Cuitan Trump Menjelang Pertemuan Dengan Jinping

Jumat, 31 Mar 2017

JAKARTA  (Pos Sore) -– Presiden AS Donald Trump menjelang pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping pekan depan,  mulai berkiciau di tweeter .  Menurut Trump  di akun Twitternya bahwa AS tidak bisa lagi mentolerir defisit perdagangan dan tenaga kerja.

Menurut analisis berapa engamat politik luar negerri, pertemuan itu adaLah pertemuan tatap muka pertama sejak Trump menjabat pada 20 Januari. Trump juga menjadi tuan rumah Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe bulan lalu di tempat yang sama.

Dalam cuitannya  pada Kamis malam, Trump mengatakan pertemuan yang sangat diantisipasi antara pemimpin dua ekonomi terbesar di dunia, yang juga diharapkan untuk menutupi perbedaan pendapat atas Korea Utara dan ambisi strategis Cina di Laut Cina Selatan, “akan menjadi sangat sulit .”

“Kita tidak bisa lagi mengalami defisit perdagangan yang besar serta kehilangan pekerjaan,” tulisnya dalam akun twitter @realDonaldTrump. “Perusahaan AS harus siap untuk mencari alternatif lain.”

Meskipun serangkaian pertemuan AS-China dan percakapan sepertinya ditujukan untuk memperbaiki hubungan setelah kritik keras Trump terhadap China selama kampanye pemilihannya, pejabat AS mengatakan presiden Partai Republik tidak akan bersikap melunak dalam pertemuan tersebut.

(screenshot tweet dari Presiden AS Donald Trump/Istimewa)

 Chief Executive Officer General Electric Co Jeff Immelt mendesak Trump pada hari Kamis untuk menjaga hubungan ekonomi AS dengan China serta mengatakan AS memiliki banyak keuntungan dari globalisasi.

“Negara ini akan kehilangan jika kita tidak melakukan perdagangan. Hubungan dengan China adalah kunci,” kata Immelt, seperti dikutip Reuters.

“Jika Anda menyerah pada perdagangan, Anda menyerah pada alat terbaik yang dimiliki presiden AS dalam negosiasi di seluruh dunia. Saya hanya berpikir bahwa Presiden Trump terlalu pintar untuk menyerah,” lanjutnya.

Sebelumnya, Departemen Perdagangan AS mengatakan bahwa China harus mengubah praktik perdagangan dan cara operasional perusahaan-perusahaan negara. (hasyim)