Sesmenkop UKM: Era Bunga Rendah Peluang Bagi KSP/USP

Rabu, 23 Agu 2017

IMG_20170823_102241

JAKARTA (Pos Sore) — Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram mengakui, era bunga murah single digit merupakan tantangan tersendiri bagi kalangan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan koperasi yang memiliki unit simpan pinjam (USP).

“Namun, bila bunga bank dibandingkan dengan bunga di KSP tentu tidak bisa secara apple to apple sehingga tidak bisa pula menempatkan bank sebagai kompetitor bagi KSP,” kata Agus saat membuka Dialog Interaktif ‘Tantangan KSP di Era Bunga Murah’, yang diadakan Forum Wartawan Koperasi (Forwakop), di Jakarta, Rabu (23/8).

Hadir sebagai pembicara dalam diskusi ini yaitu Direktur LPDB-KUMKM Braman Setyo, Deputi Bidang Pembiayaan Kemenkop UKM Yuana Sutyowati, Direktur Pengawasan LKM OJK Suparlan, Ketua Umum Kospin Jasa Andi Arslan Djunaid, Kadiv Bisnis Penjaminan Syariah Perum Jamkrindo Ceriandri Widuri, dan Direktur Kepatuhan dan Manajemen Resiko PT PNM Arief Mulyadi.

Agus melanjutkan, karakter antara bank dengan KSP berbeda. Baik dilihat dari peraturan perundang-undangannya maupun dilihat dari sistem pengelolaan atau SOP-nya. Perbedaan tersebut terutama terletak dalam proses pinjaman.

Jika di bank bunganya lebih rendah dan persyaratan lebih ketat, sementara di KSP bunga lebih tinggi serta persyaratan relatif lebih mudah dan sederhana. Bila di bank lebih berpedoman pada sukses penyaluran dan pengembalian yang lancar, sedangkan di koperasi, ada tambahannya yaitu adanya pendampingan dan pelatihan.

“Implikasinya, selama koperasi berkualitas dan profesional melayani anggota, maka bunga bukan hal yang utama. Saya yakin, KSP dan USP masih memiliki ruang untuk kompetitif. Bahkan kalau dilihat dari kebutuhan pembiayaan skala mikro dan kecil, kebutuhan atau demandnya masih amat besar,” urainya.

Menurutnya, kondisi itu menjadi peluang bagi KSP untuk memenuhi kebutuhan tersebut secara profesional dengan tingkat pelayanan kepada para anggotanya berjalan secara prima dan memuaskan.

“Jadi, meskipun bunga pinjaman di KSP lebih tinggi dengan Bank, KSP tetap dapat bersinergi secara sehat dengan perbankan dalam memenuhi kebutuhan modal para pelaku usaha,” tandas Agus.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Kospin Jasa Andi Arslan Djunaid, mengungkapkan, saat ini KSP di Indonesia dalam kondisi mengenaskan karena keberadaan KUR, kredit UMI (Usaha Mikro Indonesia), dan sebagainya.

“Pemerintah sepertinya hanya fokus pada perkuatan permodalan UKM tapi tidak kepada perkuatan kelembagaan koperasi, khususnya KSP,” tegas Andi.

Karena itu, dirinya dan pelaku KSP lainnya sepakat mendukung hasil Kongres Koperasi III di Makassar, yang salah satunya merekomendasikan agar menjadi Kementerian Koperasi saja, tanpa UKM.

“Perkuatan UKM itu hasilnya untuk UKM itu sendiri, sementara bila perkuatan lembaga koperasi hasilnya bisa dinikmati oleh banyak orang, anggota koperasi, dan juga pelaku UKM,” jelas Andi.

Andi menambahkan, dengan cost of fund rata-rata KSP yang berkisar 18%, maka mustahil bagi KSP untuk bersaing. “Kami bukan pesimis, hanya saja harus ada jalan keluar agar bisa lebih kompetitif,” ujarnya.

Selama ini, kata dia, KSP jalan sendiri-sendiri sesuai tata kelolanya. Harusnya, ada rambu atau rel yang kita tidak boleh ke luar dari sana. Di samping itu, harus ada insentif dari pemerintah untuk perkuatan kelembagaan KSP.

Sementara itu, Direktur Kepatuhan dan Manajemen Resiko PT PNM Arief Mulyadi, mengaku pihaknya tidak berhadapan langsung dengan koperasi dalam penyaluran kreditnya. Tetapi lebih kepada pemberdayaan masyarakat.

Ia menyebutkan, salah satu produk unggulan PNM, Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera), merupakan layanan pemberdayaan melalui pembiayaan berbasis kelompok bagi perempuan pra-sejahtera pelaku usaha super mikro.

“Tanpa jaminan, metode tanggung renteng, pertemuan mingguan, pembiayaan Rp2 juta hingga maksimal Rp5 juta, kelompok 10-30 orang, untuk usaha produktif, budaya menabung, serta peningkatan kerukunan, kekeluargaan, dan gotong-royong,” jelas Arif.

Menurut Arief, sejak diluncurkan pada akhir 2015 dengan target perempuan pra sejahtera, hingga Juni 2017 jumlah nasabah Mekaar sudah mencapai 1.001.977 nasabah. Pada akhir 2017 ditargetkan akan mencapai 2 juta nasabah.

Sementara produk ULAMM lebih menyasar untuk meningkatkan kapasitas usaha mikro dan kecil, serta menyediakan modal untuk pengembangan usaha mikro dan kecil. “Pengembangan kapasitas usaha atau PKU dilakukan sebagai komitmen PNM untuk memajukan usaha nasabah UMK PNM,” ucap Arief.

Sedangkan Kadiv Bisnis Penjaminan Syariah Perum Jamkrindo Ceriandri Widuri mengajak semua pihak untuk bersinergi memperkuat kelembagaan koperasi, khususnya KSP.

“Karena, Perum Jamkrindo takkan pernah bisa lepas dari koperasi. Sejarahnya, di era 1970-1981, nama Perum Jamkrindo adalah Lembaga Jaminan Kredit Koperasi. Jadi, awal kita memang sebagai penjamin bagi kredit koperasi,” kata Ceriandri.

Ceriandri pun mengingatkan kalangan koperasi akan prinsip-prinsip penjaminan. Salah satunya menyebutkan, kredit yang layak dijamin apabila memiliki kelayakan usaha.

“Jamkrindo yang akan menjamin kreditnya atau menjamin risiko kegagalan usaha. Makanya, kami berkepentingan agar kelembagaan KSP harus bagus. Saat ini, kami baru menjamin dua koperasi berkinerja bagus, yaitu Kospin Jasa dan Koperasi Nusantara,” tutur Ceriandri. (tety)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015