Menteri Pertanian Luncurkan Varietas Padi Green Super Rice

Minggu, 27 Agu 2017

IMG_20170827_085049

JAKARTA (Pos Sore) – Menteri Pertanian Amran Sulaiman meluncurkan varietas baru padi Green Super Rice (GSR) yakni Inpari 42 Agritan GSR dan Inpari 43 Agritan GSR, Senin (21/8). Varietas padi ini memiliki banyak kelebihan, seperti berproduksti tinggi, sanggup bertahan saat kekeringan dan kebanjiran, serta tahan terhadap hama.

Amran menjelaskan, bibit jenis ini mampu mengurangi penggunaan input seperti pestisida, pupuk kimia, dan air. Selain itu, varietas padi GSR mampu berproduksi tinggi dalam kondisi sub-optimum, seperti kekeringan dan kebanjiran (amphibi). Begitu juga dengan ketahanannya dalam menghadapi terjangan hama wereng yang kerap datang.

“Produktivitasnya bisa mencapai 10 ton per hektar, tahan wereng dan kekeringan. Jadi sekarang kita bisa selesaikan masalah hama wereng,” terangnya.

Varietas ini pernah diuji coba dalam kondisi serangan hama wereng cokelat di Karawang, Indramayu, Cilacap, Banyumas, dan Kebumen. Ternyata hasilnya sangat memuaskan. Bahkan varietas ini memiliki hasil beras (randemen) tinggi yakni lebih dari 65%.

“Secara fisik penampilan beras bening seperti kristal dan rasa nasi pulen yang disukai kebanyakan masyarakat Indonesia,” tukas mentan.

Benih varietas Inpari 42 Agritan GSR dan Inpari 43 Agritan GSR itu sendiri telah diproduksi di Unit Produksi Benih Sumber (UPBS) BB Padi dan didistribusikan kepada pihak-pihak terkait, seperti UPBS Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan, serta produsen benih.

“Padi jenis baru ini merupakan bentuk dedikasi pemerintah kepada masyarakat, supaya mendapatkan gabah dan beras dengan kualitas yang baik dan kuantitas yang mencukupi. Harapannya, benih dengan mutu terbaik terus menyebar luas dan memberikan dampak pada kesejahteraan petani,” kata mentan.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementan Muhammad Syakir, menjelaskan, istilah Super menekankan pada kemampuannya memberikan hasil panen yang tinggi, sedangkan istilah Green menekankan pada kemampuannya untuk berdaya hasil tinggi meskipun pada kondisi input usahatani yang relatif rendah.

Karakteristik Inpari 42 Agritan GSR Umur 112 hari setelah semai, Potensi hasil 10.6 ton/ha, tekstur nasi pulen, kandungan amilosa 18.8%, rendemen beras giling 69.4%, agak tahan wereng batang coklat biotipe 1. Agak tahan hawar daun bakteri patotipe III, tahan blas daun ras 073. Agak tahan blas daun ras 033.

Sementara itu, untuk keunggulan varietas Inpari 43 Agritan GSR yaitu umur 111 hari, setelah semai, potensi hasil 9.2 ton/ha, tekstur nasi pulen, kadar amilosa 19.0%, rendemen beras giling 70.1%, tahan hawar daun bakteri patotipe III, agak tahan hawar daun bakteri patotype IV dan VIII. Tahan Blas daun ras 073 dan 133, dan agak tahan blas daun ras 033.

“Dua varietas padi ini terbukti ampuh menahan hama wereng cokelat dan kekeringan. Varietas ini sudah diuji coba dalam kondisi serangan hama wereng cokelat di Karawang, Indramayu, Cilacap, Banyumas, dan Kebumen,” jelasnya.

Petani setempat berminat terus menanam kedua varietas tersebut secara luas. Kedua varietas GSR ini, juga memiliki hasil beras (randemen) tinggi yakni lebih dari 65%.

Benih varietas Inpari 42 Agritan GSR dan Inpari 43 Agritan GSR telah diprodukdi di Unit Produksi Benih Sumber (UPBS) Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi) dan didistribusikan kepada pihak-pihak terkait, seperti UPBS Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), serta produsen benih.

Hingga Juli 2017, UPBS BB Padi telah mendistribusikan benih sumber Inpari 42 Agritan GSR dan Inpari 43 Agritan GSR masing-masing sebanyak 1,4 ton dan 1,3 ton yang tersebar di Propinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Saat ini stok benih Inpari 42 Agritan GSR dan Inpari 43 GSR masing-masing sebanyak 3,5 ton dan 5,3 ton benih sumber. Ke depan, diharapkan benih tersebut terus menyebar luas dan memberikan dampak kepada kesejahteraan petani.

Sifat kedua varian ini adalah amphibi atau mudah beradapatasi ketika kekurangan air pada musim kering dan dapat tergenang air selama 2 minggu. Rendemen beras dari padi ini bisa lebih dari 65%. Sementara pemberian pupuknya lebih irit, hanya 75% dari biasanya.

Kedua varietas padi ini memiliki produktivitas lebih besar dari padi jenis lainnya. Kementerian Pertanian men at at rata-rata padi di Indonesia memiliki produktivitas 5-6 ton gabah kering giling per hektare. Sementara Inpari 42 dan 43 bisa menghasilkan 10 ton gabah kering giling per hektare. (tety)

Populer
Terkomentari
Bertekad Terus Berjuang
Prabowo: Jangan Jadikan RI Jadi Pesuruh Asing
Jumat, 22 Agustus 2014
Yang Muda Yang Berprestasi
‘Drizzle’ Gebrak Blantika Music Thrash Metal Di Bekasi
Minggu, 2 Maret 2014
ie_osh Batik Terobos Pasar Dunia
Sabtu, 22 Maret 2014
Dinilai Tak Mampu Dongkrak Daya Saing Industri
Jokowi Diminta Copot Saleh Husin
Senin, 8 Juni 2015
Tiga SKPD di Tasikmalaya Saling Tuding
Keberadaan Gudang Meresahkan Warga
Kamis, 8 Oktober 2015