IZI Salurkan Paket Ramadhan, Sudiyatmi pun Tenang Berpuasa

Kamis, 25 Mei 2017

IMG-20170525-WA0046

JAKARTA (Pos Sore) — Rumah bertinggi tak lebih dari dua meter itu berdiri di tikungan jalan. Jarak antara pintu rumah dengan jalan hanya satu langkah. Pintu terbuka, ya depannya jalan. Meski bukan jalan raya, namun jalan ini ramai dilintasi motor dan mobil.

Dinding kayu tripleknya berwarna tak beraturan dari mulai hijau, kuning hingga biru muda. Atapnya berharmoni antara asbes dan spanduk-spanduk bekas. Di depannya ada dua gantungan baju yang dijemur ketika kami ke sana. Sekali masuk langsung terlihat kasur kapuk dan berbagai perlengkapan rumah bertumpuk.

“Sudah 12 tahun tinggal di sini,” kata pemilik rumah tak berjendela itu, saat ditemui di kediamannya, Kamis (25/5). Namanya Sudiyatmi (63). Ia tinggal bersama anak, menantu dan dua cucu. Meski tinggal di rumah senja ia juga masih menampung dua anak yatim yang hidup bersamanya.

“Suami saya meninggal di usia 81 tahun. Baru kemarin memperingati 100 hari kematiannya,” lanjut ibu yang bekerja serabutan yang dibantu anak dan menantunya, itu.

Rumahnya terletak di belakang stasiun televisi swasta nasional di Jalan Mundu, Lubang Buaya, Jakarta Timur. Hanya itu satu-satunya rumah yang mepet jalan. Tak jauh dari situ ada dua gereja batak berdiri. Tempat tinggalnya sempat diperkarakan oleh ketua rukun tetangga namun tak berlangsung lama karena ia berdiri di tanahnya sendiri.

Tiap hari rumahnya tak pernah ada kata sepi, bahkan hingga dini hari. Selalu ada bunyi mesin kendaraan bermotor. Suatu kali, ketika ia berniat mengambil air wudhu untuk sholat malam, ia mendengar suara yang mencurigakan.

Sudiyatmi pun mencari sumber suara itu, ternyata ada seorang laki-laki berniat memperkosa perempuan. Bergegas ia memanggil suaminya. “Laki-laki yang berniat jahat itu pun langsung ditimpuk bapak!” katanya menggebu.

Dengan bentuk rumah yang memprihatinkan itu, Sudiyatmi yang berkartu identitas Jakarta itu tetap betah dan tidak berniat kembali ke kampung halaman ke Jawa Tengah.

Meski kondisi demikian, tak lantas ia kerap dapat uluran tangan. “Yang sering ngasih sih biasanya IZI. Sering ngasih sembako ke saya,” kata Sudiyatmi ceplos.

Listrik rumah dayanya ia dapatkan dari tetangga di seberang tembok jalanan. Ia hanya perlu membayar ke Pak Sugeng, nama tetangganya, sebesar Rp 70 ribu.

Di bulan Ramadhan ini Sudiyatmi bisa menjalankan ibadah dengan tenang tanpa pusing memikirkan kebutuhan ekonomi.

“Alhamdulillah. Terima kasih,” kata Sudiyatmi ketika menerima dua bingkisan dari Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) yang diserahkan langsung oleh Direktur utama IZI Wildhan Dewayana.

IZI memang menyiapkan 1500 paket yang diberikan kepada keluarga dhuafa. Hal itu dilakukan untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

Tradisi tersebut sudah diadakan sejak awal berdirinya IZI. Yang agak berbeda, kata dia, dengan tahun sebelumnya paket Ramadhan kali ini diselenggarakan di awal Ramadhan.

“IZI melakukan ini sehingga diharapkan ketika awal ramadhan penerima manfaat ini bisa merasakan manfaatnya di awal,” ujarnya.

Orang seperti Sudiyatmi salah satu yang menjadi target penyerahan zakat IZI apalagi di bulan suci. IZI berniat menjemput bola tanpa harus merepotkan mereka yang menerima manfaat zakat.

Sudiyatmi pun mengenalkan Dimas Ramadhan, cucunya yang lahir di hari kedua bulan Ramadhan tahun kemarin. Lahir dengan mudah di kamar mandi, semudah berbagi kebaikan. (*/tety)