Ijazah Ditahan Sekolah, Wakil Rakyat Bertindak

Rabu, 2 Agu 2017

PEKANBARU – Wakil Ketua DPRD Provinsi Riau, Noviwaldy Jusman yang akrab dipanggil Dedet, mendatangi SMK Negeri 2 Pekanbaru untuk meminta Ijazah Rahmadani, murid SMKN 2 yang ditahan pihak sekolah selama 1 tahun

Kedatangan politisi dari Partai Demokrat ini ke SMKN 2 Pekanbaru, setelah mendengar langsung keluhan orang tua  Rahmadani tentang penahanan ijazah tersebut.   Di SMKN 2 Dedet diterima di ruang Kepala Sekolah , Suratno. Dalam perbincangan tentang  ijazah, Kepsek mengaku tidak mengetahui dan menyerahkan hal itu ke Wali Kelas dari Rahmadhani, Yusmiati.

Ketika dihubungi Possore.com Rabu (2/8) Dedet mengakui bahwa dia melakukan ini semua demia membantu anak bangsa yang mengharapkan bisa menggunakan ijazah untuk mencasri pekerjaan. Dia pun menceritakan kronologis peristiwa tersebut.

menurut Dedet, ketika  Yusmiati ditanya soal penahanan ijazah tersebut  masi berkelit dan mengatakan tidak menahan ijazah Rahmadani.

“Tidak ada kami menahan ijazahnya. Ijazah ini tidak diambil-ambil. Kita coba telepon tapi nomor handphone tidak aktif,” elak Yusmiati.

Dedet lalu mempertanyakan kepada Yusmiati apakah siswa tersebut ada tunggakan sebesar Rp3 juta di sekolahnya sehingga membuat sekolah menahan ijazahnya. Lagi-lagi, wali kelas ini tak mengaku.

“Bukan Rp3 juta. Uang sekolahnya belum lunas 6 bulan. Sebulannya 365 ribu. Totalnya Rp2,2 juta,” kata Yusmiati.

Dedet lalu meminta kepada pihak sekolah memberikan ijazah tersebut karena sangat berarti bagi Rahmadani melamar pekerjaan dan melanjutkan kuliah di kemudian hari untuk membantu orang tuanya yang susah saat ini.

Sartini, janda tua, ibu Rahmadhani mengaku bingung dan sedih saat menceritakan peristiwa pilu yang dialami oleh anaknya Ramadhani yang mengalami nasib buruk karena ijazah anaknya ditahan oleh pihak sekolah. Penahanan ijazah itu buntut dari tunggakan uang seragam sekolah dan SPP sebesar Rp3 juta yang tidak mampu dibayarnya karena himpitan ekonomi.

“Dia ini (Ramadhani,red) anak yatim nak. Bapaknya sudah 3,5 tahun meninggal dunia. Ijazahnya ditahan sudah setahun yang lalu. Jadinya anak saya ini kesulitan mendapat pekerjaan karena ijazahnya ditahan sekolah,” kata Sartini,.

Seperti dilansir sebuah media lokal di pekanbaru, mimpi Sartini untuk memperbaiki kondisi himpitan ekonomi anaknya kini harus pupus karena anak yang diharapkan menjadi tulang punggung keluarga tersebut, tak bisa mengambil ijazahnya usai menamatkan sekolah di SMK Negeri 2 Pekanbaru Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak.

“Bahkan minta fotocopy ijazah saja tidak dikasih oleh pihak sekolah. Bagaimana dia melamar pekerjaan nak kalau kondisinya seperti ini,” ucap Sartini dengan raut muka sedih. (hasyim)