Harkopnas 2017 di Semarang Dimeriahkan Atraksi Budaya

Minggu, 9 Jul 2017

IMG-20170708-WA0020

JAKARTA (Pos Sore) — Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga menghadiri peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-70 tahun 2017 tingkat provinsi yang diselenggarakan Pemprov Jawa Tengah.

Dalam pawai peringatan Harkopnas yang melibatkan seluruh kabupaten dan kota se-Jateng tersebut, menampilkan aneka kesenian, tari-tarian, gamelan, kerajinan tangan, dan sebagainya. Semuanya khas daerah Jawa Tengah.

Uniknya dalam arak-arakan itu ditampilkan juga ‘gunung-gunungan’ yang di dalamnya berisi aneka produk khas dan hasil bumi dari koperasi dan UKM yang mewakili daerahnya masing-masing. Di akhir acara masyarakat berebut mengambil isi ‘gunungan’ tersebut, sebagai puncak acara peringatan Harkopnas 2017 di Jateng

Menkop mengaku ini pertama kalinya acara Harkopnas diramu dengan nilai budaya yang tinggi. Karena, dalam pengembangan produk koperasi dan UKM tidak bisa lepas dari seni budaya khas daerah.

“Bila seni budaya dijaga tetap hidup, maka produk UKM kita akan ikut terangkat. Tema seperti ini harus terus dipertahankan,” tandas menkop, di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (8/7).

Puspayoga berharap komitmen para kepala daerah, khususnya di Jateng, dalam mengembangkan koperasi dan UKM dapat terus ditingkatkan. Karena, saat ini lebih mengedepankan pengembangan kualitas koperasi daripada kuantitas.

“Dari 152 ribu koperasi, setengahnya tidak sehat dan akan terus dibina agar menjadi sehat. Yang tidak bisa disehatkan akan kita tutup, berdasarkan rekomendasi dari daerah,” katanya.

Menkop mengatakan, sejak program Reformasi Total Koperasi digulirkan, sekitar 43 ribu koperasi sudah dibubarkan melalui SK Menteri Koperasi dan UKM.

Meski begitu, Puspayoga mengakui masih ada beberapa kendala yang menghambat pengembangan koperasi di Indonesia. Salah satunya, terkait pajak yang masih menjadi beban bagi koperasi.

“Saya akui, pajak koperasi masih terbilang tinggi. SHU kena pajak, sebelum dibagi pun sudah kena pajak. Pajak ganda istilahnya. Kami sudah sampaikan mengenai hal ini sejak dua tahun lalu. Semoga bisa segera direalisasikan Kementerian Keuangan sekarang ini,” jelas Puspayoga.

Puspayoga pun mencontohkan di negara maju seperti Singapura, koperasi tidak dikenakan beban pajak. Dan tidak ada satu negara pun yang menerapkan pajak bagi koperasi. Itu sebabnya, koperasi di sana bisa maju pesat. Di Singapura, sekitar 62% usaha ritel mampu dikuasai koperasi.

Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan dirinya pernah melakukan polling, yang hasilnya menyebutkan sekitar 62% responden menganggap koperasi sebagai lembaga keuangan yang masih diminati masyarakat.

Koperasi dianggap bisa berkembang sesuai keinginan para anggotanya. Bahkan, ada harapan besar koperasi bisa melindungi produk-produknya di pasaran. Intinya, koperasi dianggap bisa untuk melawan korporasi, namun di sisi lain juga bisa bersinergi dengan korporasi.

Dalam kesempatan itu pula, Gubernur Jateng menyebutkan ada sekitar tujuh maklumat dari masyarakat koperasi di Jateng bagi pengembangan koperasi ke depan. Pertama, melakukan revolusi pola pikir dalam berkoperasi sesuai amanat Pancasila, UUD 1945, serta nilai-nilai gotong royong.

Kedua, melakukan sosialisasi azas, nilai-nilai, dan prinsip berkoperasi melalui pendidikan formal dan non formal kepada pelaku koperasi, pemuda dan pemimpin opini.

Ketiga, membudayakan pelaksanaan azas, nilai, dan prinsip dalam praktek berkoperasi. Keempat, memerlukan penyempurnaan UUD 1945 Pasal 31 ayat 1, peraturan perundangan dan turunannya yang berpihak, dapat memberikan kemudahan dan perlindungan sesuai dengan kaidah pokok perkoperasian.

Kelima, merevitalisasi gerakan koperasi menuju penguatan kelembagaan. Keenam, mengembangkan usaha koperasi melalui kerjasama yang saling mensejahterakan dengan mengintegrasikan simpul-simpul produksi dari hulu sampai hilir.

“Ketujuh, mengembangkan dan mengelola koperasi secara kreatif dan inovatif serta didukung dengan teknologi informasi,” kata Ganjar. (*/tety)