Simposium Pembangunan Berwawasan Nusantara Upaya Kembalikan Jati Diri Bangsa

Jumat, 11 Agu 2017

JAKARTA (Pos Sore) – Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB), Forum Komunikasi Putra Putri TNI-Polri (FKPPI), Persatuan Purnawirawan TNI AD (PPAD) dan Mabes TNI AD, akan menggelar simposium yang bertujuan untuk merumuskan strategi budaya jangka panjang.

Ketua Panitia Simposium Letjen TNI (Purn) Slamet Supriadi. Sip. Msc. MM, menjelaskan, simposium Pembangunan Berwawasan Nusantara bertema ‘Pembangunan Karakter Bangsa untuk Melestarikan dan mensejahterakan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945′, ini digelar pada 20-22 November 2017.

Simposium yang bertujuan menghidupkan jati diri bangsa, ini rencananya dibuka oleh Presiden Joko Widodo. Hasil simposium ini akan dijadikan masukan ke Unit Kerja Presiden untuk Pemantapan Pancasila.

“Simposium bertujuan membangun karakter bangsa berdasarkan nilai-nilai keindonesiaan. Ini sesuai dengan Inpres 12/2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental. Revolusi mental dibutuhkan sebagai strategi pembangunan budaya dan pembentukan manusia Indonesia yang berkarakter,” jelas Ketua Bidang Pengkajian PPAD ini.

Juga sejalan dengan UU No 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Diharapkan dengan adanya UU ini maka pengelolaan kebudayaan ke depan semakin terarah dan mampu membangun peradaban yang lebih maju dan berkualitas.

Ketua Pembina Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) Pontjo Sutowo menambahkan, diadakannya simposium itu juga tidak lepas dari lambatnya pembangunan bidang budaya di Indonesia. Kondisi ini jauh berbeda dengan pembangunan bidang lainnya, seperti ekonomi dan politik.

“Pembangunan budaya itu lebih penting dibanding lainnya.  Suatu negara tidak akan maju, jika pengalaman budayanya tidak maju,” tegasnya usai FGD yang membahas ‘Penguatan Nilai Keindonesiaan dan Pembangunan Karakter Bangsa’, di Jakarta, Selasa (8/8).

Ia sangat menyayangkan pembangunan budaya di negara kita lambat. Karenanya, untuk mengejar keterlambatan ini perlu dilakukan sedini dan sefektif mungkin.

“Percepatan pembangunan budaya kita sudah sangat krusial,” tandas Ponco yang juga Ketua Forum Komunikasi Putra Putri TNI-Polri (FKPPI) ini.

Dalam pandangannya, budaya menjadi salah satu poin penting yang dapat menentukan Indonesia apakah sebagai negara pemenang atau pecundang.

“Kalau Indonesia ingin bertahan hingga 1.000 tahun lagi, maka masyarakat harus mampu mengidentifikasi apa saja yang dibutuhkan untuk bisa bertahan,” ujarnya. 

Pemerhati budaya dari YSNB Bambang Pharmasetiawan menambahkan, pembangunan budaya di Indonesia lebih banyak pada pembangunan artefak atau benda dari pada membangun atau menanamkan nilai-nilai kebudayaan.

Maka tak heran jika generasi muda lebih mencintai kebudayaan yang masuk dari luar. Sebut saja Korean Pop (K-pop) yang berasal dari Korea Selatan, dibandingkan mencintai kebudayaan sendiri.

“Padahal dalam lagu kebangsaan kita tertera bahwa yang perlu dibangun terdahulu adalah jiwanya, baru badannya,” paparnya. 

Pendidikan karakter yang digaungkan pemerintah saat ini, menurutnya, akan lebih tepat dilakukan jika dilaksanakan melalui berbagai kegiatan budaya. Jadi tak hanya penanaman pendidikan karakter, tetapi juga nilai budaya bangsa sendiri.

Pihaknya sangat menyayangkan pemahaman masyarakat Indonesia terhadap budaya masih kurang. Masyarakat selalu menganggap budaya adalah kesenian.

“Padahal, budaya itu adalah nilai yang harus jadi pegangan bangsa sehingga pembangunan budaya menjadi sangat krusial,” tegasnya. (tety)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015