Aplikasi Informasi Pertanian Modern Tingkatkan Kemampuan Capai Kedaulatan Pangan

Kamis, 22 Des 2016

BOGOR (Pos Sore) – Data tahun 2014 menunjukkan sebanyak 56% orang Indonesia menggunakan smartphone untuk berbelanja online. Lebih tinggi dari Filipina yang 36%, Malaysia 47% dan Singapura yang mencapai 43%. Smartphone juga yang paling banyak dicari saat belanja online.

Pada tahun yang sama Indonesia berada pada peringkat ke-6 pengguna smartphone di dunia. Pada 2018, Indonesia diperkirakan menjadi peringkat ke-4 di dunia setelah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India.

Perangkat dan koneksi mobile broadband yang semakin murah di pasaran saat ini meningkatkan jumlah pengguna internet secara signifikan. Pada 2013 jumlah pengguna internet sekitar 72 juta dan pada 2018 diperkirakan mencapai 123 juta. Hampir setengah orang Indonesia.

Indonesia adalah penggunakan internet terbesar ke-6 di dunia setelah Tiongkok, AS, India, Brazil, dan Jepang.

Kondisi dan kemajuan teknologi informasi saat ini menciptakan suatu peluang untuk menyampaikan inovasi teknologi pertanian kepada masyarakat secara lebih murah, efektif, efisien, cepat, dan masif tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian pun memanfaatkan peluang ini dengan membuat aplikasi sistem informasi pertanian berbasis smartphone yang terintegrasi dengan Google Maps, yang diberi nama ‘Tanam’. Peluncurannya secara resmi dilakukan oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Kamis (22/12)

Tim Informasi Geospasial dan Analisis Sistem Balitbangtan Yiyi Sulaeman, menjelaskan, aplikasi ini menyediakan informasi dasar pertanian tentang teknologi pengelolaan lahan, varietas, budidaya, alsintan, dan infrastruktur pendukung. Selain itu, menyediakan media konsultasi online antara petani, penyuluh, peneliti, dan pemangku kepentingan lainnya.

Karena terintegrasi dengan Google Maps, menggunakan aplikasi ini pebisnis jagung dapat mengetahui tingkat kesesuaian lahan tempat ia berdiri untuk tanaman jagung, varietas yang direkomendasikan, alsintan dan pupuk yang diperlukan, jarak ke toko saprodi terdekat, keragaman produksi di wilayahnya dan sebagainya.

“Dengan aplikasi ini, petani akan mengetahui keahlian penyuluh, peneliti, dosen, staf dinas yang online, kemudian memilihnya untuk berkonsultasi tentang masalah pertanian di tempat ia berada,” jelasnya, di Kampus Penelitian Pertanian, Bogor, Kamis (22/12).

Petani juga dapat mengetahui toko-toko saprodi terdekat dan membandingkan harga saprodi tersebut.
Melalui aplikasi ini kita dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan untuk pencapaian kedaulatan pangan kita. (tety)