Dekranas: Jatimnomics Atasi Kendala Klasik UKM

Kamis, 20 Jul 2017

JAKARTA (Pos Sore) — Dewan Kerajinan Nasiional (Dekranas) mengapresiasi konsep Jatimnomics yang digagas Pemda Jatim, dalam menangani kendala klasik yang dialami UkM (Usaha Kecil Menengah), yaitu produksi, permodalan dan pemasaran.

“Konsep Jatimnomics saya kira cukup ampuh dalam menyelesaikan persoalan klasik UKM. Kini tinggal UKM nya, apakah mau maju atau tidak,” kata Ketua Bidang Manajemen Usaha Dekranas, Bintang Puspayoga.

Bintang menegaskan hal itu usai membuka
‘Sinergi Kegiatan Kementrian Koperasi dan UKM (Kemenkop dan UKM) dengan Dekranas’, Rabu (19/7), di pendopo Kab Tuban Jawa Timur.

Penasehat DWP (Dharma Wanita Persatuan) Kemenkop dan UKM itu mengatakan pengrajin yang umumnya UKM itu juga harus meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam menghasilkan satu produk.

“Karena itulah pelatihan terus dilakukan khususnya yang vocational. Dan saya gembira pelatihan di Tuban ini adalah pelatihan lanjutan yang bisa membawa pengrajin dan UKM untuk bisa naik kelas ke jenjang yang lebih tinggi,” katanya.

Pelatihan lanjutan ini dilakukan antara lain karena Kab Tuban dinilai berhasil dalam omelakukan pelatihan dasar, khususnya ppelatihan vocational tenun Gedok yang merupakan salah satu kerajinan khas kab Tuban.

“Saya melihat hasil produksi tenun Gedok sekarang sudah jauh lebih bagus,” tambahnya.

Pengembangan potensi tenun Gedok ini, tidak akan berhenti sampai di sini saja, namun akan terus disempurnakan mulai dari modernisasi proses produksi sampai pendirian sentra penjualan pakaian jadi berbahan tenun Gedok.

Namun, kata Bintang, konsep pengembangan tenun Gedok ini mesti melibatkan semua unsur, baik Dekranas, Dekranasda Provinsi maupun Kabupaten, termasuk juga didalamnya dinas-dinas terkait baik di Pemda Provinsi maupun Kabupaten.

Dekranas akan membawa konsep pengembangan tenun Gedok ini dalam Rakernas pada akhir September mendatang.

“Akan kami jadikan role model untuk produksi 100 persen Indonesia, karena mulai dari bahan baku berupa kapas sampai jadi kain tenun maupun pusat penjualan pakaian jadi bernuansa konten lokal, ada dan dilakukan di dalam negeri,” kata Bintang.

Sementara itu, Kadis Koperasi dana UKM Jatim, Mas Purnomo Hadi, mengatakan kegiatan semacam ini ala dilakukan secara kontinyu di 38 kab di Jatim.

“Kita akan lakukan secara rutin sehingga semua UKM, wirausaha pengelola koperasi, dapat meningkatkan kualitas usahanya.

Kadis menjelaskan saat ini di Jatim ada 31.700 Koperasi dan 8 juta UMKM. Jumlah yang tidak sedikit. Karena itu, pembinaan usaha mikro diserahkan ke kabupaten masing masing.

“Untuk UKM oleh provinsi sedang menengah atas ke pusat,” jelasnya.

Kadis Mas Pur mengakui kendala pengrajin dan UKM terutama masalah pasar, produksinya dan pembiayaan. Itu sebabnya, Jatimnomics memiliki tiga
pilar pengembangan pengrajin, UKM maupun koperasi.

Ketika pengelola koperasi maupun UKM ada masalah produksi, maka akan dibantu melalui diklat /inkobantor/BDC (bussines developtment center) secara gratis.

“Kami menyiapkan semua mulai dari materi, tenaga ahli dan sebagainya,” katanya.

Untuk kendala permodalan, Jatimnomics melalui bank Jatim menyediakan
kredit tani dengan bunga 6 persen pertahun.

Dalam hal ini Lembaga Penjaminan Kredit Daerah (Jamkrida) menyiapkan dana penjaminan.

Pemda Jatim juga mengajak LPDB (Lembaga Pengelola Dana Bergulir) untuk ikut menyalurkan dana ke koperasi dan UKM, dan sudah terrealisasi lebih dari Rp 1 triliun dengan NPL (Non Performing Loan) dibawah 5 persen.

Sementara untuk masalah pasar,
seharusnya tidak perlu ditakuti, tapi jadi tantangan. Karena itu momen-momen penting seperti pameran dagang harus dimanfaatkan khususnya dalam menghadapi serbuan produk impor yang membanjir. (*/tety)