Perjalanan Karier Sumarno Anak Desa Lajer

Jumat, 31 Mar 2017
Karo Umum Kemnaker, Sumarno, S.Pd. MM

1 SEPTEMBER 1959, warga Desa Lajer, di Kebumen, Jawa Tengah dibuat senyum sumringah dengan lahirnya bayi laki-laki yang kelak menjadi kebanggaan keluarga dan warga desa kecil itu. Bayi laki-laki itu diberi nama Sumarno.

Terlahir sebagai anak ke-4 dari enam bersaudara. Sumarno kecil melewatkan hari-harinya dengan bermain di pematang sawah dan menggembala kerbau-kerbau yang selalu digunakan untuk membajak sawah milik orang tuanya. Sumarno dikenal sebagai anak yang lincah dan berkepribadian teguh tetapi sering dianggap yang nakal karena kuat mempertahankan prinsip.

Seperti anak-anak lainnya di desa Lajer, sepulang sekolah Sumarno beserta beberapa sahabat kecilnya menuju sawah untuk menggembala itik dan mengangon kerbau dan tidak heran kalau disitulah keusilan Sumarno sering diperlihatkan kepada sahabat-sahabatnya. Namun karena keuislan itu pula kekerabatan di antara mereka tetap terjalin sampai sekarang.

Setelah memasuki masa remaja, Sumarno masih dikenal sahabatnya sebagai teman yang yang mengenakkan tapi sering menyebalkan. Meskipun demikian Sumarno adalah pelopor kehadiran mereka di surau kecil di desa Lajer, tempat mereka belajar mengaji dan solat berjamaah.

Setelah selesai pendidikan STM Negeri jurusan mesin pada 1979/1980, Sumarno memulai kehidupannya sebagai pemuda yang membutuhkan pekerjaan. Dia mengikuti berbagai testing pegawai sampai akhirnya lulus sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil setelah mengikuti testing penerimaan pegawai di lingkungan Depnaker.

Dia kemudian diikutsertakan pada Diklat Calon Instruktur Mobile Training Unit (MTU) selama 4 bulan di BLK Semarang. Masih belum mengantongi Surat Keputusan (SK) CPNS, Sumarno ditempatkan di Kanwil Depnaker Provinsi Sulawesi Selatan di Makassa, tepatnya di Balai Latihan Kerja Industri Makassar.

marno

Pengalaman pahit menunggunya disana. Karena belum berstatus sebagai CPNS maka Sumarno pun belum bisa mendapatkan hanya berupa gaji. Selama empat bulan dia hidup dengan berbekal kerja keras membantu cattering yang mensuplai makanan kepada peserta diklat. Tidurnyapun numpang di Asrama BLKI Makassar.

1 Maret 1981 dengan bangga Sumarno menerima SK pengangkatannya sebagai CPNS dengan pangkat II/a dan berpenghasilan Rp16.200 per bulan. Dengan gaji yang tergolong cukup waktu itu untuk anak muda seusia Sumarno, pemuda Lajer ini bersumpah untuk mengabdikan dirinya bagi bangsa dan negara.

Singkat cerita Sumarno melewatkan masa-masa mudanya di Makassar sebagai instruktur di BLKI Makassar dan mengejar ketertinggalannya di dunia pendidikan dengan menyelesaikan S1 di IKIP Makassar jurusan Teknik Otomotif pada 1999 dan pada 2002 menyelesaikan pendidikan S2 nya di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar Program Studi Manajemen SDM.

Kariernya sebagai PNS sebagaian besar dilewati di BLKI Makassar sebagai instruktur. Dengan gaji yang kecil dan bercita cita menjadi sarjana, Sumarno melewatkan hari dengan bekerja banting tulang seperti memperbaiki mobil orang.

Suami Rupiani, guru SD ini Bahkan membeli mobil orang yang sudah rusak untuk diperbaiki kemudian dijual kembali unuk menambah biaya pendidikan ketika itu dan untuk menghidupi keluarga kecilnya.

Pada 2004 kariernya mulai berubah dengan beban tugas baru sebagai Ketua Jurusan Otomotif di BKLI Makassar. Sumarno dengan kemampuan manajerialnya membuka kerjasama degan pihak ke-3 dalam rangka menmghidupkan pelatihan jurusan otomotif.

Sehingga tiba suatu masa, ketika itu BLKI Makasasar sikunjungi oleh pejabat Depnaker Pusat dalam rangka serah terima jabatan Kepala BLKI Makassar. Dengan keberanian yang ada Sumarno menyampaikan niatnya untuk hijrah ke Pusat dengan alasan hendak mencari pengalaman baru. Alasan lain yang medasari niatnya itu adalah penyakit radang tenggorokan yang diderita, sehingga saran dokter yang merawatnya adalah “Jangan Banyak Bicara”.

Bagaimana bisa ? tugasnya sebagai instruktur adalah mengharuskannya untuk banyak bicara sehingga penyakitnyapun tidak kunjung sembuh meskipun sudah ber tahun-tahun diderita. Alhamdulillah, permohonannya terpenuhi dan pada Maret 2003 dipindahlan ke Depnakertrans Pusat sebagai Staf Pullahta (Pengumpul dan Pengolahan Data) Seksi Instruktur Swasta.

Kebiasaan kerja keras yang sudah pernah dijalani pada awal kariernya sebagai PNS membawa BSumarno merampungkan ugas demi tugas diemban ke pundaknya dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Dia pun bisa menunaikan panggilan Nabi Ibrahim dengan menunaikan iabadah haji satu tahun setelah hijrah ke Depnakertrans Pusat. Di depan Baitullah Sumarno memanjatkan doa dan Mustajab, Allah mengabulkan do’anya.

Sepulang dari tanah suci, ayah tiga orang putra dan seorang poutri ini dipromosi menjadi Kepala Seksi Pengembangan Asosiasi Profesi pada Subdit Pembinaan Asosiasi Profesi, Direktorat Standarisasi Kompetensi dan Program Pelatihan (Stankomprolat) Depnakertrans.

Dua tahun di jabatan itu, Sumarno dipromosi menjadi Kepala BLKI Ternate yang berstatus UPTP.

Di Tempat tugas yang baru, Sumarno dihadapkan pada kondisi yang serba kurang bahkan nyaris tidak ada. Namanya BLKI tetapi isinya hamoir tidak ada karena sebelum diserahkan di Depnakertrans, BLKI Ternate berstatus KLK (Kursus Latihan Kerja).

Semasa terjadi konflik Agama di Maluku, BLKI (KLK) menjadi Basis Komando bagi Ummat Islam di Ternate. Akibatnya banyak peralatan yang rusak. Sumarno harus mampu berimprovisasi agar BLKI Ternate bisa tampil dan menjadi basis pelatihan terdepan di maluku Utara.

Sampailah pada masa dimana BLKI harus diperkenalkan kepada khalayak ramai. Digelarlah Sosialisasi Pemanfaatan BLKI Ternate. Respons positif diterima dari beberapa perusahaan tambang yang komit akan memanfaatkan lulusan BLKI Ternate dan tidak lagi menggunakan lulusan BLKI Manado.

Empat tahun memimpin BLKI Ternate, Sumarno digeser ke Makassar untuk menata BLKI Makassar. Tidak susah menyesuaikan diri dengan tenpat baru karena Makassar adalah kota awal Sumarno berkiprah sebagai PNS.

Penataan yang dilakukan di BLKI Makassar adalah perubahan sistem manajemen, peningkatan disipin oegawai, terutama instruktur, peningkatan disiplin peserta pelatihan, peningkatan jaminan keamanan, jaminan kesehatan peserta pelatihan, peningkatan kerjasama pihak terkait dan melakukan terobosan terobosan pelatihan baru berdasarkan kebutuhan pasar kerja.

Sukses membawa BLKI Makassar sebagai BLKI penyuplai tenaga kerja andal untuk wilayah Indonesia timur, Sumarno dipromosi menjadi kepala Balai Besar Latihan Kerja Industri (BBLKI) Serang.

marno2

Di pos yang baru ini, Sumarno tetap menerapkan sistem keoemimpinan yang berpijak pada kebersamaan. Berbagai ungkapan negatif yang diterima sebagai pimpinan baru tidak menyurutkan niatnya untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara.

Anak buahnya mengenalnya bukan hanya sebagai pimpinan tetapi juga sebagai sahabat, kakak atau adik. Dengan demikian program yang dilakukan bisa berjalan mulus tanpa hambatan yang besar. Kedekatannya dengan masyarakat pun dibangun oleh Sumarno sehingga saat melepas jabatan sebagai Kepala BBLKI Serang banyak merasa kehilangan.

Saat ini Sumarno, S.Pd, MM dipercayakan untuk menjabat Kepala Biro Umum Kementerian Ketenagakerjaan RI yang sehari harinya menjadi pelayan bagi seluruh jajaran kementerian ketenagakerjaan dengan fasilitas yang dibutuhkan sebagai penopang pekerjaan dan jalannya organisasi kementerian. (hasyim)