Mukernas KOWANI 2017: Perempuan Indonesia Wajib Jadi Ibu Bangsa

Kamis, 10 Agu 2017

JAKARTA (Pos Sore) – Musyawarah Kerja Nasional KOWANI (Kongres Wanita Indonesia) pada 8-9 Agustus 2017, telah menetapkan beberapa rokemendasi. Salah satu isu yang dianggap paling krusial yaitu peran ‘Ibu Bangsa’ yang dinilai dapat mengatasi sejumlah persoalan bangsa.

Ketua Umum KOWANI Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo M.Pd, menjelaskan, terkait rekomendasi itu, pihaknya meminta kepada pemerintah untuk mendukung pelaksanaan program-program kegiatan KOWANI. Program yang merupakan implementasi dan penjabaran peran dan fungsi ‘Ibu Bangsa’ sebagai landasan filosofis kiprah dan perjuangan perempuan Indonesia.

“Ini juga sejalan dengan program Nawaz Cita Bapak Presiden Joko Widodo,” kata Giwo usai Raker, di gedung Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), Jakarta, Rabu (9/8) malam.

KOWANI juga meminta pemerintah untuk mengembalikan perayaan ‘Hari Ibu’ kepada KOWANI. Karena berdasarkan hasil Keputusan Kongres Perempoean III tahun 1938 telah menetapkan 22 Desember hari lahir KOWANI sebagai Hari Ibu.

IMG-20170810-WA0001

“Pengembalian ini penting sebagai apresiasi atas kiprah dan perjuangan perempuan Indonesia sekaligus mengembalikan dan menjaga sejarah tetap pada tempatnya. Karena hari lahir KOWANI bagian dari rangkaian lahirnya Hari Ibu,” tegasnya.

Menurut Giwo, selama ini peringatan Hari Ibu lebih bersifat seremonial dan telah terjadi pergeseran nilai. Sejatinya Hari Ibu memiliki nilai sejarah perjuangan para perempuan Indonesia kala itu.

Sayangnya di masa-masa sekarang peran Ibu Bangsa sudah meluntur dan diabaikan, serta tidak dapat dipahami dan dijalankan oleh wanita Indonesia. Berdasarkan kongres tahun 1938 diputuskan semua wanita wajib menjadi Ibu Bangsa. Ini bukan suatu pilihan, tapi suatu kewajiban.

“Karenanya, sudah saatnya para perempuan Indonesia menjadi Ibu Bangsa yang berfungsi menyiapkan generasi bangsa yang berakhlak mulia, sehat, kuat, cerdas, dan ceria. Ini artinya menempatkan perempuan sebagai subyek atau pelaku pembangunan,” paparnya.

Giwo menekannya, menjadi Ibu Bangsa itu bukan hanya diemban oleh perempuan yang sudah menikah atau perempuan yang sudah menikah dan memiliki keturunan. Perempuan yang menikah tetapi tidak punya anak atau perempuan yang belum menikah sekalipun wajib menjadi Ibu Bangsa.

“Siapapun yang bergender perempuan wajib menjadi Ibu Bangsa. Kalau sebagian perempuan atau beberapa saja menjalankan perannya sebagai Ibu Bangsa Isyaallah permasalahan sosial dan anak akan tertuntaskan,” ujarnya.

Sebut saja kenakalan remaja, genk motor, pergaulan bebas vandalisem, dan suka membantah orang tua. Begitu juga prostitusi online dan sejenisnya, tenaga kerja wanita dan PRT yang berkonotasi rendah disertai kekerasan seksual.

“Angka putus sekolah dan penganguran yang sangat tinggi, tingkat pendidikan dan kepengasuhan terhadap akhlak mulia dan budi pekerti yang semakin menurun dan sebagainya,” urainya.

Dalam Raker itu juga direkomendasikan kepada para anggota KOWANI untuk terus meningkatkan kiprah dan perjuangan dalam bentuk program-program kegiatan yang merupakan implementasi dan penjabaran peran dan fungsi ‘Ibu Bangsa’ sebagai landasan filosofis kiprah dan perjuangan perempuan Indonesia.

Selain itu, membentuk Tim Kerja yang akan melakukan kajian, sinkronisasi, perumusan dan sosialisasi rancangan AD/ART, Peraturan Organisasi, dan kelengkapan organisasi lainnya terkait Anggota Daerah.

Tim Kerja ini sebagai respon atas aspirasi yang berkembang dari Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) dan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) untuk menjadi Anggota Daerah sebagai bagian integral KOWANI yang sebelumnya terpisah dan hanya dihubungkan benang merah saja.

“Semakin kompleksnya dinamika yang terjadi baik di pusat maupun di daerah, memiliki Anggota Daerah menjadi kebutuhan obyektif bagi organisasi,” terang Giwo.

Ini menjadi bagian integral organisasi dengan tetap mempertahankan dan menjunjung tinggi azas lembaga federasi sebagai wujud pengakuan dan penghargaan akan ekstitensi dan kekhasan yang menjadi kearifan lokal di setiap daerah. (tety)