Lions Clubs Indonesia Distrik 307 A1 Sosialisasi Kanker pada Anak

Minggu, 24 Sep 2017

IMG-20170924-WA0021

JAKARTA (Pos Sore) — Ada pemandangan tak biasa di lapangan Museum Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Kota, Minggu (24/9) pagi. Sekitar 1000 orang yang mengenakan kaos berwarna kuning membuat pagi yang cerah itu semakin cerah. Halaman pun berubah menjadi lautan kuning.

Bukan karena ada partai politik tertentu yang tengah melakukan kampanye politik. Melainkan kampanye dan edukasi kanker pada anak yang dilakukan Lions Clubs Indonesia Distrik 307 A1. Kegiatan yang melibatkan 1000 anggota Lions Clubs Indonesia ini diwarnai dengan pelepasan balon yang juga berwarna kuning.

Hadir dalam kegiatan tersebut, yaitu Vice Distric Governer 307 A1 Sylviana Murni, Distric Governer 307 A1 Dewi Sri, Presiden Lions Club Jakarta Monas Kalingga Suzi Marsita, dan Ketua Yayasan Anyo Indonesia (YAI) Pinta Manullang Panggabean.

Koordinator Pediatric Lions Clubs Distrik 307 dr Henie Soesanto, menjelaskan mengapa kampanye dan edukasi kanker pada anak ini dilakukan. Karena ternyata, kasus kanker pada anak belum banyak tersentuh oleh media.

IMG_20170924_184808

“Kanker pada anak kasusnya banyak, jumlahnya pun meningkat dengan jenis kanker yang makin beragam. Sayangnya, perhatian masyarakat masih lebih banyak pada kanker yang menimpa orang dewasa,” papar dr Henie Soesanto, di sela kegiatan konfigurasi pita emas (Gold Ribbon Configuration) dalam rangkaian peringatan Hari Kanker Se-dunia, itu.

Karena itu, Lions Clubs mengambil inisiatif untuk mengkampanyekan dan memberi edukasi kepada masyarakat terkait kanker anak, mengingat kanker pada anak amat sulit dicegah dan dikenali.

“Tetapi jika kita menemukan kasus kanker anak sejak awal, tentu penanganannya jauh lebih mudah,” lanjut Henie.

Sulitnya masyarakat awam mengenali gejala kanker pada anak, tak heran jika sebagian besar kasus kanker pada anak diketahui sudah dalam kondisi parah atau stadium lanjut.

Dari sekian banyak kasus kanker pada anak diakui dr Henie, paling banyak adalah retinoblastoma atau kanker mata disusul kanker darah (leukemia). Kanker jenis ini paling banyak angka kesakitan maupun angka kematiannya.

Suzi Marsita, Presiden Lions Clubs Jakarta Monas Kalingga, menambahkan, kampanye dan edukasi tentang kanker anak harus melibatkan lebih banyak lagi elemen masyarakat.

“Tidak harus pemerintah, masyarakat luas dan peran swasta amat dibutuhkan untuk melakukan kampanye dan edukasi terkait bahaya kanker anak,” tandas Suzy.

Pihaknya, kata Suzy, terus mendorong perusahaan-perusahaan milik negara dan swasta untuk ambil bagian dalam kegiatan kampanye kanker anak. Kegiatan ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan dana CSR yang mereka miliki.

“Kita ajak, sektor privat untuk berperan aktif. Ayo sadari bahwa kanker anak ada di sekitar kita,” tegasnya.

IMG-20170924-WA0019

Konfigurasi pita emas sendiri sebagai lambang kepedulian terhadap kanker yang menimpa anak. “Ini adalah tahun kedua kita membuat kegiatan konfigurasi pita emas. Tahun lalu sekitar 250 orang terlibat, tetapi tahun ini meningkat hampir 1000 orang,” jelas Pinta Manullang, Ketua YAI.

Para relawan individu dan juga puluhan komunitas membentuk pita emas besar (giant gold ribbon) yang diawali dengan tarian modern dari ACS dan tarian daerah dari Sanggar Mawar Budaya, dilanjutkan dengan paduan suara Bina Vokalia yang menyanyikan lagu Aku Anak Indonesia.

Menurutnya kampanye untuk menyadarkan masyarakat akan kanker pada anak sangat penting. Ini karena kanker pada anak tidak dapat dicegah, kanker tidak menular, dan anak bukan dewasa mini. Karena itu, terapi terhadap pasien kanker anak berbeda dengan kanker pada dewasa.

“Semakin dini penanganan kanker pada anak, semakin besar kemungkinan anak dapat sembuh dari kanker,” ujar Pinta.

Pihaknya berharap dengan acara konfigurasi pita emas yang kedua ini, semakin banyak masyarakat yang peduli dengan kanker pada anak dan bersama-sama bergandengan tangan untuk menanggulangi kanker pada anak di Indonesia. (tety)