Sebelum Studi di Belanda, Nuffic Neso Bekali Informasi 350 Pelajar Indonesia

Sabtu, 5 Agu 2017

IMG-20170805-WA0029

JAKARTA (Pos Sore) — Lebih dari 350 pelajar Indonesia berkumpul di Eramus Huis Jakarta, Sabtu (5/8). Mereka mengikuti acara Pre Departure Briefing yang setiap tahun rutin diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia.

Kegiatan yang dikemas semi formal ini bertujuan untuk memberikan bekal informasi. Selalu itu, agar para pelajar tersebut dapat saling mengenal satu sama lain.

“Sehingga pada saat mereka tiba di Belanda nanti mereka juga sudah mempunyai bekal koneksi,” jelas Direktur Nuffic Neso Indonesia, Peter van Tuijl.

Semua pelajar yang berkumpul di Eramus Huis mempunyai tujuan sama. Yaitu ingin mengembangkan diri mereka dengan cara melanjutkan studi di Belanda.

Walaupun tujuannya sama tetapi jenjang studi yang mereka ambil beragam, mulai dari S1, S2, S3, kursus singkat dan pertukaran pelajar.

“Sumber dana yang mendukung mereka untuk dapat melanjutkan studi pun beragam,” tambahnya.

Jika tahun-tahun sebelumnya mayoritas peserta Pre Departure Briefing adalah penerima beasiswa dari berbagai sumber, tahun ini jumlah penerima beasiswa seimbang dengan jumlah pelajar dengan biaya pribadi.

Adapun beasiswa untuk studi di Belanda dapat berasal dari pemerintah Belanda

Dalam sambutannya, Peter menyampaikan, Belanda adalah negara yang aman dan sistem transportasi umum yang sudah sangat bagus.

Karena luas wilayah Belanda tidak besar maka akan mudah terkoneksi dengan luar negeri. Peter juga menyarankan agar para pelajar mencoba naik sepeda di Belanda.

“Dengan menggunakan sepeda, selain cepat, sehat dan murah, juga merupakan suatu contoh praktek untuk kualitas hidup yang baik,” katanya.

Menurut Peter, saat kita memutuskan sekolah ke luar negeri maka bukan hanya mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kepribadian, tetapi juga kemampuan akademik akan berkembang.

Agar kemampuan akademik dapat berkembang, Peter menyarankan perlunya memupuk rasa keingintahuan, membiasakan mengeksplorasi dan berani mengajukan pertanyaan.

“Negara Belanda akan menjadi lingkungan yang baik untuk berlatih membiasakan hal tersebut,” ujarnya.

IMG-20170805-WA0028

Melalui rekaman video, Duta Besar Indonesia untuk Belanda, Y.M. I Gusti Agung Wesaka Puja menyampaikan, ada sekitar 1600an mahasiswa Indonesia yang sekarang sedang menuntut ilmu di negeri Belanda yang tersebar di 16 kota-kota besar di Belanda.

Atase pendidikan KBRI, Bambang Hari Wibisono, yang hadir mewakili Duta Besar Belanda di Indonesia mengingatkan para pelajar untuk jangan ragu menghubungi Kedutaan Indonesia.

“Para staff di Kedutaaan Indonesia akan siap membantu setiap harinya selama 24 jam,” katanya.

Ia menambahkan, walaupun luas wilayah negara Belanda tergolong kecil, namun Belanda banyak menghasilkan ide-ide besar dan inovatif.

Dalam sambutannya, Wakil Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Ferdinand Lahnstein, menceritakan bahwa Wi-Fi pertama kali ditemukan oleh orang Belanda.

“Dan masih banyak lagi penemuan dalam bidang geografi, matematika, fisika, biologi, kesehatan, hukum, filosofi, dan bidang lainnya,” tuturnya.

Ferdinand berharap pengalaman studi dan tinggal di Belanda akan memberikan inspirasi untuk memaksimalkan potensi diri.

Dalam acara ini juga didukung alumni Belanda dan perwakilan dari Persatuan Pelajar Indonesia di Belanda. Mereka berbagi informasi mengenai pengalaman mereka saat studi di Belanda.

Mereka menceritakan berbagai tips studi dan tinggal di Belanda melalui presentasi, quiz dan diskusi kelompok.

Bebagai isu dibahas mulai dari tips mempertahankan nilai akademis sampai bagaimana caranya mendapatkan makan halal, dan trik bersepeda. (tety)