KOWANI Ajak 250 Anak Yatim Dhuafa Nobar Film ’12 Menit Kemenangan untuk Selamanya’

Senin, 14 Agu 2017

IMG-20170813-WA0076

JAKARTA (Pos Sore) — Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) mengajak sekitar 250 anak yatim dhuafa menonton bareng (nobar) film ’12 Menit Kemengan Untuk Selamanya’ produksi Big Pictures, di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (13/8).

Ketua Umum KOWANI, Giwo Rubianto Wiyogo, mengatakan kegiatan nobar ini dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional dan HUT Kemerdekaan RI ke-72. Diharapkan dengan nonton bersama ini anak-anak mendapatkan hak-haknya, dalam hal ini hak untuk rekreasi.

Sebenarnya film produksi tahun 2014 itu sudah pernah ditonton. Karena film ini dinilai sangat inspiratif bagi semua kalangan, terutama anak-anak, maka film ini layak untuk ditonton kembali.

“Film ini sangat inspiratif. Saya melihat tidak ada lagi film anak-anak yang seinspiratif ini, yang mendidik anak-anak untuk tetap semangat, disiplin, tidak mudah putus asa dalam menggapai mimpi, nilai-nilai patriotisme, perjuangan, kerja keras, kerja sama, pantang menyerah dan nilai-nilai baik lainnya,” terang Giwo.

Menurutnya, film anak-anak yang mengajarkan tentang patriotisme dan nilai-nilai perjuangan saat ini sangat langka. Tema-tema tentang patriotisme dinilai tidak begitu menarik untuk dijual sehingga produser film tidak mau memproduksi film dengan tema yang demikian.

“KOWANI sangat prihatin dengan kondisi ini. Dunia anak saat ini banyak disuguhi dengan nilai-nilai yang tidak mendukung pada perkembangan jiwa anak. Misalnya film-film tentang perilaku dan kehidupan glamour, hedonisme, tawuran, narkoba dan lainnya,” ujarnya.

KOWANI saat ini sedangkan menjalankan fungsinya sebagai Ibu Bangsa dalam mencetak generasi bangsa. Karena dalam kehidupan sehari-hari anak sudah dihadapkan dengan berbagai tantangan tersebut.

“Bagaimana kemajuan teknologi informasi, bagaimana gadget telah mempengaruhi kehidupan dan perilaku anak,” jelas Giwo.

Giwo berharap tayangan film tersebut memberikan inspirasi pada anak-anak tentang arti kerja keras, nilai persahabatan dan perjuangan.

“Kami ingin anak-anak tidak lupa sejarah, dan lebih menghargai perjuangan para pahlawan yang sudah berjuang demi negeri ini. Tentunya penghargaan tersebut diwujudkan sesuai dengan peran kehidupan anak-anak seperti belajar dengan baik, memiliki prestasi dan lainnya,” kata Giwo.

Giwo berharap insan perfilman Indonesia membuat film-film anak lebih banyak lagi agar anak Indonesia memiliki hiburan yang bermutu dan mendidik.

Direktur Eksekutif Big Pictures, Somad Sutedja, mengatakan, film yang disutradarai Hanny R Saputra tersebut mengambil latar belakang Kota Bontang di Kalimantan Timur.

Bercerita tentang bagaimana group marching band kota tersebut berjuang memenangkan ajang marching band tingkat nasional.

Latihan beribu-ribu jam disertai dengan dinamika kehidupan para anggota marching band akhirnya membuahkan hasil ketika dalam even yang berlangsung di Jakarta, group marching band asal Bontang menjadi juara umum.

“Ini bukanlah sekedar film, tetapi kisah nyata dari Kota Bontang pada beberapa tahun silam,” tambahnya. (tety)