Menteri Yohana: Indonesia Komitmen Perangi Kekerasan pada Anak

Minggu, 28 Mei 2017

IMG-20170523-WA0042

JAKARTA (Pos Sore) – Indonesia yang diwakili oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise berkesempatan melakukan rountable discussion bersama Ratu Silvia dari Swedia, sebagai bagian negara-negara Pathfinder dalam kemitraan global untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak-anak di dunia.

Turut hadir dalam rountable discussion yang dilaksanakan di Hotel Mandarin tersebut Menteri Luar Negeri Margot Wallstorm, Sekertaris Negara untuk Menteri anak-anak, Kesetaraan Lansia dan Gender, Pernilla Barat, dan Duta Besar Kerajaan Swedia untuk Indonesia, Johanna Brismar Skoog untuk membahas bagaimana memerangi kekerasan terhadap anak-anak.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Yohana menyampaikan standpoint Pemerintah Indonesia dalam prioroitasnya terhadap Susitainable Development Goals (SDGs) dan memerangi kekerasan.

“Di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, kami memiliki tiga prioritas utama, dengan sebutan 3Ends,” ujar Yohana.

Salah satunya adalah mengakhiri Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. Kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak sangatlah berkaitan. Strateginya dengan menangani semua kekerasan terhadap perempuan dan anak secara holistik.

Untuk mengimplementasikan program 3Ends tadi, Indonesia juga menerapkan Strategi Nasional untuk mengakhiri Kekerasan Terhadap Anak, sebagai upaya menemukan solusi nyata mencegah dan merespon kekerasan pada anak.

“Ada enam strategi kemitraan, termasuk undang-undang dan kebijakan yang melindungi anak-anak dari segala bentuk kekerasan,” ungkapnya.

Dikatakan, Indonesia sebagai pihak pada Konvensi Hak-hak Anak dan Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan terus meninjau serta mengubah undang-undang dan kebijakan untuk memastikan dan menghormati hak anak-anak mendapat perlindungan dari kekerasan.

Strartegi kemitraan yang dilakukan oleh KPPPA di antaranya menjalin kerjasama dengan para tokoh masyarakat dan agama untuk mengubah norma sosial yang memungkinkan pernikahan anak.

Selain itu, mempromosikan berbagai program parenting seperti mendukung hubungan yang aman dan penuh kasih antara pengasuh dan anak untuk mencegah kekerasan, dan meningkatkan keterampilan dan ketahan hidup, serta menganjurkan pendidikan.

“Kami berusaha melalui strategi nasional, dapat meningkatkan kualitas dan ketersediaan data dan bukti sehingga kami dapat menargetkan sumber daya kami dengan lebih baik. Pemerintah melalui KPPPA akan meluncurkan studi prevalensi nasional tentang kekerasan terhadap anak-anak pada tahun 2018,” tambah Menteri Yohana.

Dalam paparannya pula, Menteri Yohana berharap agar kemitraan antara Indonesia dan Swedia semakin menguat. (tety)