Pentingnya Regulasi dan Format Tarif Data Ideal

Rabu, 26 Jul 2017
(ki-ka): Menkominfo Rudiantara , Ketua KPPU Muhammad Syarkawi Rauf, Ketua YLKI Tulus Abadi, Ketua ATSI Merza Fachys, CEO Indosat Ooredoo Alexander Rusli, Komisioner BRTI Ketut Prihadi

JAKARTA (Pos Sore) — Setelah perang tarif SMS dan voice, operator seluler tanah air kembali menabuh genderang persaingan pada data. Sejumlah operator menawarkan berbagai kemudahan menggunakan layanan paket data.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, menyadari hal ini. Karena itu, pemerintah harus berada di titik optimal dalam melihat kepentingan industri telekomunikasi dan masyarakat sehingga ada keseimbangan.

“Harus ada kompetisi sehingga masyarakat mendapat opsi produk maupun layanan,” kata Chief RA, panggilan akrab Rudiantara, dalam diskusi interaktif telekomunikasi bertema ‘Mencari Tarif Data Ideal’, yang diadakan ITF (Indonesia Technology Forum), di Jakarta, Rabu (26/7).

Dalam diskusi ini juga menghadirkan pembicara kunci Presiden Direktur dan CEO Indosat Oredoo Alexander Rusli, Ketua ATSI (Asosiasi Telepon Selular Indonesia) Merza Fachys, Ketua KPPU (Komisi Pengawasan dan Persaingan Usaha), M Syarkawi Rauf, Komisioner BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) Ketut Pribadi, dan Ketua Harian Lembaga Yayasan Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

“Yang jelas saya tidak menetapkan floor price tetapi membuat formula tarif data yang memungkinkan operator masih mendapat ruang untuk bermanuver dalam berkompetisi,” tambahnya.

Menurut Alexander Rusli, terkait tarif data ini apabila tidak ada langkah dukungan dari pemerintah sulit bagi operator menahan penurunan yield data yang terjadi dalam beberapa tahun ini.

“Penurunan itu makin irrasional dan bisa menjadi tak prospektif lagi memberikan layanan data kepada masyarakat,” kata Alex.

Padahal, Merza Fachys menambahkan, potensi mobile broadband di Indonesia masih sangat besar. Tetapi, tetap mesti ada ekosistem yang mendukung pertumbuhan data seperti kompetitifnya operator.

Menyambut persoalan tarif data, Ketut menyatakan pihaknya akan segera mematangkan formula tarif sesuai amanat pasal 28 UU no.36 tahun 1999 tentang telekomunikasi.

“Kami masih membahas internal, bulan depan akan mengumpulkan operator, dan kira-kira dalam 3-4 bulan Peraturan Menteri (PM) tentang formula tarif data akan keluar,” kata Ketut.

Ia menjelaskan, dalam menyusun formula tarif tersebut terdiri dari biaya elemen jaringan (network element cost) ditambah biaya aktivitas layanan retail (retail services activity cost) dan profit margin. Artinya, PM 9/2008 akan segera diperbarui untuk mengakomodir layanan data.

Dari sudut pandang konsumen, menurut Tulus Abadi, tarif telekomunikasi baik voice, SMS maupun data seharusnya dikembalikan kepada apa yang dibutuhkan konsumen.

“Mereka membutuhkan layanan dengan kecepatan dan cakupan layanan yang besar, hingga kalau perlu menerapkan Standar Pelayanan Minimum agar ada standar yang disepakati bersama pada layanan yang diberikan oleh operator seluler,” tandasnya. (tety)