Kemenkop UKM Berikan Pelatihan Kewirausahaan Bagi UKM Disabilitas Bogor

Kamis, 27 Jul 2017

BOGOR (Pos Sore) — Penyandang disabilitas memiliki persamaan hak yang sama dalam berwirausaha di Indonesia. Karena itu, Kementerian Koperasi dan UKM kembali menggelar program rutin pelatihan kewirausahaan bagi pelaku UKM penyandang disabilitas.

“Mereka sudah memiliki unit usaha yang berkembang. Dengan pelatihan ini diharapkan mereka akan naik kelas dari usaha mikro ke kecil,” kata Deputi Bidang Pengembangan SDM Kemenkop UKM Prakoso BS, kemarin.

Dalam pelatihan itu, puluhan penyandang disabilitas dari Bandung, Bogor, Karawang, Indramayu, Purwakarta, dan Banjar (Jawa Barat) diberikan materi di antaranya perkoperasian, manajemen usaha, laporan keuangan, kemasan, pengurusan perizinan, pemasaran, dan sebagainya.

“Pelatihan kewirausahaan bagi kelompok strategis memang sesuai kebutuhan mereka. Bagi yang belum memiliki usaha, akan kita motivasi untuk mulai berwirausaha agar mampu hidup mandiri,” kata Prakoso.

Hasan Basri, selaku Ketua Himpunan Disabilitas Indonesia (HDI) Kota Bogor, mengatakan, dari total anggota HDI Kota Bogor yang mencapai 1000 orang, 20% di antaranya sudah dianggap berhasil dalam berwirausaha.

“Rata-rata anggota kami bergelut di bidang usaha menjahit, kerajinan tangan, produsen tas, perbengkelan, batik, hingga sablon,” kata Hasan yang kehilangan kedua tangannya saat kecelakaan tegangan tinggi listrik pada 2006.

Hasan menjelaskan, pelatihan kewirausahaan ini disesuaikan dengan kebutuhan penyandang disabilitas. Di antaranya, tunarungu, tuna daksa (polio, fisik), tuna grahita (keterbelakangan mental), dan tunanetra.

“Tujuan kami mengikuti pelatihan ini adalah ingin menimba ilmu kewirausahaan secara baik dan benar. Karena, selama ini kami memiliki unit usaha yang lahir secara otodidak. Kami ingin hidup mandiri seperti layaknya yang lain,” tuturnya.

Hasan yang memiliki usaha produksi tas wanita di Tajur, Bogor, dengan merek HS Collection, mengungkapkan ilmu yang didapat dari pelatihan ini nantinya akan ditularkan ke seluruh aggota HDI Kota Bogor.

Hasan pun berharap pemerintah terus meningkatkan porsi dan kuota pelatihan bagi penyandang disabilitas. Ke depan, pihaknya membutuhkan pelatihan khusus untuk usaha sablon.

“Karena, kami sudah memiliki lengkap alat sablon dari seorang donatur, namun belum bisa mengoperasikannya,” ungkap Hasan.

Agus Ruyadi asal Bogor yang tidak memiliki kaki secara sempurna, mengatakan dirinya baru menekuni usaha budidaya dan pengolahan obat herbal dari buah dan daun Tin sejak Februari 2017 dengan merek Teteh Tin.

“Di dalam kandungan buah Tin terdapat mineral dan vitamin yang sangat berguna bagi tubuh kita. Dan juga mampu menyembuhkan berbagai penyakit seperti hipertensi, jantung koroner, diabetes, dan sebagainya,” paparnya.

Agus berharap, pemerintah bisa memfasilitasi usahanya dalam pengurusan perizinan, hak cipta, merek, juga label halal dari MUI, bagi produknya. Di pelatihan ini, ia ingin mendapatkan pelajaran mengenai manajemen usaha yang sesungguhnya. (tety)