Hadapi Perang Generasi IV, Indonesia Harus Bangun Ketahanan Budaya

Sabtu, 26 Agu 2017

JAKARTA (Pos Sore) — Menjelang Simposium Nasional Kebudayaan bertema ‘Pembangunan Karakter Bangsa untuk Melestarikan dan Mensejahterakan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945′,
Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD) – Mabes TNI AD – Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI/Polri (FKPPI) – Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) kembali menggelar Focus Group Discussion (FGD).

Tema yang diangkat dalam diskusi Kali ini yaitu ‘Membangun Ketahanan Budaya dalam Menghadapi Perang Generasi IV’. Menghadirkan pembicara Prof. Dr. Syarifudin Tippe, Prof Dr Mufti Mubarok, dan Ketua Umum FKPPI Pontjo Sutowo.

Dalam diskusi itu terungkap permasalahan Indonesia menghadapi ancaman perang generasi keempat (perang G-4). Pada perang ini, musuh baik dari dalam negeri maupun luar negeri menggunakan senjata non militer untuk melumpuhkan ketahanan bangsa.

“Tetapi perlu diingat, perang dengan senjata non militer sangat berbahaya. Karena yang diserang adalah sendi-sendi dasar negara, sistem nilai dan tatanan institusional kebudayaan,” jelas Pontjo Sutowo, yang menjadi narasumber FGD seri ke-2, di Jakarta, Kamis (24/8).

Ia mengingatkan, jika sistem nilai dan tatanan institusional kebudayaan bangsa Indonesia dapat dilumpuhkan, maka tinggal tunggu waktu saja bangsa dan negara Indonesia akan bisa dikuasai, baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena dalam sistem nilai dan tatanan institusional kebangsaan itu terletak kekuatan dan kelemahan bangsa Indonesia.

Pontjo mengingatkan, asing saat ini menyerang bangsa kita melalui sarana non militer dan berbagai proksi (agen atau bonekanya). Serangan dengan cara seperti ini amat sulit untuk dideteksi.

“Tetapi beruntung bulan-bulan terakhir ini gagasan perang generasi keempat makin banyak dibicarakan masyarakat seiring meningkatnya kesadaran masyarakat betapa berbahayanya perang generasi keempat ini,” tegasnya.

Menurutnya, budaya menjadi salah satu upaya membentengi bangsa ini dari ancaman perang generasi keempat. Sayangnya pembangunan budaya masih terabaikan di negeri ini, karena pembangunan budaya masih diidentikkan dengan artefak dan seni.

“Di Indonesia, pembangunan masih fokus pada fisik. Kebudayaan paling lambat mengalami kemajuan pembangunan, karena dianggap tidak penting,” kata Pontjo.

Letjen (Pur) TNI Slamet Supriadi Sip. Msc, MM, pengurus PPAD yang juga ketua panitia FGD, menegaskan, pembangunan nasional selama ini masih fokus pada pembangunan fisik dan material.

Kita sudah abai terhadap hal-hal yang prinsip, yang berhubungan dengan nilai dan karakter. Akibatnya pembangunan belum menghasilkan Indonesia yang berkemajuan. Dalam bidang pendidikan saja misalnya, muncul sistem pendidikan yang carut-marut.

“Ganti pemerintah, ganti menteri maka akan terjadi pergantian kurikulum, pergantian buku dan lainnya. Hasilnya, generasi muda berperilaku hedonisme. Bahkan melakukan budaya sendiri dianggap sebagai hal yang kuno,” paparnya.

Pun demokrasi yang berlangsung di Indonesia saat ini, cenderung dibawa ke alam demokrasi yang bebas sebebas-bebasnya. Tidak ada batasan aturan main.

Menyadari hal itu, PPAD-Mabes TNI AD, FKPPI dan YSNB berupaya mencari format yang tepat untuk mendorong pemerintah melakukan pembangunan kebudayaan. Format tersebut tentu atas dasar masukan dari berbagai pihak, para pakar budaya, akademisi dan negarawan yang akan dihimpun melalui berbagai forum. Salah satunya melalui serial FGD ini. (tety)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015