Lembaga Keagamaan Berperan Membangun Karakter Bangsa

Jumat, 8 Sep 2017

JAKARTA (Pos Sore) — Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD)- Mabes TNI AD, Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri Tni/Polri (FKPPI)  dan Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) kembali menggelar FGD.

FGD seri ketiga ini mengangkat tema ‘Peningkatan Peran Lembaga-Lembaga Umat Beragama Dalam Pembangunan Karakter Bangsa’. FGD ini dalam rangka penyelenggaraan Simposium Nasional Kebudayaan bertema ‘Pembangunan Karakter Bangsa untuk Melestarikan dan Mensejahterakan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945′,

Dalam FGD tersebut ditegaskan lembaga agama ikut berperan dalam pembentukan karakter bangsa. Melalui agama, setiap insan memiliki pedoman nilai yang jelas dan dapat membangun budi pekerti yang positif.

Ironinya, aksi kekerasan, terorisme dan radikalisme kini banyak dikaitkan dengan agama. Agama Islam yang paling sering dicap sebagai simbol terorisme. Padahal kekerasan dan intoleransi tidak ada kaitannya dengan agama.

“Karena orang beragama, apapun agamanya selalu diajarkan untuk tidak melakukan tindak kekerasan, diajarkan untuk saling menghargai,” tegas budayawan yang juga Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan, Jaya Suprana, yang menjadi narasumber FGD, di Jakarta , Kamis (6/9).

Meski agama mengajarkan kebaikan, menurut Jaya Suprana, agama juga berpotensi membentuk pola pikir manusia secara negatif. Akibatnya timbul kekerasan dan tragedi kemanusiaan yang mengatasnamakan dan berlatar belakang agama. Sebut saja ISIS, atau tragedi kemanusiaan muslim Rohingya di Myanmar.

“Karenanya, pembangunan karakter bangsa harus dimulai dari penguatan peran lembaga-lembaga umat beragama. Sehingga melahirkan satu keterpaduan dan keyakinan bahwa semua agama tidak membenarkan kekerasan,” paparnya.

Jaya Suprana melanjutkan pembenaran kekerasan oleh lembaga-lembaga umat beragama pasti akan membawa dampak negatif dibanding positif, dan proses destruktif dibanding konstruktf. 

“Maka risiko dampak dari negatif dan destruktif ini harus dicegah dengan upaya preventif dan promotif yang melibatkan lembaga-lembaga beragama,” tegasnya.

Jaya Suprana mencontohkan bagaimana hebatnya dampak dari tidak berfungsinya lembaga-lembaga beragama dalam kasus tragedi kemanusiaan Muslim Rohingya di Myanmar. Jika saja sejak awal lembaga-lembaga beragama di negara tersebut  satu suara menolak kekerasan, tentu tragedi muslim Rohingya tidak perlu terjadi.

“Sejak awal lembaga beragama di Myanmar tidak bersuara, sehingga pemerintah dan militer semakin tidak peduli dengan Muslim Roghingya di Rakhine,” ujarnya.

Ia juga mengecam sikap penerima anugerah Nobel Aung San Syu Ki yang seolah tutup mata bahkan bungkam terhadap kasus yang menimpa muslim Rohingya. Apapun alasannya, sikap diam Aung San Syu Ki jelas tidak dibenarkan, karena akan membuat penganiayaan terhadap muslim Rohingya makin merajalela.

“Sejak awal saya tidak setuju pemberian nobel perdamaian terhadap Aung San Syu Ku, bagaimana mungkin hanya gara-gara dipenjara ia mendapatkan nobel perdamaian? Sedang kasus kemanusiaan di depan matanya tidak bisa berbuat apa-apa,” tambah Jaya Suprana.

Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas mengatakan untuk membangun karakter bangsa, agama memang tidak bisa ditinggalkan. Melalui agama, nilai-nilai yang menjadi panutan sudah ada. Di mana nilai-nilai tersebut dibuat oleh pihak yang tidak terlibat didalamnya yaitu Allah SWT.

“Dalam Islam ada enam iman, tetapi dua iman ini sangat penting yakni iman kepada Allah dan iman kepada hari akhir. Iman kepada Allah, akan membuat orang Islam menjalankan nilai-nilai apa yang sudah ditentukan Allah sekalipun tidak dilihat oleh manusia lain. Sedang melalui iman ke-6 yaitu percaya pada hari kiamat, ada unsur pertanggungjawaban manusia terhadap nilai yang dijalankan,” jelas Yunahar.

Yunahar berpendapat dalam proses keimanan seseorang ada fase atau tahapan yang dilalui, yakni iman, islam dan ikhsan. Iman berarti percaya, lalu dilanjutkan masuk ke dalam Islam dan setelah menjadi Islam, lalu berjuang untuk tetap konsisten menjalankan nilai-nilai yang diajarkan Islam.

“Nah karakter bangsa bisa dibangun dari iman dan aqidah ini. Jika kita ingin membangun karakter bangsa maka iman dan aqidah kualitasnya harus ditingkatkan,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Pembina Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) Pontjo Sutowo mengakui, agama berperan penting dalam pembentukan karakter bangsa. Karena itu, untuk mengimplementasikan agama dalam kehidupan sehari-hari, peran lembaga agama tidak bisa kita abaikan.

“Di Indonesia ada Muhammadiyah, ada Nahdlatul Ulama, ada MUI, ada Waligereja dan sebagainya. Lembaga-lembaga agama ini memiliki peran strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara meski kita sadar ada ranah negara ada ranah ulama atau tokoh agama,” kata Pontjo. (tety)