagai ‘Ibu Bangsa’.

Sebagai ‘ibu’ bagi bangsa, anggota Kowani mempunyai kepekaan sosial, kepedulian kepada kepentingan kaum perempuan, kesetaraan gender masalah lingkungan hidup, penguatan ekonomi bahkan juga kesadaran dan pembelaan akan Hukum dan HAM. (tety)