Edarkan Upal, Pria Paruh Baya Ditangkap Polisi

Rabu, 13 Sep 2017
Ilustrasi/istimewa

BEKASI (Pos Sore) – Peredaran uang palsu (upal) dibongkar polisi. Seorang pria paruh baya ditangkap petugas Polsek setelah membeli rokok pakai uang palsu di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, kemarin.

Pelaku berinisial ET, 58, warga Sukasari RT 01/04 Desa Karawang Wetan, Karawang Timur. Dari tersangka disita Rp 2,8 juta pecahan ratusan.

Kapolsek Tambun, Komisaris Bobby Kusumawardhana menjelaskan kasus tersebut terbongkar berawal saat ET membeli sebungkus rokok seharga Rp 34.000 di warung milik MR di Jalan Kenari 1 Blok C1 RT 05/15 , Desa Mekarsari, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.

Tersangka membayar dua bungkus rokok pakai uang palsu pecahan Rp 100.000 baru. “Korban yang merasa itu uang asli kemudian memberi uang kembalian ke pelaku sebesar Rp66.000,” ujar Kapolsek.

Merasa aksinya berhasil, tersangka kemudian kembali bertransaksi menggunakan upal ke warung warga lain berinisial A. Saat itu, pelaku membeli sebungkus rokok seharga Rp17.000, sehingga ET mendapat uang kembalian asli sebesar Rp83.000.

“Ketika pelaku pergi, korban A curiga dengan uang pecahan Rp100.000 yang diperoleh dari tersangka, sehingga dia menilai bahwa itu adalah upal,” ungkapnya.

A curiga dengan uang pemberian tersangka karena tulisannnya terlihat buram dan warna merahnya sangat mencolok. Bahkan tidak ada tanda air di dalam uang tersebut.

“Bahan kertas upal juga lebih kasar, tidak lembut seperti uang asli,” tuturnya. Yakin itu upal, korban A kemudian melaporkannya ke Mapolsek Tambun. Rupanya, pemilik warung lainnya MR juga melaporkan hal yang sama.

Atas laporan kedua saksi, petugas kemudian menangkap pelaku tanpa perlawanan yang tidak jauh dari rumah pelapor. “Tersangka masih diperiksa penyidik untuk mengungkap asal usul upal itu,” katanya.

Kassubag Humas Polres Metro Bekasi, Kompol Kunto Bagus menyebutkan total upal yang dibawa tersangka saat itu senilai Rp 3 juta. “Pelaku mengambil keuntungan dengan mengedarkan upal pecahan Rp 100.000,” jelasnya.

Pengakuan ke petugas ET memperoleh upal tersebut dari rekannya berinisil AM di daerah Kabupaten Bogor, Jawa Barat. AM dan ET kemudian sepakat akan membagi hasil upal uang ditukarkan itu dari hasil bertransaksi.

“Mereka sengaja menyasar warung, karena tidak memiliki alat pendeteksi upal. Berbeda bila di minimarket, sudah pasti ada alat itu,” jelas Kompol Kunto.

Akibat perbuatannya, ET terancam dijerat pasal 26 ayat 2 Undang-undang RI nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang dengan ancaman penjara selama 15 tahun. (marolop)