Konsep One Health Solusi Atasi Ancaman Serius Resistensi Antimikroba

Kamis, 16 Mar 2017

IMG-20170316-WA0051

JAKARTA (Pos Sore) – Tak hanya kesehatan manusia saja yang terganggu, resistensi antimikroba (AMR) dipandang sebagai ancaman serius bagi keberlangsungan ketahanan pangan, khususnya bagi pembangunan di sektor peternakan dan pertanian.

Karenanya, ancaman ini tidak dapat dipecahkan oleh hanya satu sektor saja. Terlebih pertumbuhan populasi dunia, globalisasi dan degradasi lingkungan yang sangat cepat, ancaman-ancaman terhadap kesehatan manusia juga semakin kompleks.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita, mengatakan konsep One Health memastikan seluruh pemangku kepentingan dilibatkan dalam menyelesaikan masalah secara menyeluruh.

“Pendekatan One Health mencakup pemikiran bahwa permasalahan yang memberikan dampak kepada kesehatan manusia, hewan dan lingkungan dapat diselesaikan secara efektif melalui komunikasi dan kolaborasi,” ujarnya dalam Seminar One Health dengan bertema ‘Kolaborasi Pemangku Kepentingan One Health – Aksi Terhadap Resistensi Antimikroba’, di Jakarta, Kamis (16/3).

Seminar hasil kerjasama Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian dan Food and Agriculture Organization (FAO) ini juga menekankan, kolaborasi di antara para pemangku kepentingan dari berbagai disiplin ilmu dan kelembagaan, mampu menuju pada masyarakat yang lebih sehat dan bahagia.

Menurut I Ketut, Resistensi Antimikroba (AMR) menjadi salah satu ancaman kesehatan masyarakat dunia yang mendesak. Penggunaan antibiotik secara tidak hati-hati baik pada kesehatan manusia maupun agrikultur hanya dapat dikurangi melalui tindakan yang dilakukan bersama-sama secara kolaboratif oleh seluruh sektor terkait.

“Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia, tentu harus dapat berkontribusi dalam pengendalian Resistensi AMR. Untuk itu saya bersyukur saat ini kita sedang memfinalisasikan dokumen Rencana Aksi Nasional Indonesia yang merupakan hasil pemikiran dan konsep bersama dari berbagai sektor yang sejalan dengan lima tujuan strategi global,” ujarnya.

Tujuan strategi blobal yang dimaksud yaitu pertama, meningkatkan pemahaman, kepedulian dan kesadaran terkait resistensi antimikroba. Kedua, memperkuat pengetahuan dan basis data (evidence) melalui surveillans & penelitian.

Ketiga, melakukan upaya pencegahan infeksi yang efektif melalui penerapan higiene, sanitasi, dan biosecurity. Keempat, mengoptimalkan penggunaan antimikroba. Kelima, mengembangkan investasi yang berkelanjutan berbasis ketersediaan sumberdaya lokal dalam penemuan obat-obatan baru, alat diagnostik, vaksin dan intervensi lainnya dalam upaya pengobatan.

“Kita berharap sebelum Bulan Mei tahun ini kita dapat merampungkan dokumen Rencana Aksi Nasional yang nantinya akan disampaikan pada Pertemuan Kesehatan Dunia,” katanya. (tety)