Perang Cyber Bisa Hancurkan Ketahanan Nasional

Rabu, 5 Apr 2017

IMG_20170405_150724

DEPOK (Pos Sore) — Ketahanan nasional terancam goyah. Bukan karena akibat peperangan militer, melainkan karena peperangan di dunia cyber. Lihat saja saat ini saja sudah terjadi perang di media sosial yang berdampak sosial.

“Perang itu jangan diartikan dengan mengangkat senjata. Di jaman sekarang ini perang sudah lebih canggih daripada peperangan di medan perang,” tegas Pontjo Sutowo, Ketua Aliansi Kebangsaan, di UI Depok, Rabu (5/4).

Pontjo yang juga Ketua Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB), menegaskan hal itu saat menyosialisasikan Kegiatan Diskusi Serial Panelis (DPS) 2017-2018 yang mulai digelar pada Sabtu (8/4), di Jakarta Convention Center, Jakarta. Tema DPS kali ini mengangkat ‘Menggalang Ketahanan Nasional Untuk Menjamin Kelangsungan Hidup Bangsa’.

Pihaknya berharap, dengan diskusi itu akan menumbuhkan kesadaran baru bahwa kita harus belajar dari sejarah jangan sampai terulang peristiwa yang nyaris memporak-porandakan ketahanan nasional.

“Tidak ada bangsa yang mengadukan nasibnya pada bangsa lain. Karena itu, harus timbul kesadaran baru bahwa dalam berbangsa itu ada sesuatu yang bisa saja terus menerus merongrong keutuhan bangsa,” tegasnya.

Jangan sampai negara Indonesia bernasib sama dengan negara Yugoslavia dan Uni Soviet yang kini tidak ada lagi dalam peta bumi setelah berumur 70’an tahun.

Sementara itu, DR (HC) I Gusti Kompyang Manila, S.Ip, menambahkan, peperangan tidak hanya dalam senjata. Saat ini saja, kita sudah perang. Contoh kasus, perbedaan politik saja sudah bisa memunculkan ‘peperangan’.

“Saat ini kita sedang menghadapi yang namanya perang cyber. Ini harus diwaspadai. Ini jelas sangat berbahaya, bahkan lebih dahsyat dari perang senjata. Negara yang bisa menghadapi perang cyber baru Jerman, sementara Amerika saja hancur-hancuran,” tandasnya dalam kesempatan yang sama.

Menurutnya, masalah pertahanan itu bukan urusan militer tapi juga non militer. Permasalahan semua. Karenanya, harus diwaspadai.

“Kesenjangan dan ketidakadilan akibat
pemerintah yang tidam komit dengan nilai luhur yang dianut, ini harus diperhatikan karena bisa menjadi senjata ampuh dalam perang cyber,” tambahnya. (tety)