Dampak Puasa Terhadap Kesehatan

Kamis, 25 Mei 2017

IMG_20170525_213042

JAKARTA (Pos Sore) — Hasil penelitian menyebutkan ibadah puasa bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan fisik atau jasmani. Pada saat seseorang melaksanakan ibadah puasa, maka terjadi pengurangan jumlah makanan yang masuk ke dalam tubuhnya sehingga kerja beberapa organ tubuh seperti hati, ginjal, dan lambung terkurangi.

Puasa memberikan kesempatan pada metabolisme (pencernaan) untuk beristirahat beberapa jam sehingga efektivitas fungsionalnya akan selalu normal dan semakin terjamin.

Di samping memberikan kesempatan pada metabolisme (pencernaan) untuk beristirahat beberapa jam, puasa juga memberikan kesempatan pada otot jantung untuk memperbaiki vitalitas dan kekuatan sel-selnya.

Demikian kesimpulan yang dapat dipetik dari Diskusi Menyambut Ramadhan bertema ‘Dampak Puasa Terhadap Kesehatan’ yang diadakan Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam, di Jakarta, Kamis (25/5).

Hadir sebagai narasumber yaitu Dr. Prasetyo Widhi Sp.PD KHOM (Wasekjen PB IDI), Dr. Tirta Aprawitasari Sp.GK, MSc (Sekjen PDGKI), dan Dr. Dyah Agustina Waluyo (Wakil Ketua PP PDUI).

Direktur Bakornas LKMI PB HMI Dr. Taupan Ikhsan Tuarita, mengatakan, berpuasa akan melatih seseorang untuk hidup teratur dan disiplin serta mencegah kelebihan makan.

“Menurut penelitian, puasa akan menyehatkan tubuh, sebab makanan berkaitan erat dengan proses metabolisme tubuh,” jelasnya, usai diskusi.

Prasetyo Widhi Sp.PD KHOM menambahkan, saat berpuasa, ada fase istirahat setelah fase pencernaan normal, yang diperkirakan 6 sampai 8 jam. Maka pada fase tersebut terjadi degradasi dari lemak dan glukosa darah.

Dengan demikian, puasa bermanfaat menurunkan kadar gula darah, kolesterol, dan mengendalikan tekanan darah. Itulah sebabnya, puasa sangat dianjurkan bagi perawatan mereka yang menderita penyakit diabetes, kolesterol tinggi, kegemukaan, dan hipertensi.

Dengan demikian, setelah bulan Ramadhan, mereka yang berpuasa akan menjadi orang-orang yang secara biologis, psikologis, fungsional menjadi orang yang baru.

Yaitu, manusia yang senantiasa berpikiran lebih baik, yang digambarkan oleh perubahan struktur atau networking (synapses) otak yang baru: yang senantiasa berpikiran positif, optimistis, tawadhu’ serta berserah diri kepada Tuhan. (tety)