Direktur Polimedia: Pendidikan Tinggi Vokasi Cetak Mahasiswa Entrepreneur

Selasa, 15 Agu 2017

IMG_20170815_091808

JAKARTA (Pos Sore) – Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) Sarmada S.sos, mengungkapkan, dari 4.500 perguruan tinggi yang ada di Indonesia, hanya 43 saja yang merupakan pendidikan vokasi (kejuruan) seperti politeknik.

“Pendidikan vokasi baru 5 persen. Ini sangat kecil dibanding universitas. Masyarakat kerap menyepelekan peran politeknik dalam upaya membantu meningkatkan kualitas pendidikan nasional,” paparnya, di hadapan mahasiswa baru angkatan ke-10 Polimedia yang mengikuti Pengenalan Sistem Pendidikan Politeknik (PSP2), Selasa (15/8).

Dalam kegiatan ini Polimedia menghadirkan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Zulkifli Hasan dan pengusaha sukses yang juga pakar ekonomi kreatif Tanri Abeng, yang menyampaikan orasi ilmiah kepada sekitar 1500 peserta yang meliputi mahasiswa baru, civitas akademi, dan para staf pengajar.

Sarmada melanjutkan, minimnya jumlah pendidikan vokasi di Indonesia, berbanding terbalik dengan negara-negara maju seperti AS, Korea dan Jepang. Di negara maju tersebut, pendidikan vokasi mendominasi penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Saat ini pemerintah telah mengubah kebijakannya dengan memperbanyak pendidikan vokasi baik untuk level pendidikan tinggi maupun pendidikan menengah. Namun, untuk pendidikan tinggi vokasi memang membutuhkan SDM pengajar yang menguasai dan ahli dalam bidang pendidikan vokasi.

“Selama ini politeknik dianggap perguruan tinggi kelas dua, bukan idaman. Sekarang, pemerintah akan jadikan politeknik yang terbaik di Indonesia,” ujarnya.

Karena itu, Sarmada mendorong mahasiswa baru Polimedia untuk terus belajar dan menguasai keahlian yang dipelajarinya dengan baik. Selain terbuka peluang untuk menjadi entrepreneur yang handal, lulusan Polimedia juga bisa saja menjadi pengajar baik di level pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi.

Dikatakan, nilai yang diberikan dalam pembelajaran mahasiswa vokasi untuk menjadi lulusan yang siap kerja dengan baik, seperti sikap hingga kedisiplinan. Yang di terapkan pendidikan politeknik adalah jujur, tanggung, cerdas, cermat, mampu bekerjasama yang akan memberikan kedisiplinan dalam tepat waktu, tepat ukuran dan tepat aturan.

Sarmada juga mengingatkan akan persoalan yang kini dihadapi oleh para mahasiswa. Terutama ancaman dengan makin maraknya gerakan radikalisme yang propagandanya salah satunya dilakukan melalui media sosial.

“Saya berharap mahasiswa teliti dan berhati-hati dengan gerakan-gerakan radikalisme. Jangan mudah terpengaruh, bekali diri dengan pengetahuan dan pemahaman bahwa Indonesia sejak berdiri memang merupakan negara dengan keberagaman penduduk,” tambahnya.

Indonesia yang dibangun oleh para pendiri bangsa dengan keberagaman suku, bangsa dan agama, juga budaya yang melahirkan UUD 1945 dan Pancasila. Jangan jadikan Pancasila hanya sebagai simbol semata. Harian diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. (tety)