Iklan Susu Kental Manis Dinilai Menyesatkan Konsumen

Selasa, 8 Agu 2017

JAKARTA (Pos Sore) — Gizi buruk pada anak tidak selalu disebabkan oleh kemiskinan. Pemahaman terbatas orangtua dalam memberikan asupan yang baik bagi balitanya juga ikut menjadi penyebabnya.

Hal ini diperparah dengan derasnya gempuran informasi komersial yang menyesatkan tentang makanan. Karenanya, perlu ada pengawasan yang kuat dari pemerintah terkait promosi produk pangan yang dapat membahayakan tumbuh kembang anak.

Begitu persoalan yang mengemuka dalam diskusi publik ‘Pemenuhan Hak Kesehatan Anak untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045’ yang diadakan Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia (YAICI) dalam rangka Hari Anak Nasional, di Aula Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Senin (7/8).

Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan Dr. Eni Gustina MPH, yang menjadi nara sumber dalam diskusi itu menyampaikan, banyak iklan produk makanan dan minuman yang menyesatkan konsumen.

“Salah satunya adalah susu kental manis, yang semestinya bukan untuk dijadikan minuman, namun ditampilkan sebagai susu untuk minuman keluarga,” paparnya.

Karenanya, Eni menghimbau agar masyarakat peduli dengan tayangan-tayangan iklan yang tidak sesuai. Masyarakat dapat melaporkan jika ada tayangan iklan produk pangan yang tidak sesuai dengan peruntukannya.

“Misalnya iklan susu kental manis. Susu kental manis itu isinya gula sama lemak. Tapi diiklan ditampilkan sebagai susu,” ungkapnya.

Menurutnya, visual iklan yang tidak tepat serta frekuensi tayang yang tinggi mengakibatkan masyarakat beranggapan susu kental manis adalah susu untuk diminum anak-anak. Bila hal ini terus berlanjut, dalam 20 tahun ke depan kesehatan anak-anak Indonesia jelas terancam.

“Asupan gula yang tinggi sejak dini beresiko obesitas dan diabetes, serta berpotensi menurunkan produktivitas generasi masa mendatang,” tegasnya.

Lebih lanjut, Eni meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk lebih proaktif mengawasi iklan pangan yang dapat membahayakan kesehatan anak yang tidak sesuai peruntukan produknya.

KPI dapat berpegang pada regulasi tentang penyiaran yang sudah ada. KPI seharusnya juga memiliki regulasi bahwa masyarakat dapat melaporkan tayangan dan iklan-iklan yang berpotensi menyesatkan.

“Setahu saya, KPI memiliki regulasi soal tayangan iklan yang menyesatkan, dan ada sanksi pidana serta denda 200 juta bagi yang melanggar,” jelas Eni.

Dewi Setyarini, Komisioner KPI Pusat yang turut hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut, menjelaskan langkah yang perlu dilakukan adalah menyatukan persepsi tentang tayangan ramah anak.

Apapun yang muncul di televisi harus dibuat dengan perspektif anak. Termasuk iklan susu kental manis yang substansi sebenarnya bukanlah susu, namun disebut sebagai susu.

“Untuk mewujudkan iklan ramah anak ini, diperlukan keterlibatan seluruh pihak. Untuk mengidentifikasi apakah konten sudah ramah anak, KPI tidak bisa melakukannya sendirian, melainkan butuh dukungan lembaga dan institusi terkait serta juga peran serta masyarakat,” ujar Dewi.

Susu kental manis pertama kali di produksi di Amerika pada abad ke-18, dengan cara menguapkan sebagian air dari susu segar (50%) kemudian ditambahkan gula 45%-50%. Karena sifatnya yang tahan lama pada saat itu banyak dipakai sebagai bekal tentara Amerika yang sedang terlibat perang saudara.

Dilihat dari komposisinya, susu kental manis mengandung 50% gula, 7,5% protein, 8,5% lemak serta 34% air dna bahan tambahan lainnya. Dalam setiap takaran saji (1 gelas = 150 ml air dan 4 sendok SKM), mengandung 20 gr gula atau setara dengan 2 sendok makan.

Jumlah tersebut terbilang tinggi mengingat anjuran asupan gula harian tidak melebihi 25 gr. Jika asupan gula berlebihan, dapat meningkatkan resiko obesitas dan diabetes.

Anggota Satgas Perlindungan Anak dan UKK Tumbuh Kembang ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR. dr.TB Rachmat Sentik, S.pA,. MARS, dalam kesempatan sama juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap gencarnya promosi makanan dan minuman dengan kandungan gula, garam, lemak tinggi yang berdampak pada pola pikir masyarakat.

“Anak yang seharusnya diberi ASI, akhirnya sudah dikasih makanan macam-macam yang mengandung gula. Anak yang seharusnya diberi susu pertumbuhan, akhirnya diberi minuman susu kental manis dengan alasan praktis dan ekonomis,” ujarnya.

Di sinilah, menurutnya, peran rekan-rekan profesi kedokteran untuk terus mengedukasi masyarakat tentang asupan gizi yang perlu dan tidak baik untuk anak.

Ke depannya, dr. Rachmat berharap ada kerjasama yang baik dari seluruh pihak untuk mewujudkan generasi emas Indonesia, seperti yang ditargetkan tercapai pada 2045.

Sosialisasi, edukasi dan penegakan regulasi akan pangan yang aman untuk anak memang menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun, produsen produk makanan dan minuman diharapkan juga mulai melakukan promosi yang bertanggung jawab dan memberikan edukasi kepada konsumen, mengenai kandungan produk, cara penggunaan dan takaran penyajian.

Jika konsumen teredukasi sejak dini, generasi penerus bangsa terhindar dari asupan makanan yang beresiko bagi kesehatan mereka di masa mendatang. (tety)