Kenali dan Optimalkan Tumbuh Kembang Anak Autisma

Minggu, 7 Mei 2017

JAKARTA  (Pos Sore) — Siloam Hospitals Grup bersama Harian Kompas mengadakan Forum Diskusi Kesehatan dengan Tema ‘Kenali dan Optimalkan Tumbuh Kembang Anak Autisma’, di Jakarta.

Dipilihnya tema tersebut agar penanganan pada tumbuh kembang anak dengan autisma dapat tersosialisasi dengan baik serta menyeluruh.

“Kepedulian terhadap anak dengan gangguan spectrum autism saja tidak cukup. Mereka harus diterima di masyarakat agar potensinya berkembang maksimal,“ papar Melly Budhiman, Ketua Yayasan Autisma Indonesia, saat membuka pembicaraan dalam forum diskusi.

Melly melanjutkan, agar potensi anak pengidap autisma berkembang pesat, maka hal itu membutuhkan kerja sama semua sektor.

“Dimulai dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,” tuturnya.

Melly yang juga dokter spesialis kedokteran jiwa dan psikiatri anak, ini mengingatkan, stigma autism yang melekat yaitu gangguan jiwa adalah tidak benar. Karenanya, harus dihilangkan di tengah masyarakat. Solusinya dengan sosialisasi dan kerjasama semua pihak.

Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis kejiwaan dari Rumah Sakit Siloam, Eva Suryani, Sp. KJ., turut mengingatkan bagi para oraang tua yang memiliki anak pengidap autisma agar konsisten dalam mengobati anak.

“Salah satu tugas dokter adalah menjelaskan kepada orang tua soal porsi pemberian obat dan efek samping dari pengobatan tersebut. Dan saya selalu mengingatkan agar selalu ada komunikasi diantara dokter dan orang tua terkait perkembangan sang anak,” papar Eva saat berbincang dengan awak media usai diskusi berakhir.

Autisme pada anak, menurut dr. Eva Suryani Sp.KJ, sudah bisa didiagnosis pada anak dengan rentang usia 0-3 tahun. Setidaknya ada tiga tanda-tanda penting untuk mendeteksi autisme: kesulitan bahasa (bicara), interaksi sosial, serta melakukan gerakan terbatas dan pengulangan. 

“Anak yang memiliki gangguan autisme biasanya tidak merespon ketika namanya dipanggil, lebih suka menyendiri, tidak suka dipeluk, tidak ada kontak mata, serta sering melakukan gerakan berulang-ulang,” paparnya.

Eva pun mengingatkan diagnosis autisme anak sejak dini bisa bermanfaat bagi para orangtua. “Kalau kita bisa kenali sejak dini, penanganannya juga bisa lebih awal,” tandas dokter dari RS Siloam Karawaci Tangerang, ini. (tety)